Ketulusan Sang Dewa

Ketulusan Sang Dewa
Jeritan Bimala


__ADS_3

Kesal tentu saja, Bimala tidak menyangka jika pesona Arex sampai membuat para temannya segila itu.


“Sekarang Arex punyaku, dan kalian tidak ada yang boleh mengincar dia lagi. Enak saja. Awas saja siapa pun yang aku tahu cari suami aku lagi atau liat wajah suamiku, kalian akan tahu akibatnya.”


Percakapan dan omelan Bimala saat itu terhenti saat beberapa pelayan datang dengan menu yang sudah mereka pesan dengan catatan.


“Siapa yang paling ngebet sama suamiu kemarin?” Manik mata Bimala melihat satu persatu temannya.


Kali ini telunjuk para wanita itu bergerak serentak menunjuk satu arah.


“Lah kok gue sih?” Wanda takut-takut melihat tatapan tajam Bimala.


Meski mereka semua berteman tentu saja tidak menutup kemungkinan taring Bimala tiba-tiba naik. Masalah kali ini sangat sensiti, yaitu suami tampannya.


“Kali ini aku ampuni kalian, dan kamu Wanda yang wajib bayar ini semua sebagai hukuman. Awas yah aku tahu kamu ngejar suamiku lagi! Aku kasih tato permanen di jidat kamu tulisan pelakor. Mau?” Ancaman Bimala yang terdengar serius mendapat gelengan kepala Wanda secepat kilat.


“Ampun, Mal. Gue kan cuman kagum sama ciptaan Tuhan. Lagian salah lu juga nggak mau ngakuin dari awal. Tahu suami lu kita nggak akan mau melirik kok.” Wanda yang ciut masih berani menyalahkan Bimala meski suaranya terdengar memelas.


Bimala memilih menghela napas kasar dan memulai makan. Mereka semua menikmati makan kembali dengan tawa ceria seperti biasa.


“Untung aja bukan restauran yang biasa, kalo nggak bisa tekor gue.” batin Wanda melihat porsi makanan teman-temannya.


Mereka bercerita banyak hal yang tentunya tetap di dalam lingkaran seorang Arex. Rasa penasaran membuat teman-teman Bimala terus tak kehabisan topik untuk bertanya.


Hingga Bimala yang merasa enggan terlalu terbuka dengan temannya mengenai sang suami memilih mengirim pesan pada sang suami untuk memberi tahu ingin pulang naik taksi saja.


“Rex, aku mau pulang naik taksi saja. Kamu semangat kerja di kantor yah,” ucapan di dalam pesan singkat itu terkirim dan sedetik berikutnya ponsel milik Bimala berdering.


Keningnya berkerut melihat benda pipih itu menampilan nama Arex yang menelpon.


“Halo,” sapa Bimala.


“Tuh?”


“Pasti dia tuh.”


Bisik-bisik teman Bimala saat tahu Bimala menerima telepon. Dan semua mendekatkan telinga mereka pada ponsel Bimala.

__ADS_1


“Hah? Kamu di depan? Yasudah aku langsung keluar kita pulang langsung.” Bimala menutup telepon buru-buru dan memasukkan ke dalam tas.


Matanya melihat senyum-senyum kikuk di wajah temannya.


“Aku balik duluan. Jangan ada yang keluar dari sini sebelum aku bener pergi.” Peringat Bimala yang benar-benar merasakan cemburu melihat tingkat kekepoan sang teman.


Keempatnya hanya tersenyum tak ada yang menjawab. Bimala berlalu sedikit cepat melangkah.


“Duh Arex pake keluar mobil segala lagi!” umpatnya kesal melihat betapa silaunya ketampanan sang suami yang tersorot sinar matahari itu.


“Sayang,” Arex ingin menghampiri sang istri, namun Bimala secepat kilat mendorong suaminya masuk ke mobil sembari menoleh ke arah cafe.


Benar saja di sisi pintu cafe itu ada empat kepala yang sudah berjejer menyembunyikan badan mengintip Bimala dan Arex.


“Ada apa hei?” Arex bertanya saat melihat wajah sang istri yang kesal di dalam mobil.


Bimala bahkan meminta pendingin mobil itu di naikkan kembali. “Kamu kok keringetan begitu?” Arex bertanya lagi.


“Rex, please jangan tanya dulu. Mood aku benar-benar rusak. Diem dulu, mending kita cepat pulang.” jawab Bimala dingin.


