
Langkah kaki Arex terhenti saat hampir mendapat pelukan. Tangannya yang besar seketika menghentikan laju lari Susan.
“Jaga sikapmu, Susan.” ucap Arex dingin.
Kini mata pria tampan itu bergerak melirik ke arah samping. Dimana Bimala berdiri dengan tatapan tak suka pada wanita asing itu.
“Lanjutkan pekerjaanmu, Reno akan menyuruh orang mengantar tugas lemburmu malam ini.” Bola mata Bimala mendelik mendengar bagaimana formalnya sang suami ketika bicara padanya.
“Tapi…” Belum sempat Bimala melanjutkan, Luna sudah lebih dulu mempersilahkan Bimala untuk ikut bersamanya.
Ada perasaan aneh di hati Mala kali ini. Rasanya Arex seperti tidak mengakui hubungan pernikahan mereka di depan orang.
“Kenapa rasanya ada yang nyesek gini sih?” umpat Bimala di sela langkah kakinya menuju ruangan kerja.
“Mungkin dejavu, Mal.” sahut Luna santai pada sang bawahan.
__ADS_1
Bimala mengernyitkan dahinya heran. “Dejavu?” Ulangnya lagi namun tak mendapatk penjelasan dari Luna. Sebab wanita kepercayaan sang bos itu telah pergi.
Saat tiba di ruangan, bukannya fokus bekerja. Bimala justru tampak gelisah. Tubuhnya ia hempaskan di kursi kerja, beberapa saat kemudian, ia berdiri. Melangkah mondar mandir di ruangan sembari menggigit ujung kukunya.
“Siapa wanita itu?” tanyanya pada diri sendiri. Bimala kembali ingin meraih gagang pintu, tapi urung ia lakukan.
“Ah…bagaimana aku berkeluyuran di luar ruangan. Ini sudah masuk jam kerja.” gerutunya mencari akal.
Sungguh, kali ini Bimala seperti cacing kepanasan. Tubuhnya gelisah tak tenang.
Jika di ruangan Bimala tampak gelisah dan penasaran, berbeda halnya di ruangan presdir yang luas. Arex menatap dalam dua bola mata Susan. Wanita yang saat ini duduk di hadapannya dengan keadaan penuh kesedihan.
“Jadi…kamu sudah menikah, Rex?” tanya Susan bergetar mengucapkan kata menikah.
Tak tahan, air mata wanita cantik itu seketika berjatuhan lolos tanpa bisa tertahan lagi. Hatinya terluka mendengar pria yang ia rindukan selama ini sudah menjadi milik orang.
__ADS_1
“Dengan perginya kamu, aku sadar. Kita bukanlah saling mencintai. Saat itu aku hanya merasa nyaman sebagai teman. Bukan untuk mengisi hati. Dia wanita yang pertama kali menyentuh hatiku tanpa melakukan apa pun padaku. Bahkan mengenalku saja tidak.” jawab Arex menerawang ke sosok sang istri.
Mendengar pengakuan sang kekasih yang ia anggap sampai saat ini masih belum memutuskan hubungan dengannya, Susan berdiri dari duduknya dan berlari memeluk tubuh Arex.
Tangisan terisak yang begitu pilu membuat Arex perlahan namun pasti melepaskan kembali pelukan Susan. Kini, di depan Arex, Susan tergugu. Bibirnya bergetar hebat. Rasanya sungguh menyakitkan menerima semua keadaan ini.
“Andai aku tahu akan seperti ini, aku tidak akan pernah mau berjuang untuk sembuh, Rex. Aku lebih memilih mati dari pada merasakan sakit di tempat yang sama ini.” Susan benar-benar menangis pilu di hadapan Arex. Tangannya memegang bagian hati yang sangat sesak dan sakit rasanya.
Arex yang melihat bagaiman hancurnya wanita di depannya seketika iba. “Susan, hei hentikan. Jangan seperti ini. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Bahkan dulu kau yang pergi meninggalkan aku. Kalau saja kau tidak pergi, meski aku tidak mencintaimu kita bisa saja bersama sampai saat ini. Lalu, apa katamu tadi dengan sakit di tempat yang sama?” tanya Arex bingung. Apalagi Susan bicara di iringi isak tangis.
Susan terduduk lemas di kaki Arex. Ia tak kuat lagi menahan tubuhnya yang kian melemah. Wajahnya pun tampak pucat. “Aku sakit dan pergi untuk pengobatan, Rex. Aku tidak mau melihat mu sedih. Aku takut kamu sakit melihatku kesakitan.”
Suara Susan yang semakin lirih kini membuat Arex membulatkan matanya kaget. Wanita di depannya tidak sadarkan diri lagi.
“Sakit? Susan! Susan! Bangun!” Beberapa kali Arex menepuk pipi wanita itu namun hasilnya masih nihil.
__ADS_1