Ketulusan Sang Dewa

Ketulusan Sang Dewa
Kehebohan


__ADS_3

Sesuai waktu yang sudah di tetapkan rumah sakit, akhirnya hari ini pesawat membawa dua orang menuju ke Singapur.


“Ibu, Ayah, hati-hati yah. Segera kabari Mala.” Perpisahan di bandara membuat mereka begitu sedih.


Pasalnya Arex dan Bimala tidak jadi ikut dan akan menyusul berikutnya.


“Maafkan Arex, Ibu. Secepatnya kami menyusul. Semua sudah Arex siapkan di sana.” Arex menyesal rasanya karena ada pertemuan yang tidak bisa di wakilkan oleh asisten pribadinya.


Senyuman terukir di wajah Sari saat itu. Air matanya menetes. “Tidak apa-apa, Rex. Ini sudah lebih dari cukup, Nak. Terimakasih dan maafkan Ibu sekali lagi yah?” Suara parau terdengar dari bibir pucat wanita paruh baya yang duduk di kursi roda itu.


Arex membalas senyuman sang mertua dan kini Tuan Wijaya mulai berjalan mengikuti kursi roda sang istri yang di dorong pihak bandara menuju pesawat.


Bimala menatap kepergian kedua orangtuanya dengan mata yang berkaca-kaca. Sedih rasanya tak bisa menemani mereka berobat, tetapi Arex di sini juga berjanji akan membawanya segera setelah urusan selesai.


“Ayo, Rex.” ajaknya melingkarkan tangan pada lengan sang suami.


Arex mengusap lembut rambut Bimala. “Hari ini aku langsung ke kantor. Kau tidak usah bekerja. Persiapkan keperluan kita berangkat besok.” titahnya kepada istri tercinta.


Patuh, Bimala mengangguk dan tersenyum. “Aku biar naik taksi saja tidak apa-apa.” ucap Bimala.


Arex menggeleng. “Biar kami mengantarmu lalu ke kantor.” jawabnya kemudian.


Tiba-tiba di perjalanan ponsel Bimala berdering. Arex yang mendengar pun ikut menoleh.

__ADS_1


“Rosa menelpon.” ucap Bimala yang tahu jika suaminya bertanya melalui pandangannya.


“Em,” jawab Arex mengangguk.


Saat telepon tersambung, Bimala mendengar suara riuh di seberang sana.


Tentu ia tahu the geng pasti sedang berkumpul. Terlalu sibuk bekerja, ia sampai tak punya waktu lagi untuk berkumpul dengan mereka. Sungguh, rasanya jika di ingat keseruan berkumpul Bimala rindu itu.


“Pergilah, besok kita juga harus berangkat. Sempatkan waktumu bertemu mereka. Pertemanan juga penting.” Arex dengan penuh pengertian berucap saat melihat wajah sang istri yang ragu bicara dengan temannya.


“Tidak,” jawab Bimala menolak.


“Bimala!” Teriak salah satu temannya di seberang sana.


“Ros, ada apa sih teriak seperti itu? Telingaku sakit.” keluh Bimala kesal.


“Udah cepet bilang, langsung to the point aja, Ros.” sahut Leni di seberang sana dengan suara cemprengnya.


“Wah lu gila yah, Mal. Buruan temuin kita, pajak nikah lu harus lunas hari ini. Parah bisa-bisa kena denda loh. Ko diem-diem lu nikah sih? Lu nggak anggap kita-kita yah? Atau jangan-jangan abang tampan bengkel itu lagi suami lu makanya lu diam-diam aja.” Serbu para teman Bimala yang terus heboh di seberang sana.


Mendengar ucapan temannya, fix Bimala harus datang demi mendamaikan kerisauan sang teman.


Ia pun yang tadi ingat sudah mengatakan pada Arex untuk tidak pergi kini menoleh pada pria yang duduk tenang di sampingnya.

__ADS_1


“Sepertinya aku harus pergi,” jawabnya memelas.


Arex mengangguk sekali mengedipkan matanya pelan. Tangannya mengurai rambut panjang istrinya. “Pergilah, Mal. Aku tidak melarangmu. Selagi itu positif aku akan mendukung. Biar kami mengantar yah? Nanti pulang di jemput supir saja.”


Meleleh hati Bimala yang sekeras batu, ternyata feelingnya tidak salah selama ini. Hatinya nyaman dengan Arex meski pria itu tidak kaya dulu. Belum terlihat kayanya lebih tepat.


Setelah sepakat, mobil pun melesat menuju tempat tujuan yang di katakan Rosa via chat, yah telepon sudah Bimala putus sepihak dan memilih untuk berbalas pesan saja.


***


Jeritan para wanita seketika menggema di salah satu kafe yang ramai hari itu.


“Oh may god!”


“Omg! Omg! Omg!”


“Hah? Ini mimpi kan guys? Ini mimpi kan? Sumpah demi apa babang oli tampan itu jadi se cool itu?”


Semua teman Bimala tidak sadar sudah berjingkrak syok saat melihat Arex turun dari mobil membuka pintu mobil untuk Bimala di depan kafe. Tak lupa kecupan di kening sang istri, Arex berikan dan sapuan lembut pada kepala Bimala.


Setelan jas mewah di tubuh tinggi Arex membius mata para sahabat sang istri.


“Bimala!” Serentak mereka semua berteriak berlari menyambut kedatangan Bimala yang sudah melihat kepergian sang suami.

__ADS_1


__ADS_2