Ketulusan Sang Dewa

Ketulusan Sang Dewa
Membatalkan Kesepakatan


__ADS_3

Setelah mengantongi ijin dari pihak rumah sakit, akhirnya di sinilah mereka berada. Rumah di kawasan elit yang begitu asri dan menyenangkan.


Mobil sudah terparkir rapi di halaman rumah milik Arex. Semua menatap kagum.


“Ayo masuk, Ayah, Ibu.” ujar Arex memecah keheningan.


Mereka kembali menatap pada Arex.


“Rex, ini rumah siapa? Kamu membelinya atau…” Bimala bingung antara percaya atau tidak.


Arex hanya tersenyum. “Aku membelinya. Lagi pula kita akan sering kesini kan? Apa kau lupa aku sedang membangun cabang perusahaan di sini?” Bimala akhirnya ingat dengan setumpuk pekerjaannya yang ia tinggalkan.


Sunguh rasanya masih seperti mimpi ia bisa pergi sesuka hati tanpa memikirkan pekerjaan yang sudah menunggunya.


“Kamu lupa siapa suami kamu, Bimala?” celetuk Tuan Wijaya terkekeh. Ia bahkan tak kaget jika sang menantu memiliki rumah di setiap negara.


Sari menatap dalam wajah Arex yang kini menatap sang istri. Mau meminta maaf beribu kali pun, rasanya tak mampu menghilangkan malu di dalam ingatannya.


“Ayo masuk, Sari ayo.” Wijaya menarik-narik tangan sang istri yang mematung.


Hingga tarikan itu akhirnya membuat Sari menggeleng karena terkejut. “Ayo masuk.” ajaknya agar melepaskan tangan yang memegang roda kursinya.


Mereka pun masuk bersama ke dalam rumah milik Arex. Di dalam pun perabot sudah lengkap tanpa kurang apa pun.


Dalam hati Sari sedang memikirkan bagaimana cara memutuskan perjanjian perjodohan Bimala dengan anak temannya itu.


“Aku tidak akan membiarkan pernikahan mereka rusak karena aku lagi. Tidak akan. Aku harus segera menjauhkan Pandu dari Bimala. Arex sudah cukup menahan sakit selama ini.” ucapnya dalam hati.


Kamar luas pun menjadi tempat istirahat Sari dan sang suami saat ini. Pelan dan penuh perhatian Wijaya menggendong sang istri untuk naik ke atas tempat tidur.


“Istirahat yah, Bu. Semoga kita bisa segera pulang dengan kaki Ibu yang sembuh seperti semula.” tuturnya membuat Sari mengangguk dan tersenyum.


Meski di awal dia begitu terpukul dengan keadaan cacatnya, namun saat ini wanita bermulut pedas itu paham akan hikmah di balik musibah.


Ia mendapat perhatian yang besar dari orang-orang di sekelilingnya. Ia mendapat perhatian yang tulus dari sang menantu.

__ADS_1


“Ayah, rasanya Ibu sudah tidak mempermasalahkan lagi bisa berjalan atau tidak.” Ucapan Sari mendadak membuat pergerakan Wijaya terhenti kala ingin membaringkan tubuh di samping sang istri.


Ia segera duduk menghadap wanita yang ia cintai itu.


“Ibu ngomong apa, Sih?” tanyanya heran.


“Ibu sudah cukup dengan begini Ayah sangat perhatian dan Bimala serta suaminya juga sangat baik pada Ibu. Ibu tidak butuh apa-apa lagi. Justru Ibu takut jika sudah bisa jalan, Ibu akan lepas kendali lagi menyakiti Arex, Yah.” Wajahnya sangat sedih. Sulit rasanya jika ia yakin akan menjadi wanita baik selamanya.


Ia takut akan mendapatkan pengaruh dari luar lagi setelah bergabung dengan teman-temannya yang bergengsi tinggi itu.


Hingga saat mulut Tuan Wijaya terbuka ingin komentar, ketukan pintu terdengar di luar sana.


“Ayah, Bimala bawa makan buat Ibu.” Pintu pun terbuka.


Hening sesaat hingga tampak Arex menyusul di belakang sang istri.


“Ayah, Arex harus melihat pembangunan perusahaan sebentar. Setelah itu Arex akan segera pulang. Besok kita akan antar Ibu terapi bersama-sama.” Sari menggelengkan kepala tak enak hati.


“Jangan. Fokuslah pada perusahaanmu saja, Rex. Semua sudah cukup. Ibu baik-baik saja.” tutur Sari mantap.


Bahagianya punya menantu baik, tampan, kaya raya lagi. Jika saja boleh waktu di ulang. Rasanya Sari ingin membuat pernikahan Arex dan Bimala yang besar meski uangnya habis sekali pun. Asalkan ia bisa melihatkan pada seluruh dunia, bahwa ia memiliki menantu seperti dewa. Yang sangat sempurna dan menyayanginya dengan tulus.


