Ketulusan Sang Dewa

Ketulusan Sang Dewa
Novel Baru


__ADS_3


Satu minggu pernikahan berdasarkan perjodohan antara Arika dan juga Prawira, keduanya belum juga melakukan kewajiban sebagai sepasang suami istri. Kebencian atas pernikahan yang di rasakan Arika kini lenyap entah kemana.


Satu minggu ia melihat sikap suaminya yang begitu baik, tak sekali pun Prawira meminta haknya dengan memaksa. Tentu saja sebagai seorang istri ada rasa bersalah yang Arika rasa saat ini.


“Apa aku salah telah mengabaikan suamiku sendiri? Pernikahan kami sudah satu minggu lamanya. Pernikahan ini tidak mungkin juga bisa batal, semua sudah terjadi. Dan aku tidak mau ada perceraian.” Arika menunduk memainkan kuku-kukunya yang cantik.


Wanita itu terus berpikir dengan bicara dalam hati. Tanpa sadar dari arah pintu tampak Prawira yang baru saja pulang. Dengan pakaian formal serta tas kerja yang ia pegang.


“Kenapa masih belum mandi?” Pertanyaan dari pria yang tak lain adalah suaminya membuat Arika tersentak kaget.


Sigap ia berdiri dan mencium punggung tangan sang suami. Untuk pertama kalinya Arika melakukan hal itu. Dan Prawira tersenyum kecil melihat tingkah sang istri.


“Aku minta maaf.” Lirih namun jelas Prawira mendengar ucapan Arika.


“Jangan sedih seperti itu, wajah cantikmu jadi jelek.” Arika tersenyum malu. Pertama kali pula ia mendengar sang suami berbicara gombal padanya.

__ADS_1


“Sini tasnya. Aku akan simpan dan segeralah mandi.” pintahnya ingin meninggalkan pergi Wira. Namun, langkah Arika terhenti kala tangannya mendapat genggaman erat dari sang suami.


“Malam ini…boleh aku memintanya?”


Semakin merona kedua pipi Arika. Tak sanggup menjawab, wanita itu hanya mengangguk pelan sekali. Tentu saja lelah di tubuh Wira seolah hilang seketika, kepulangannya dari kerja malam hari membuat pria itu bersemangat untuk menempuh kenikmatan bersama istrinya.


Segera ia menggendong tubuh sang istri menuju kamar mandi. Arika sendiri yang belum memiliki pengalaman dalam hal itu sangat gugup. Tak mampu menolak ia hanya bisa mengikuti kemana sang suami membawa tubuhnya.


“Aku aku belum mandi.” tuturnya yang melihat Wira sangat dekat dengannya hingga tubuh Arika tersandar pada dinding kamar mandi.


Bak seorang guru, Wira begitu lihai menuntuk Arika melakukan hal yang jauh lebih lagi. Takut, gugup, malu semua menjadi satu di tubuh Arika, bahkan jelas Wira merasa sang istri tengah gemetar.


“Arika…bersiaplah.” lirihnya pelan berbisik di telinga sang istri lalu menyapunya dengan indera perasa.


Arika terpejam. Satu persatu tubuhnya di absen hingga akhirnya air mata menetes menahan sakit yang luar biasa.


“Aaaaa…” Arika menjerit tertahan di kamar mandi. Sementara Wira diam mematung menikmati pijatan yang terasa membawanya ke langit ke tujuh.

__ADS_1


***


Di malam ke tujuh itulah pernikahan yang bermula karena terpaksa kini sudah menjadi begitu hangat. Arika sangat mencintai suaminya.


“Selamat pagi,” sapaan lembut dan senyum yang ceria menyapa pagi Wira kala itu. Tak lupa di tangan Arika terlihay segelas susu serta roti yang sudah ia panggang.


“Wir, bangunlah. Bersihkan wajah dan sikat gigi setelah itu sarapan.” tuturnya meminta sang suami bangun.


“Kiss dulu.” ujar Wira terdengar manja.


Senang hati Arika memberikan permintaan sang suami. Ia membuat Wira merasa bergejolak kala mencium wangi tubuh sang istri.


Tampaknya Arika sudah mandi saat itu, cepat tangan kekar Wira pun melingkar di perut sang istri dan memeluknya kian erat.


***


Untuk bab lanjutannya silahkan kunjungi novel terbaru author yah.

__ADS_1


__ADS_2