
Samar-samar wajah wanita dan pria dapat ia lihat dengan jelas. Sari kini sadar dimana ia berada.
“Sar, kamu ini kenapa pingsan segala sih? Ayo duduk dulu dan minum ini.” Mbak Nur tampak membantu sang adik kembali duduk di sofa.
Helaan napas terdengar dari sosok suami sang kakak.
“Kamu syok cuman karena berita itu? Itu bukan masalah kan? Justru kamu beruntung.” Mba Nur mulai kembali melanjutkan ucapannya.
Sari menunduk terdiam. Cukup lama hingga pasangan suami istri di depannya saling melempar pandangan.
“Beruntung iya, Mbak. Tapi saya benar-benar malu. Selama ini saya sudah menginjak-injak harga dirinya. Saya larang dia dekat dengan Mala, saya suruh dia bersih-bersih segala. Bahkan saya terus-terus menghina dia.” Wajah Sari benar-benar layu kala itu.
Bayangannya Arex yang hanya menatapnya dengan wajah teduh tanpa rasa marah sedikitpun kian terlintas di ingatan Sari.
“Bagaimana ini, Pah?” tanya Mbak Nur pada sang suami.
“Sari, kamu itu mungkin dapat teguran. Bagaimana pun sikap kamu yang meremehkan menantu mu itu salah. Sekali pun dia bukan seorang Arex Sebastian, kamu tidak boleh seperti itu. Perlakuan kamu bahkan bisa saja membuat suami dan anakmu kehilangan penghasilan.” Sari mendengar penuturan sang ipar kini hanya menunduk penuh sesal.
Tak ada ucapan yang ia lontarkan saat itu, yang jelas ia tidak tahu harus melakukan apa saat ini. Bahkan untuk pulang ke rumah pun rasanya tidak sanggup.
Belum lagi membayangkan ucapan menyudutkan dari sang suami.
“Mba, malam ini boleh yah saya tidur di sini dulu?” tanya Sari memohon belas kasih sang kakak.
Mba Nur melihat sang suami yang menganggukkan kepalanya pelan. “Yasudah, pergilah ke kamar. Jangan lupa beritahu suami mu. Takutnya nanti malah bingung mencari istrinya.” sahut Mbak Nur pada akhirnya.
“Dia sudah tahu kok, Mbak. Tadi saat mau ke sini saya sudah ijin.”
Malam itu Sari memutuskan untuk menetap di rumah sang kakak.
Sementara di rumah Wijaya, malam ini Bimala mengurung di kamarnya tanpa berniat membuka pintu saat Arex beberapa kali mengetuk pintu kamar ketika baru tiba di rumah.
“Mal, buka pintunya!” teriak Arex sedikit melembutkan suaranya.
__ADS_1
Kini jarum jam sudah menunjukkan angka 12 malam. Pria tampan itu baru saja pulang, usai mengobrol dengan beberapa tamu yang datang dari liar kota malam itu.
Bimala hanya menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal tanpa perduli suara pria di depan pintu kamarnya.
“Ayah curang! Selama ini aku memang suka sama dia, tapi kan bukan gini juga jadinya. Aku sama Ibu selalu menghina dia, gimana jadinya kalau aku ketemu Arex sekarang? Haaaah malu banget rasanya.” Jerit hati Bimala sangat kesal.
Terlebih ketika ucapan sang ayah yang memanasi hatinya, mengatakan jika Arex banyak mendapat godaan di luar sana.
Rasanya Bimala sangat merendah kala mengingat siapa sebenarnya pria yang selalu ia katakan cap oli itu.
Lelah beberapa kali mengetuk pintu dan berteriak, namun tak juga membuahkan hasil. Akhirnya Arex kembali menuju kamar yang selama ini menjadi tempat peristirahatannya.
Hingga tanpa terasa malam kini terlewatkan dengan sangat singkat. Rasa lelah masih terasa di tubuh pria itu sampai pagi menjelang.
Dengkuran napas yang teratur membuatnya terlihat sangat lelap.
Di kamar atas, Bimala baru sadar dari tidurnya saat mendengar ketukan dan panggilan sang ayah.
