
Hingga sore menjelang, indahnya langit yang bersinar dengan pantulan matahari yang mulai terbenam kini mengantar kepulangan wanita manis dengan bibir mengerucut sebal sepanjang jalan.
Bagaimana tidak? Jika harapannya sang suami akan pulang bersamanya ke rumah, dan ia pun akan melayangkan berbagai pertanyaan pada sang suami, nyatanya saat ini ia hanya duduk seorang diri di belakang.
“Arex benar-benar keterlaluan. Kalau aku tidak bisa bertemu dan menghubunginya, lebih baik aku pergi dari rumahnya saja.” batin Bimala mengumpat sembari bersedekap dada.
Matanya terus memperhatikan jalanan yang padat sore itu.
“Pak, ke rumah Ayah saya saja.” pintah Bimala.
“Baik, Nyonya.” sahut sang supir patuh.
Di luar dugaan Arex jika sang istri berani pulang ke rumah tanpa ijin darinya. Ini semua tentu saja di luar dugaan jika ia akan berpisah dari Bimala untuk hari ini.
Mobil pun melaju menuju kediaman Tuan Wijaya. Seperti sebelum kepergian Bimala dan Arex. Rumah itu masih tampak sunyi seperti tak berpenghuni.
Mobil masuk mengantar Bimala sampai di depan rumah sang ayah. Kedatangannya pun seketika di sambut Tuan Wijaya dengan wajah datar dan kening mengernyit heran.
__ADS_1
“Mala,” sapa pria paruh baya itu.
Tak ada salam atau pun senyuman hangat Bimala berikan pada sang ayah. “Mana Ibu, Yah?” tanyanya menelisik tak ada sang ibu menyambutnya.
“Ibumu masih belum pulang sejak malam itu, Mala. Lagi pula ada apa kau kemari sedangkan baru kemarin kalian pulang? Dimana…”
“Ayah, sudahlah. Aku lelah, kenapa harus banyak bertanya padaku?” Bimala masuk usai meraih tangan ayahnya dan mencium punggung keriput itu.
Ia menuju kamarnya di lantai dua, Tuan Wijaya melihat sikap putrinya tampak mengkhawatirkan. Helaan napas pria itu keluar begitu saja.
Sesampai di dalam kamar, Bimala melempar tasnya dan merebahkan tubuh sejenak di atas kasur empuknya. “Argh! Menyebalkan. Siapa sih wanita itu? Baru datang bahkan membuat Arex sampai tidak perduli lagi padaku.”
Kegelisahan terus menyerang hati Bimala sore itu. Hingga tanpa sadar matanya pun terpejam karena kelelahan. Untuk pertama kalinya ia mengerjakan hal yang tidak pernah ia kerjakan.
Hingga malam menjelang ia pun masih bergelut dengan selimut yang menutup tubuhnya.
Tanpa ia tahu di sisi yang berbeda. Sebuah mobil mewah telah memasuki halaman rumah megah. Tak asing lagi bagi Arex mendapatkan sambutan beberapa pelayan di rumah pribadinya.
__ADS_1
Belum turun dari mobil, matanya menatap sekeliling. Masih tak ada mobil yang terparkir di halaman rumah khusus untuk sang istri.
“Apa mereka belum pulang? Tapi kemana? Tidak mungkin jam segini mobil sudah di garasi, aku sudah memerintahkan bukan?” tanya Arex pada dirinya sendiri.
Supir yang bertugas untuk mengantar sang istri pun belum memberikan kabar padanya.
Segera Arex menelpon Pak Amir.
“Halo, Tuan.” Sapa seorang pria dari seberang telepon.
“Dimana istriku, Pak? Kenapa semalam ini belum pulang?” tanya Arex cemas.
“Masih di rumah ayahnya Nyonya Bimala, Tuan. Saya di mobil nunggu dari tadi. Mulai sore tepatnya, Tuan.” lapor sang supir yang masih setia menunggu di halaman rumah.
Ia pikir, Bimala hanya ada keperluan. Nyatanya, wanita itu tengah menikmati mimpi indahnya hingga malam tiba.
Arex yang berjalan melangkah ke rumah memijat keningnya kesal.
__ADS_1