Ketulusan Sang Dewa

Ketulusan Sang Dewa
Seorang Dewa


__ADS_3

Sesuai janji Arex pada sang mertua, jika ia akan mengusahakan apa pun untuk menyembuhkan sang mertua.


Setelah perjalanan yang tidak memakan waktu lama, kini banyak perawat yang membantu menyambut kedatangan Sari di depan dengan mobil ambulance.


Cukup sulit karena harus pindah ke ambulance saat dari helikopter. Tetapi yang terpenting, Sari bisa segera di periksa dan di tangani.


“Ayah, Ibu tidak mau lumpuh. Ibu takut jika kaki Ibu di potong.” Berbagai pikiran buruk kini menguasai kepala wanita paruh baya itu.


“Itu tidak akan terjadi, Bu. Arex pasti mampu membantu Ibu, rumah sakit ini pasti akan melakukan yang terbaik.” ujar Tuan Wijaya meyakinkan sang istri.


Mata sedih ketakutan Sari kini beralih ke arah sang mertua seolah meminta kebenaran akan perkataan sang suami barusan. Dan Arex paham itu.


“Iya, Ayah benar. Ibu jangan takut. Sekali pun di sini tidak bisa melakukan yang terbaik, kita akan berangkat keluar negeri. Kita cari rumah sakit terbaik untuk Ibu.”


Sungguh penyesalan membuat Sari seketika hilang rasa malu yang tersisa hanyalah rasa sakit menyadari ia begitu kerasnya pada Arex.


Isak tangisnya semakin dalam bukan karena sakit di tubuh, melainkan ia tidak tahu harus meminta maaf dengan cara pada suami anaknya.


“Bu, tahanlah. Ibu harus kuat.” tutur Bimala memberi semangat.

__ADS_1


Sari menganggukkan kepalanya.


Dan akhirnya mereka berpisah pada sebuah ruangan dimana Sari akan mendapatkan pemeriksaan secara menyeluruh. Dan semua keluarga hanya bisa menunggu di depan ruangan.


“Arex, terimakasih. Ayah benar-benar berhutang budi padamu.” Tuan Wijaya tak bisa membayangkan jika sang menantu tak ada di sisinya.


Di saat ia dan Bimala rapuh, Arex dengan segala pemikiran matangnya bergerak cepat mengambil keputusan dan tanpa hambatan. Membawa sang mertua pindah rumah sakit.


“Iya. Arex, terimakasih banyak. Maafkan sikapku dan Ibu selama ini. Aku benar-benar malu.” Bimala menunduk menyesali apa yang ia lakukan.


Arex hanya mengangguk. “Ibu adalah ibuku juga. Menikahimu dan menerima semua yang ada pada mu itu juga termasuk menerima keluargamu. Aku tulus mencintaimu, Bimala.”


Sungguh ia tidak menyangka jika cinta Arex begitu besar padanya.


“Lalu, wanita itu?” tanyanya dengan wajah menekuk sedih bercampur ngambek.


Arex tersenyum mendengar pertanyaan sang istri.


“Dia hanya wanita yang datang untuk ujian kita. Dia bukan siapa-siapa hanya teman masa remaja dan berharap pada janji anak remaja. Aku dulu tidak tahu apa itu pernikahan. Dengan polosnya kami berkomitmen untuk bersama, tanpa tahu apa itu cinta.”

__ADS_1


Tuan Wijaya yang mendengar percakapan anak dan menantu terkekeh di tengah rasa khawatirnya.


“Mala, kalian itu sudah menikah. Perjuangan Arex mendapatkan kamu, tidak sepantasnya kamu masih menaruh curiga.” ujar Tuan Wijaya.


“Ayah, masalahnya mereka pergi bersama tanpa Mala tahu kemana dan ngapain saja.” sahut Bimala tidak terima.


Dan Arex pun tahu saat itu dimana dia. “Namanya Susan. Dia pergi keluar negeri untuk berobat penyakit yang mematikan. Dan setelah keadaannya membaik, dia kembali lagi. Tapi, aku tidak tahu. Saat bertemu di kantor dia tiba-tiba tidak sadarkan diri…”


Mendengar semua cerita Arex, Bimala sampai meneguk kasar salivahnya. Miris memikirkan perasaan wanita yang begitu mencintai sang suami.


Bahkan ia merasa sadar, Bimala seperti tidak bisa mensyukuri jalan yang Tuhan berikan. Mendapatkan cinta seorang Arex begitu besar tanpa ia mengejar cintanya.


Di luar sana, Bimala sadar sang suami pasti akan banyak yang mengejar cintanya.


“Tuhan, apakah aku bermimpi Kau mengirimkan aku pria seperti seorang dewa yang begitu mencintaiku dan keluargaku? Apakah Arex tidak akan meninggalkanku jika ia menemukan malaikat berwujud manusia di luar sana?” batin Bimala mulai takut akan kehilangan sang suami.


Sama halnya di ruangan tempat pemeriksaan. Tubuh Sari berbaring biring untuk melakukan pemeriksaan setelah ia berbaring telentang.


Pikiran yang masih sadar membuatnya memikirkan bagaimana pria yang menjadi menantunya begitu baik mengusahakan kesembuhan untuk dirinya.

__ADS_1


“Mengapa menantuku yang selalu ku injak harga dirinya begitu baik padaku? Tuhan, apakah menantuku seorang dewa yang memiliki hati begitu besar untuk menyayangi sesama? Aku tidak sedang bermimpi kan mendapatkan pertolongan darinya?” Tatapan sedih terlihat jelas di kedua bola mata Sari.


__ADS_2