Ketulusan Sang Dewa

Ketulusan Sang Dewa
Akankah Lumpuh?


__ADS_3

Malam yang dingin di temani kesunyian, kini di ruang perawat setelah melakukan pemeriksaan dan penanganan, ibu dari Bimala di pindahkan ke ruang rawat.


Bimala yang lelah hanya berbaring di sofa menunggu sang ibu sadar. Sedang Arex kini berada di luar untuk mencari makan malam.


“Mala, Ayah harus pulang dulu. Mengambil barang ibumu.” ucap Tuan Wijaya.


Seketika itu juga mata Bimala yang kosong, beralih menatap sang ayah.


“Istirahatlah, Ayah. Biar besok pagi Mala yang mengambilnya.” jawabnya pelan tak bersemangat.


Tuan Wijaya tak menyahut dan memilih mengiyakan saja ucapan sang anak dengan mengangguk.


“Emh…aduh…” suara rintihan saat itu membuat Bimala dan sang ayah sama-sama terbangun dari tidurnya.


“Ibu,” Segera Bimala mendekat dan menggenggam tangan wanita yang tampak pucat itu.


“Mala…” sapaan suara berat dari wanita paruh baya.


“Apa yang sakit, Bu? Bimala panggil Dokter sebentar yah?” Ia berdiri menekan tombol di atas ranjang pasien sang ibu.


Namun sesaat setelahnya bukan dokter yang datang melainkan Arex yang membuka pintu dengan tiga nasi bungkus di tangannya. Serta satu bungkus lagi soto yang terkenal enaknya.


“Maaf, ini Ayah, Mala makan dulu, ini untuk Ibu juga.” tutur Arex perhatian.

__ADS_1


Mendapati sosok menantu, membuat Sari mengalihkan wajahnya tak mampu melihat wajah pria yang selama ini ia hindari.


“Bu, Arex tidak marah dan mengolok Ibu. Berdamailah dengan menantu kita.” tutur Tuan Wijaya lembut penuh permohonan.


Sari tidak bisa mengeluarkan suaranya sama sekali. Mau menolak tidak mungkin. Tentu sebuah kesalahan besar. Mau meminta maaf dan berdamai bagaimana cara memulainya. Sungguh memalukan bagi Sari.


“Auh…sakit.” keluhnya menghindari ucapan sang suami yang menunggu jawaban darinya.


“Tidak apa-apa, Ayah. Yasudah Arex makan dulu, ini untuk Ayah.” Ia memberikan makanan itu di atas nakas.


Sedangkan dua bungkus makanan ia bawa mendekat dimana Bimala duduk.


“Permisi,” sang Dokter datang membuka pintu bersama asistennya.


Arex mengangguk. Di depannya adalah dokter yang ia utus.


“Permisi Ibu, saya Dokter yang akan menangani anda. Kita coba periksa dulu yah, Ibu.”


Sari hanya diam bisa menerka mungkin jika bukan karena Arex terkenal, berarti dokter ini adalah orang menantunya.


“Semuanya baik, hanya luka luar saja yang parah, yah Ibu?” ucap sang Dokter.


Sari merasakan ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya.

__ADS_1


“Dok, kenapa kaki saya tidak ada rasanya?” Pertanyaan yang di lontarkan wanita paruh baya itu membuat seisi ruangan mendadak kaget.


Bimala yang ingin makan usai mendengar penuturan sang dotker jadi menghentikan aksi makannya yang belum saja di mulai.


“Apa Ibu benar-benar tidak merasakan apa pun? Saya pegang?” Dokter mulai melihat ada yang tidak beres.


Ternyata benar, saat pemeriksaan tubuh Sari tak mendapatk pengecekan seluruhnya karena mereka hanya fokus pada bagian yang terlihat saja.


Beberapa cara dokter lakukan namun hasil masih sama. Sari tak merasakan apa pun.


“Tuan, kita terpaksa harus merujuk mertua anda ke rumah sakit pusat. Di sini alatnya tidak memadai.” tutur sang Dokter.


Arex yang mendengar pun segera tanggap.


“Baik, siapkan semua. Saya akan mengusahakan jalur udara saja.” Dengan mudahnya Arex memutuskan segera menghubungi sang asisten.


Tanpa bertanya atau meminta persetujuan Arex memutuskan semua yang terbaik.


“Tidak, Ayah. Ibu tidak mau lumpuh!” Sari mulai takut dengan hal buruk menimpanya.


“Bu, Ibu tidak akan lumpuh. Percayalah, Bu.” Bimala memeluk sang ibu yang mulai ketakutan.


“Ibu, Arex akan melakukan apa pun untuk kesembuhan Ibu. Tenanglah. Jangan sampai keadaan Ibu mempersulit perjalanan kita untuk ke rumah sakit pusat. Kita butuh pemeriksaan lebih detail, Bu.” Benar apa yang di ucapkan Arex.

__ADS_1


Sari tidak boleh drop lagi.


__ADS_2