Ketulusan Sang Dewa

Ketulusan Sang Dewa
Lepas Kandang


__ADS_3

Hampir dua hari menatap ruangan yang hampa, kini akhirnya tawa terdengar pecah dari sosok wanita hamil muda itu. Mendapatkan ijin dari sang suami untuk menikmati hari di luar bersama para temannya sungguh Bimala lega. Yang terpenting ia tidak lagi di kurung di rumah saat ini.


Selama di perjalanan, Bimala tertawa bersama para temannya.


"Mal, jadi kita harus memanggilmu apa ini? Masih tetap Mala atau nyonya boss? Secara yang gaji kita suami lu. Ya nggak temen-temen?" celetuk Leni mengingat mereka saat ini hanya bertugas menjadi pengangguran bergaji fantastic.


Lagi pertanyaan Leni di sambut tawa oleh mereka semua saat itu.


"Hahaha kalian benar-benar yah? panggil Mala aja dong. Kita kan temenan." sahut Bimala sembari menggelengkan kepalanya.


Perjalanan menuju sebuah mall terbesar yang memerlukan waktu kurang lebih dua puluh menit kini akhirnya sampai juga. Mereka semua sudah bergerak turun dari mobil masing-masing. Manik mata Bimala entah mengapa terfokus pada salah satu butik ternama yang berharga dengan jumlah tak main-main pula.


"Mal, ayo." ajak Rosa menyadari Bimala yang berjalan ke arah lain.


Padahal di jalan tadi mereka sudah menyusun arah tujuan mereka dari awal hingga  akhir. Yang jelas untuk bersenang-senang setengah hari ini sebelum Arex pulang dari kantor.


"Bentar dong. Mau kesana dulu." Bimala menunjuk arah depannnya. Dengan begitu para teman wanita itu menoleh ke arah yang di tunjuk.


"Lu yakin, Mal? Mau kesana? Itukan barang mahal. Setau kita lu nggak suka merk itu, kalau mau pun biasa yang kw." Bimala sempat terkekeh mendengar celetukan sang teman yang terlalu jujur.


Namun, entah mengapa saat ini Bimala merasa matanya tiba-tiba berbinar melihat deretan tas yang bling-bling di depan sana. Sungguh Bimala ingin membawa semuanya pulang.


"Mal, yasudah kalau mau ayo cepetan beli. Keburu waktu kita habis. Gue laper banget nih." Mereka segera menuntun Bimala layaknya para dayang yang melayani Bimala saat itu.

__ADS_1


Kedatangan mereka kala itu di sambut hangat serta semua mendapat kaus tangan agar tidak merusak barang yang ada di sana.


"Wah keren nih. Ini juga sama yang itu juga bagus banget. Guys, tolong bantu bawain ini, ini, sama yang itu, sama yang di sana tuh warna coklat." Bimala menunjuk layaknya menunjuk cemilan yang tergantung di rentengan kantin sekolah.


Semua temannya membuka mulut mereka melihat selera sang teman yang terlalu boros usia menurut mereka.


"Ini passion lu, Mal?" tanya Rosa merasa tak percaya.


Nara yang sadar segera berbisik pada sang teman. "Bawaan hamil kayaknya. Sudah layani saja." Rosa pun mengangguk patuh.


Mereka kini menuju kasir dan Bimala memberikan kartu tanpa batas yang di beri sang suami tadi. Empat tas yang benar-benar kontras menurut ke empat wanita itu akhirnya mereka bawa keluar setelah selesai pembayaran.


Senyuman Bimala terbit dengan sangat puas tanpa dosa. Bahkan ia sama sekali tidak bertanya berapa harganya.


"Enak yah ngidamnya orang kaya. Gue juga nanti kalau dapat laki kaya mau ngidam yang mahal-mahal." ujar Wanda yang sedari tadi diam saja.


Wanda hanya tersenyum menampilkan giginya dan menghilangkan matanya ketahuan berbohong. Bimala acuh ia terus berjalan bersama Rosa paling depan mereka menuju tempat pizza.


"Loh loh kok pizza? Tadi bukannya mau ramen, yah?" mereka bingung semua lagi-lagi Bimala berbelok tanpa bertanya lagi.


"Guys, kayanya enak makan yang pedes-pedes ini. Aduh akju ngiler banget tau." Bimala sampai mengecapkan mulutnya menahan rasa ingin makan ramen.


"Sudahlah Nyonya boss pegang kendali." Nara bersuara pelan namun Bimala masih mendengar.

__ADS_1


"Nanti dari sini, kalau kalian masih pengen pizza kita bisa mampir kok." ucap Bimala tanpa beban.


Semua temannya tercengang mendengar ucapan Bimala. Hingga akhirnya mereka berjalan menuju tempat ramen yang lumayan banyak pengunjung.


Terdengar beberapa kali ponsel Bimala berdering, namun wanita itu acuh. Ia terus memperhatikan ke arah orang yang tengah menyajikan ramen pada meja pengunjung lainnya. Beberapa kali ia meneguk kasar salivahnya.


"Sabar, Mal. Ngidam lu masih bisa lu tahan kan? Jangan bikin yang aneh yah? Kita di sini perempuan semua nggak ada suami lu, Mal." Tatapan Rosa merasa ada yang aneh dengan Bimala yang melihat terus meja di depan mereka.


Lantaran tempat itu sedikit ramai, jadi mereka sedikit lama pula menunggu pesanan datang ke meja makan.


Hingga akhirnya Nara berinisiatif menutupi pandangan Bimala.


"Eh Mal, itu ponsel lu bunyi terus." ucap Leni menyadarkan Bimala.


Segera tangan Bimala mengangkat panggilan video dari sang suami. Jika di sini Bimala bersenang-senang. Bedan halnya dengan Arex yang di kantor tampak gelisah. Pria itu nyatanya berusaha kuat untuk tidak khawatir dengan sang istri, sayangnya tangannya tidak bisa di kontrol untuk menghubungi sang istri.


"Sayang, dimana? Sudah sampai?" tanya Arex begitu serius.


Keempat teman wanitanya saling terkekeh menunjuk belanjaan Bimala. "Bukan sudah sampai lagi, Rex. Tapi sudah ngambil banyak nominal uang mu." batin mereka merutuki bucinnya suami sang teman.


"Iya, sudah Rex. Ini lagi mau makan." jawab Bimala tenang.


Arex tersenyum tenang. "Yasudah kalau begitu jangan capek-capek yah. Segera pulang jam setengah 12 nanti." pintah Arex tetap penuh kasih sayang.

__ADS_1


Bimala mengangguk dan tersenyum.


Panggilan pun berakhir dan Arex mulai fokus bekerja. Meski perusahaan sendiri ia tidak bisa selamanya main-main seperti itu. Nasib perusahaan, nasib ribuan karyawan bergantung pada sikap Arex tentunya.


__ADS_2