Keheningan tercipta selama perjalanan hingga sampai di rumah. Tanpa sadar Bimala yang lelah menahan emosi ternyata sudah terlelap di samping Arex.


Bibir yang terbuka dengan sedikit suara ngorong membuat Arex terkekeh lucu. Sangat manis di matanya.


“Kamu ada-ada saja sih tingkahnya.” tuturnya sembari mengangkat tubuh sang istri menuju ke rumah dan meletakkannya di kamar.


Posisi Bimala yang tidur nyenyak di kasur membuat Arex tidak rela untuk meninggalkan sang istri. Ia menatap wajah manis di depannya dengan warna kulit yang tidak secerah dirinya.


Namun, terkesan sangat manis di mata Arex. “Semakin hari aku semakin mencintaimu, Mal. Aku tidak tahu mengapa cinta itu bisa tumbuh sebesar ini padamu?” ujarnya lirih.


“Permisi Tuan, anda memanggil saya?” tanya pelayan yang mengetuk pintu tak tertutup itu.


Arex menoleh. “Iya, Bi. Tolong persiapkan semua alat-alat make up istri saya dan lainnya. Bawa baju seadanya yang masih terbungkus di sana. Biar nanti kami belanja di sana saja agar tidak repot.” pintah Arex pada sang pelayan.


Dengan sigap pelayan itu menyusun beberapa peralatan kecantikan sang Nyonya yang di tunjuk Arex.


“Facial wash di kamar mandi ada yang masih baru, Bi. Itu lipstiknya jangan yang sama warnanya. Bawakan semua beda warna, parfum yang botol hitam seperti heels itu saja. Jam tangan bawa beda warna juga yah, Bi. Catok rambut jangan lupa, nanti bisa repot dunia Mala kalau sampai tertinggal.” Dan masih banyak lagi Arex memberi perintah sang pelayan.

__ADS_1


Cinta yang begitu besar membuat pria itu sampai hapal apa saja yang selalu Bimala gunakan dan yang tidak. Baginya hidupnya sepenuhnya adalah untuk sang istri.


“Ya Tuhan, Tuan Arex benar-benar sampai hapal. Ini suami benar-benar idaman. Segala cream saja dia tahu.” batin pelayan itu benar-benar salut pada Arex.


Jarum jam bergerak begitu cepat rasanya. Kini tanpa sadar Bimala melewati waktu panjang saat tidur.


“Hoaaam…kenapa rasanya lemes sekali sih?” tanyanya lirih sembari menggeliat di atas tempat tidur.


“Hah?” Seketika ia terkejut melihat wajah tampan Arex yang sudah di depannya dengan terpejam.


“What jam 8 malam? Aku tidur selama itu?” Bimala terperanjat kaget dan duduk.


Ia melihat pakaiannya masih sama seperti siang tadi.


“Ini pasti gara-gara emosi sama mereka tenagaku sampai habis dan aku tertidur selama ini? Arex kenapa tidak membangunkan aku sih? Kan harus siap-siap buat besok.” keluhnya setengah menggerutu.


Sigap ia pun bangun dari tidurnya dan bergegas mandi.


“Mau kemana?” Pertanyaan Arex menghentikan langkah Bimala yang hendak menuju kamar mandi.


“Mau mandi, sudah malam banget Rex. Kamu nggak bangunin aku.” tutur Bimala memegang handuk yang ia lilit asal di tubuhnya.


Mata Arex yang belum sepenuhnya terbuka menjadi terang saat melihat kemolekan tubuh sang istri.


Ia pun bangun dan melihat Bimala hanya diam mematung. Entah kenapa tatapan Arex saat ini seperti begitu mendebarkan.


Dua kaki Bimala saling menginjak menahan debaran jantungnya.


“Mal, aku…” ucapan Arex serak dan ragu. Mereka berdua bertatapan begitu dalam.


Bimala tak bergerak sama sekali kecuali kakinya di bawah sana.


“Boleh aku-“


“Aaaaaa!” Teriakan Bimala tiba-tiba membuat Arex menghentikan ucapannya.


Handuk yang melilit tubuh wanita itu jatuh tanpa ijin. Tangan yang menggenggam ujung handuk tanpa sadar terlepas karena terlalu gugup saat kedua tangan Arex bertengger di bahu Bimala.

__ADS_1


__ADS_2