
Wajah wanita dan pria paruh baya kala itu tampak bersinar bahagia. Bahkan keduanya sampai membungkam mulut mereka tak percaya mendengar kabar bahagia yang Bimala sampaikan barusan.
“Ya Tuhan, Mal. Ibu senang sekali mendengarnya. Sebentar lagi Ayah dan Ibu akan punya cucu.” Sari tersenyum sangat bahagia.
“Yah, ayo kita pulang ke Indonesia saja. Ibu janji akan sembuh dan diam di rumah. Ibu tidak akan ikut kumpul lagi dengan teman-teman. Kan ada cucu ibu nanti yang ibu jagain.” Sari bahkan merasa sangat ingin pulang.
Tak perduli bagaimana kemewahan pelayanan di rumah itu, ia hanya ingin kembali ke Indonesia. Meski pun sama jika ia di sana juga akan di kawal ketat dengan anak buah sang menantu.
Sebab Arex tidak ingin satu goresan pun menyentuh tubuh sang mertua. Ia tahu, jika Mely dan Pandu tak akan tinggal diam. Senjatanya hanyalah Sari, wanita itu satu-satunya orang yang bisa menjadi alat untuk melanjutkan perjodohan konyol itu.
Mendengar keinginan Sari seketika Bimala dan Tuan Wijaya sama-sama bersuara. “Tidak, Bu. Ibu harus tetap di sana.”
“Ibu haru di sini sampai sembuh.” Tuan Wijaya bersuara.
Sari hanya mampu menghilangkan senyum dengan wajah kecewa. Bagaimana pun juga ia ingin sekali menikmati momen menjadi nenek untuk pertama kalinya. Sejak kehamilan Bimala, ia ingin melihat setiap perkembangan sang anak dan cucunya itu.
Dari seberang sana, Bimala segera berpamitan untuk menyudahi panggilannya. “Bu, Bimala tutup telepon yah? Ada teman-teman di sini.” ujarnya dan mendapat persetujuan sang ibu.
__ADS_1
Panggilan pun terputus.
Dan kini Bimala pun kembali bergabung dengan para teman-temannya. Tanpa terasa mereka menghabiskan waktu sampai siang hari.
“Mal, siapa tuh?” tanya Leni kala mendengar ada suara mobil di halaman rumah itu.
Mala dan lainnya ikut mendengarkan. “Entahlah,” acuh Bimala kembali menikmati cemilan kue brownis.
“Sayang, aku pulang!” Arex berseru dari arah depan dengan beberapa orang di belakangnya membawakan banyak belanjaan.
“Arex, kok pulang?” Pertanyaan Bimala sontak menyurutkan senyum bahagia di wajah Arex.
“Babang oli,” senyuman serentak terlihat di wajah para wanita itu.
Bimala mendelik kesal mendengarnya. “Rex, apa itu? Kau tidak bekerja?” tanya Bimala.
Seluruh belanjaan yang ternyata adalah perlengkapan wanita hamil. Sontak senyuman Arex yang terbit kembali di balas dengan wajah Bimala yang tercengang.
__ADS_1
“Rex, ini untuk wanita hamil. Kau membeli semuanya?” tanya Bimala tak tahu lagi harus berkata apa.
Dengan wajah tanpa dosa Arex menjawab. “Itu hanya ku ambil di store terbesar milikku, untuk apa aku membelinya?”
“Ih lumeer…” seru keempat teman Bimala yang mendengar bagaimana mudahnya Arex memenuhi perlengkapan sang istri tanpa harus mengeluarkan keringat banyak untuk mencari uang.
Hari pertama kedatangan para sahabat Bimala kini telah usai. Karena Arex hanya mampu bekerja setengah hari. Sungguh meski ia sudah menyewa jasa teman-teman sang istri untuk menjaga Bimala, nyatanya Arex masih gelisah.
Kepergian teman Bimala ternyata semakin membuat wanita hamil muda itu ingin menangis. Bagaimana tidak? Sejak kedatangan sang suami siang tadi hingga malam ini tepatnya jam makan malam. Bimala sudah harus duduk di atas tempat tidur.
“Rex, aku ingin makan di meja makan saja. Bolehyah? Tadi siang kita sudah makan di kamar. Aku bosan di kamar terus.” rengeknya memohon.
Ini sama saja ia seperti orang sakit yang hanya di rawat dalam ruangan tanpa boleh keluar kamar. Sedang orang sakit yang sulit bangun saja masih bisa berjalan keluar melihat taman. Tapi dia yang sangat sehat, untuk keluar kamar saja tidak boleh.
“Mal, aku mohon hargai aku. Aku ingin yang terbaik untuk kalian. Aku takut terjadi apa-apa dengan kalian. Menurutlah.” Tak tega rasanya Bimala jika harus melawan sang suami.
Wanita itu hanya diam menunduk, dan Arex kini sudah menelpon pelayan untuk membawakan makan malam ke kamar serta susu hamil yang sudah ia beli siang tadi.
__ADS_1
“Iya, Bi. Untuk malam yang rasa strowberry saja. Biar lebih segar.” Jelas Arex.
Bimala ingat, siang tadi ia meminum susu hamil rasa vanila.