Seperginya Arex, kini keadaan rumah kembali hening. Bimala yang memilih istirahat di kamar usai memastikan sang ibu makan dan minum obat.


Sedangkan di kamar sini, Sari tak bisa terpejam sama sekali. Matanya menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang penuh di kepala.


“Aku harus meminta Jeng Mely datang. Besok dia pasti sudah ke Indonesia. Iya, mumpung Arex tidak ada. Aku harus menyelesaikan ini semua.” tuturnya dalam hati sembari meraih ponsel di atas nakas.


Meski sedikit sulit bergerak meraih benda pipih itu, akhirnya Sari bisa menggenggamnya.


“Jeng, saya ada kirim sharelok. Bisa kesini sebentar? Ada yang mau saya bicarakan dengan Jeng Mely.” Langsung pada intinya Sari bahkan tak basa basi sedikit pun.


Di seberang sana, Mely juga tampak antusias. Lantaran ia merasa memang harus bicara empat mata dengan temannya itu.


***

__ADS_1


“Ayah tidur saja lagi. Nanti ada Bibi yang bantu Ibu naik ke tempat tidur kok.” Usai meminta sang suami membantunya turun dari tempat tidur ke kursi roda, Sari menyuruh suaminya kembali ke kamar istirahat.


Rasanya tak mungkin ia bicara bersama temannya di depan sang suami.


Mely dan Sari pun kini hanya berdua di ruang tamu. Keadaan hening beberapa saat hingga akhirnya Mely lebih dulu berucap.


“Maksud Jeng mengenalkan pria itu dengan kata menantu apa? Jeng Sari tidak sedang berencana membatalkan rencana perjodohan Mala dan Pandu kan?” Mely menodong tepat sasaran.


Sari seketika merasa kikuk. Rencananya terbaca sudah oleh sang teman.


“Begini Jeng Mely, saya tidak bisa melanjutkan rencana itu lagi. Saya sudah terbuka pikirannya. Mereka menikah dan sekarang sudah saling mencintai. Saya tidak mau membuat mereka bercerai hanya karena ambisi saya. Lagi pula menantu saya tidak seburuk yang saya pikirkan Jeng.” Lemah lembut Sari bicara berusaha membuat lawan bicaranya tenang.


Nyatanya salah. Posisi duduk Mely pun mendadak tegang. Matanya sudah menyorotkan tatapan siang perang. Bahkan Sari bisa melihat jelas dada wanita di depannya bergemuruh.


“Apa ini maksudnya? Kamu main-main dengan saya? Kamu mau menginjak harga diri anak saya!” Tak ada lagi panggilan manis yang tersemat, kini hanya panggilan kamu dan aku. Sungguh Sari sudah menduga jika ini akan ia dapatkan.


“Maafkan saya, Jeng. Saya salah. Tapi akan lebih salah lagi jika kita membuat Mala dan Arex cerai, itu tidak benar. Saya yakin Pandu akan mendapatkan wanita yang lebih dari anak saya. Saya mohon maaf, Jeng Mely.” Wajah Sari jelas terlihat penuh sesal.


Sungguh, Mely tak terima di permainkan seperti ini. Bukan ia yang mengemis. Dari awal Sari justru yang mengemis-ngemis padanya untuk menjodohkan anak mereka. Sebab Pandu adalah pria yang sedang frustasi setelah cerai dari sang istri. Dan Bimala satu-satunya wanita yang membangkitkan semangat sang anak kembali.


“Ini tidak bisa di biarkan!” amuk Mely.


“Argh!” Teriakan dan suara kursi roda terjatuh di lantai membuat seisi rumah riuh seketika.


“Tuan! Tuan! Nona Mala, Nyonya!” Teriakan pelayan saat melihat Mely sudah mendorong jatuh Sari bersama kursi rodanya.


“Ibu!” Bimala yang tengah menikmati tidurnya bangun saat itu juga.


“Ibu!” Wijaya terduduk setengah lemas tubuhnya karena kaget.


“Apa-apaan ini?” Dari arah pintu, suara menggelegar terdengar bersamaan sosok pria yang berlari cepat.


“Rex,” Sari menangis kesakitan. Tubuhnya di papah oleh Arex sementara pelayan tampak mendirikan kembali kursi roda itu.


Wajah Arex yang baru pulang sebelumnya begitu bahagia setelah melihat bangunan perusahaannya yang sudah mulai berdiri, harus di rusak oleh keadaan di rumahnya.

__ADS_1


“Pergi dari sini!” Mata hitam Arex membulat penuh amarah pada sosok wanita yang bersedekap dada menatap pertunjukan di depannya.


__ADS_2