Ketulusan Sang Dewa

Ketulusan Sang Dewa
Patuh


__ADS_3

Hari itu, wanita yang biasa selalu memakai pakaian formal dengan rok span selutut serta tampilan wajah yang memukau berbeda dari biasanya.


Bibir mungil milik Bimala mengerucut kesal saat kedua tangannya sudah terasa pegal menyetrika banyaknya gantungan pakaian yang berharga fantastik.


“Haaah kenapa belum selesai-selesai sih? Arex benar-benar keterlaluan. Mau ke kantor aja harus lewatin pekerjaan ini dulu. Ibu…tolongin Mala, Bu.” jeritnya mengeluh. Bahkan keringat pun sudah sangat deras mengucur di dahinya.


Sesuai ancaman sang suami. Karir yang ia miliki bisa hancur seketika jika Arex menginginkannya. Dan pergi dari rumah pun hanya atas ijinnya.


“Kenapa dia berubah sih? Kemarin sangat perhatian, lembut. Tapi sekarang kenapa jadi sebaliknya?”


Tak henti-hentinya Bimala terus mikirkan sosok sang suami.


Sedangakan di kamar yang tampak sangat luas dengan desain interior yang begitu mewah, sosok pria kini sudah memakai jasnya di bantu beberapa pelayan pria.


Tatanan rambut pun kini sudah tampil sempurna, Arex menatap pantulan dirinya di cermin besar. “Sarapan sudah siap, Tuan. Apa mau di bawa ke kamar?” tanya salah satu pelayan kala melihat Arex sudah selesai dengan penampilan dan persiapan lainnya.

__ADS_1


“Tidak. Biar saya sarapan di bawah saja. Panggilkan wanita itu.” titah Arex kemudian melangkah keluar kamar di ikuti beberapa pelayan pria.


Pemandangan indah pagi untuk pertama kalinya di mata Bimala. Wanita yang tengah melangkah menuruni anak tangga tampak terpukau melihat pemandangan di bawah sana. Beberapa pria berjalan bersama dengan satu pria yang paling dominan di depan. Sungguh sangat tampan. Sempurna.


Tak ada lagi celah bagi Bimala untuk melihat sisi kurangnya suami yang selama ini membuat jantunganya berdetak tidak karuan.


“Mari Nona,” Suara pria yang berdiri di belakang Bimala seketika membuyarkan lamunan wanita itu.


“Eh iya.” sahut Bimala gugup.


Sesuai perinta dari sang tuan, Bimala ikut menemui pria itu di ruangan meja makan. Berbagai hidangan dan alat sarapan lengkap. Pisau, sendok, dan juga garpu.


Mata Arex bergera seolah memberi perintah dan semua pelayan pun mengangguk serta melangkah menjauh. Tinggal Bimala yang berdiri tanpa suara.


“Mandilah dan segera turun sarapan.” titah Arex yang langsung membuat Bimala mengangguk patuh.

__ADS_1


Wanita itu melangkah segera, namun Arex kembali bersuara.


“Hanya 10 menit.” Sontak tenggorokan Bimala meneguk salivahnya kasar.


Bersiap macam apa itu hanya 10 menit? Mandi saja Bimala membutuhkan waktu 15 menit. Sungguh, ia benar-benar kesal pada Arex. Melawan? Tentu saja ia tidak berani.


Bagaimana pun Arex memiliki kekuasaan lebih dari segalanya. Jika Bimala memikirkan karirnya, tentu ia tidak sebodoh sebelumnya untuk bertindak sesuka hati.


“Baik.” jawabnya kemudian.


Kini mata Arex bergerak mengikuti pergerakan langkah sang istri yang di bawa oleh pelayan untuk menuju kamar tamu.


What? Kamar tamu? Bimala tidak habis pikir.


“Kenapa aku kaget? Bahkan di rumah saja aku lebih parah menaruhnya di kamar pelayan?” batin Bimala menyadari kesalahannya pada sang suami.

__ADS_1


Tubuh letih yang ia rasakan kini tak membuatnya hilang semangat untuk tetap pergi ke kantor. Bagaimana pun ia sangat mencintai pekerjaannya. Bimala tidak ingin menjadi wanita yang hanya berdiam diri di rumah.


Di tambah kini ia sadar siapa suaminya? Jika tidak menjadi wanita yang serba bisa, ia yakin sang suami akan tergoda oleh wanita di luar sana.


__ADS_2