
Menikmati hari di mana ia tengah mengandung, tampaknya Bimala masih tetap merasa kurang dengan kehadiran sang ayah dan ibu. Wanita itu tampak semangat hari ini, setelah lima bulan menginjak masa kehamilan akhirnya hari ini Sari di nyatakan pulang ke Indonesia dalam keadaan pulih total.
"Sayang, ayo hati-hati." Pria yang akan menjadi sosok ayah itu kini tampak sigap menjaga sang istri. Tentu dengan tingkah yang tak berlebihan sebab beberapa bulan nyatanya Arex banyak mendapat nasihat dari dokter, mertua dan orang sekitarnya.
Bimala tersenyum, manisnya wajah wanita itu masih sama di mata Arex meski di mata para temannya Bimala selalu di katakan semakin hitam sejak masa hamil. "Rex, kau saja yang menjemput ibu keluar bandara yah? Aku menunggu di dalam mobil saja." Bimala dengan wajah sedih berusaha memohon pada sang suami.
"Sayang," Arex tampak menghela napasnya kasar.
Ini pasti perkara kulit sang istri yang gelap membuatnya insecure tampil di depan umum. Bahkan saat ini saja Arex bisa melihat bagaimana penampilan sang istri yang memakai dress semata kaki dan lengan yang panjang.
"Manis di wajahmu sama sekali tidak berkurang. Ayolah, kasihan Ibu dan Ayah lama tak bertemu malah kau tidak mau menyambut kedatangannya." bujuk Arex menuntun sang istri masuk ke mobil saat melihat Mala hanya berdiri mematung saja.
Mobil berjalan tanpa ada jawaban dari wanita hamil itu. Bimala hanya mematung dan menundukkan kepalanya. Hatinya sangat sensitif setiap kali memandang lengannya yang gelap. Entah itu hitam atau seperti berdaki. Yang jelas ia sangat membenci tubuhnya.
__ADS_1
Jika di awal kehamilan Arex yang susah payah mengurung istrinya. Akhir-akhir ini justru Arex yang susah payah membujuk sang istri untuk keluar lantaran Bimala hanya terus mengurung di kamar.
Perjalanan yang menempuh jarak empat puluh menit itu akhirnya terhenti kala mobil Arex tiba di depan pintu kedatangan Bandara. Di sana mereka melihat sepasang suami istri yang baru saja melewati pintu dengan koper yang di bawa oleh petugas yang di perintah Arex.
"Mal, hei. Itu Ibu dan Ayah. Jangan tunjukkan wajah sedihmu itu." ucap Arex menyadarkan sang istri yang sangat minder di sana.
Bimala hanya menatap ke depan, hari yang di nanti kini akhirnya tiba. Senyuman wanita hamil itu kini terbit tanpa sadar kala melihat kedatangan orangtuanya.
"Ayah, Ibu." seru Bimala merentangkan tangannya mendekat kedua orangtua yang sangat ia rindukan. Arex pun turut menyusul di belakang dengan memeluk bergantian sang mertua.
Air matanya jatuh saat memeluk Arex dan mencium kepala sang menantu. "Terimakasih, Rex. Ibu sangat berterimakasih. Ibu sudah bisa berjalan normal lagi." tutur Sari sangat senang.
Suasana tiba-tiba sangat haru tanpa memperdulikan bagaimana ramainya area sekitar. Arex hanya tersenyum bahagia. Ia sangat senang melihat sang mertua berdiri tegap di depannya.
__ADS_1
"Tidak perlu berterimakasih, Bu. Arex senang Ibu sehat. Kelak saat Mala melahirkan anak kami akan mendapat kasih sayang dari Ibu dan Ayah yang lengkap." Sebagai orang yang kesepian, Arex sadar betapa pentingnya keluarga yang lengkap di hidup setiap orang. Sebab itu ia tak hanya memberikan kehidupan yang berkecukupan materi saja pada sang anak, melainkan juga memberikan kasih sayang yang berlimpah pada mereka kelak.
Mereka berempat segera masuk ke mobil dengan barang yang sudah di tata di dalam bagasi mobil. Kini mobil pun melaju menuju kediaman Arex.
"Bu, kalian tinggal sama kami saja selamanya yah?" Arex yang memang belum membahas ini dengan sang mertua membuat kedua mertuanya saling menatap bingung.
Menjawab iya rasanya tak enak jika harus membebankan sang menantu lagi. Namun, jika menolak juga rasanya sangat berat.
"Iya, Bu. Temani Mala di rumah jaga anak yah. Bimala tidak mau pakai baby siter." jawab wanita itu menoleh ke belakang.
Dengan pertimbangan yang matang, akirnya mereka pun setuju.
"Mal, jadi apa kamu benar memutuskan untuk tidak bekerja selamanya?" hati-hati Sari bertanya bukan untuk maksud membuat sang anak kembali berambisi.
__ADS_1
Tanpa ia duga Bimala mengangguk yakin. "Iya, Bu. Mala mau jagain anak di rumah saja. Lagian dengan kulit seperti ini Mala nggak pede keluar ketemu orang-orang kantor. Lagi pula uang Arex juga nggak akan habis kok." ceritanya membuat Sari menggeleng mendengarnya.
Anaknya memang masih seperti dulu yang asal berbicara.