“Aduh Ayah kenapa pakai ngetuk segala sih? Masih ngantuk banget rasanya.” keluh Bimala sembari menyibak selimut tebalnya dan menuju pintu lalu membuka lebar.
Wajah kusut itu terlihat keluar hingga leher. “Ada apa, Ayah?” tanyanya.
Wijaya yang berdiri tepat di depannya meneliti ke dalam kamar. “Arex belum pulang?” tanya pria itu yang tak melihat keberadaan sang menantu.
“Mu-mungkin…” jawab Bimala apa adanya.
“Kamu jangan bohon, Mala. Semalam Arex sudah kirim pesan pada Ayah. Dia pulang jam 12 malam. Dimana dia?” Wijaya tentu yakin jika sang menantu ada di rumahnya saat ini.
“Tuan! Tuan Arex di kamarnya.” Sang pelayan yang mendengar perdebatan sang majikan segera menghampiri. Karena ia berpikir tidak ingin membuat majikannya dan anak ribut.
Wijaya sontak menoleh. “Kamarnya? Maksud Bibi kamar apa? Dimana kamarnya?” Wijaya pun bertanya dan meminta pelayan tersebut mengantarnya ke tempat tujuan.
Bimala yang mendengar sontak syok saat itu. Ia memukul keningnya kala ingat dimana kamar Arex sebelumnya. “Mampus!” umpatnya pasrah sudah.
__ADS_1
Dan betapa terkejutnya Wijaya kala melihat sang menantu seperti dewa itu justru terlelap di tempat tidur yang seharusnya menjadi tempat tidur para pelayan di rumah mereka.
Dada Wijaya seketika bergemuruh, kepalanya bahkan menggeleng tak percaya dengan semua ini.
“Bi, katakan? Apa di sini Arex tidur selama ini? Saya bisa mengartikan dari ucapan Bibi tadi.” tanya Wijaya tegas.
Sang bibi yang merasa bersalah, kini hanya menunduk dan perlahan ia mengangguk.
Wijaya memilih masuk perlahan dan membangunkan sang menantu. Sungguh rasanya kasihan sekali melihat keadaan Arex yang tidur meringkuk tanpa ada selimut menutup tubuhnya.
“Rex! Arex! Bangun, Rex.” Tepukan pelan di lengan membuat Arex beberapa kali mengerjap hingga akhirnya pun tersadar dan membuka lebar matanya.
“Ayah,” sapa Arex saat baru sadar.
Wijaya menggelengkan kepala merutuki kebodohan keluarganya memperlakukan sang menantu.
“Rex, ayo keluar. Jangan pernah masuk di kamar ini lagi. Ayah benar-benar malu.” rutuk Wijaya pada Arex.
“Tidak masalah, Ayah. Arex tidak mempermasalahkan kok. Selagi bisa satu atap dengan Bimala, tentu bukan hal yang sulit.” Arex menyunggingkan senyumannya lebar.
Wijaya yang mendengar celotehan sang menantu bahkan dibuat tak habis pikir. Seorang Arex bucin akut dengan anaknya yang ia pikir tak seberapa itu.
“Sekarang masuk ke kamar. Ayah akan membuat hukuman untuk Bimala dan ibunya.” ujar Wijaya.
Arex menggeleng. “Tak perlu, Yah. Karena Arex sendiri yang akan melakukan untuk istri Arex. Ayah, hari ini Arex akan bawa Bimala ke rumah Arex. Biarkan Arex yang mendidiknya di sana.”
Wijaya pun mengangguk setuju. Anaknya bukan lagi haknya saat ini.
Senyuman smirk pun terbit di wajah tampan Arex yang masih belum cuci muka saat bangun dari tidurnya.
“Habis kamu, Mala kali ini. Ketulusanku akan terbalaskan di mulai hari ini. Jangan berpikir jika ketulusan seorang dewa sepertiku tidak ada timbal baliknya, istriku…” batin Arex terkekeh puas.
Laki-laki itu pun melangkah meninggalkan sang mertua usai ijin pergi menyusul sang istri yang masih bersembunyi di balik selimut kembali.
__ADS_1