
Sejak kabar kehamilan Bimala, sejak saat itu pula Arex tak lagi membiarkan sang istri keluar rumah. Ini adalah hari kedua mereka mengetahui Bimala hamil dan pagi ini Arex bersama sang istri tampak berdebat di depan rumah.
"Rex, aku mau ke kantor. Aku ngapain di rumah? Lagi pula ini kehamilanku masih sangat kecil, Rex. Aku bukan wanita yang sudah mau melahirkan." rengek Bimala membuat Arex memijat kepalanya.
Hari ini ia ada pertemuan penting pagi, jangan sampai hanya karena sang istri ia harus terlambat.
"Mal, tolong menurutlah. Aku mengerti yang terbaik untukmu. Diam diri di rumah dan suruh pelayan untuk melayanimu selama aku tidak ada." ucapnya lembut.
Bimala sangat marah. "Rex, apa harus mengurungku di rumah seperti ini? Aku terbiasa dengan bekerja. Aku bisa stress, Rex."
Tak ada kata penolakan untuk calon papah muda ini, Arex menggendong tubuh sang istri masuk ke rumah dan mendudukkan Bimala di sofa.
"Sebentar lagi mereka akan datang. Diamlah di sini." pintahnya membuat kening Bimala mengernyit heran. Matanya ikut menatap arah pandang sang suami. Keningnya pun mengernyit heran.
"Mereka? Mereka siapa, Rex?" pertanyaan Bimala saat itu memunculkan perasaan tidak enak di hatinya. Jangan sampai sang suami melakukan hal konyol lagi.
Tak berselang lama dari ucapan Arex, suara mobil terhenti dan terbuka beberapa pintu membuat Bimala tak sabar melihatnya. Mungkin orangtuanya sudah sembuh dan kembali? Tapi rasanya tidak mungkin. Karena baru pagi tadi sebelum mengantar sang suami ke depan pintu, mereka tampak bertelponan.
__ADS_1
"Bimala!!"
Seruan kompak terdengar di telinga seluruh penghuni kediaman Arex. Dia adalah keempat teman Bimala yang berlari dengan wajah ceria memasuki kediaman megah itu. Begitu melihat siapa yang datang, Bimala sontak menatap sang suami yang tersenyum padanya.
"Buat temanin istriku di rumah. Bagaimana?" Arex bertanya dengan wajah tanpa dosanya.
Bimala menghembuskan napasnya kasar dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. Suaminya benar-benar ingin membuat Bimala darah tinggi.
"Rex, aku bahkan jauh lebih tenang kalau di rumah dengan pelayan saja. Mereka itu pasti kesini bukan buat aku, tapi buat kamu."
"Kalian, kenapa kesini?" ketus Bimala bersedekap dada menatap satu persatu temannya.
"Mal, kita kesini buat keponakan kita loh. Kok lu gitu sih?" tanya Rosa yang melihat raut tak suka Bimala dengan kedatangan mereka.
"Keponakan atau papahnya keponakan kalian?" tajam tatapan Bimala seolah mengintimidasi mereka semua.
Keempat wanita itu saling menyiku melihat bagaimana Bimala menatap mereka bergantian, hingga akhirnya keheningan itu terpecah saat Arex menyadari ia harus segera berangkat.
__ADS_1
"Sayang, aku ke kantor dulu. Ingat tetap di rumah sampai aku pulang yah?" ujar Arex memberi peringatan sang istri.
Bimala tercengang mendengar penuturan sang suami, namun Arex yang sudah mencium keningnya dan mengusap kepala wanita itu membuat Bimala tak lagi sempat berucap protes.
"Semoga hari ini cepat berlalu." begitulah harapan Bimala saat melihat sang suami pergi menjauh dengan jas dan tas kantornya.
Seperginya Arex dari rumah itu, kini Bimala duduk bersama para temannya dengan santai. Seperti biasa mereka akan sangat ramai jika sudah bertemu. Hingga tiba-tiba Bimala ingat jika harus memberi kabar bahagia ini pada kedua orangtuanya di Singapur.
"Mal, selamat yah. Lu bentar lagi jadi ibu." Rosa memeluk Bimala.
"Iya, Mal. Selamat atas kehamilan pertamanya yah. Semoga anak lu hasilnya bagus." celetuk Nara yang membayangkan bagaimana lucunya anak sang teman jika mengikuti wajah sang ayah.
"Asal jangan ngikut lu aja, Mal. Kasihan nanti kayak orang habis hidup di pulau bertahun-tahun." Leni terkekeh dan membuat semuanya menatap tajam padanya.
Saat menyadari sorot mata sang teman-teman, Leni membungkam bibirnya. Yah, peringatan Arex adalah, 'jangan membuat mood istriku rusak karena itu akan pengaruh pada bayiku.' Dan mereka tidak ingin melanggar perintah Arex sang boss.
"Kalian lanjut dulu deh. Gue mau kabarin Ayah sama Ibu dulu." ujar Bimala.
__ADS_1