
Seperti perbincangan mereka sebelumnya jika hari ini Bimala dan kedua orangtuanya tampak sangat bahagia memasuki beberapa store merk ternama.
“Mal, hati-hati jalannya. Cepat duduk sini. Ibu ke depan situ dulu yah, kayaknya tasnya bagus deh.” Sari dengan penuh semangat berjalan menghampiri jajaran tas keluaran terbaru.
Matanya seakan bersinar sangat cerah melihat mewahnya tas di depannya ini.
Tanpa tahu, suara-suara berisik dari arah luar mulai mendekat.
“Selamat datang, Nyonya. Mari sarung tangannya.” Pelayan yang bertugas berdiri di depan menyambut beberapa wanita dengan penampilan modis. Jika di lihat sepertinya mereka adalah kumpulan nyonya besar.
“Thank you…” jawab salah satunya dengan ramah dan senyum yang tak pudar dari wajahnya.
Empat wanita dengan rambut yang memiliki gaya masing-masing. Tas mewah di tangan kanan serta tawa beberapa kali terdengar meski tak begitu keras.
“Wah ini bagus ini.” Salah satu berucap kala melihat tas di dekatnya.
“Mba, katanya ada yang terbaru? Dimana?” Salah satu bertanya kemudian.
Dengan sigap pekerja di store itu mendekat lalu berjalan ke arah satu wanita berdiri tengah menatap beberapa tas di depannya.
“Permisi, ini Nyonya. Di bagian sini semua edisi terbaru. Dan hanya ada masing-masing dua barang saja.” terang wanita dengan rok span hitam itu.
“Mal, Ibu mau itu yah?” Sari menunjuk tas berwarna hijau toska. Bimala tersenyum dan mengacungkan jempol tanda oke.
“Oh itu yang terbaru. Saya mau lihat yang itu, Mba. Paling ujung.” tunjuk wanita itu.
__ADS_1
“Saya mau yang di tengah itu, Mba. Hijau itu yah,” mendengar warna hijau di sebut mata Sari mendelik pada wanita yang baru saja berani bersaing padanya.
“Mba, itu punya saya. Kenapa di ambil?” Sari naik pitam saat tas yang ingin ia beli justru pelayan itu memberikannya pada wanita di sampingnya.
“Enak saja, ini punya saya.” Wanita itu berucap setelahnya menoleh.
Keduanya saling berpandangan dan terkejut.
“Jeng Lela,” Sari menunjuk wanita di hadapannya kini.
“Jeng Sari?” Sama mereka semua kaget melihat bagaimana keadaan sang teman yang ternyata saat ini sudah sehat kembali.
Bahkan beberapa kali pertemuan mereka berbincang tentang keadaan temannya yang malang. Serentak mata mereka semua memandang ke arah kaki Sari.
“Saya sudah tidak lumpuh. Sekarang tas ini biarkan saya yang beli yah, Jeng?” Dengan pelan namun kuat menggenggam, Sari merebut tas itu di tengah syok para teman-temannya pada kaki yang sudah tidak lumpuh lagi.
“Ayah, Ibu.” Bimala panik melihat sepertinya akan ada keributan yang terjadi.
Wijaya sontak berdiri dan mendekat pada sang istri.
“Jeng, ini tas saya. Anggap saja ini hadiah atas kesembuhan saya. Toh kalian tidak ada niat baik menjenguk atau sekedar menanyakan kabar saya kan?” Sari menyindir dengan wajah sinisnya.
“Nggak bisa dong, Jeng. Ini soal tas beda dengan sakit. Itu harus punya saya. Mba, tolong ambilkan itu punya saya, biarkan dia beli yang satu lagi. Stoknya dua kan?” Lela meminta sang pelayan dengan tegasnya.
Sari sontak kesal. Ia juga tidak ingin mengalah. Meski barang ada dua, sayangnya ia sudah jatuh hati pada barang yang di pegangnya.
__ADS_1
“Yasudah, cepat ambilkan tasnya.” Pintah Lela akhirnya.
Sementara Sari mulai mengurus pembayaran memakai kartu yang sang anak berikan.
“Total harga senilai 65 juta yah, Nyonya.” Kasih memberi tahu seraya tangannya ingin meraih kartu yang Sari berikan.
Namun, sebelum itu sang pelayan kembali datang menginformasi.
“Maaf, Nyonya. Stoknya tinggal satu yang warna hijau itu.” Mata Lela membulat mendengarnya.
Secepat kilat ia pun merebut posisi Sari yang ingin memberikan kartu tersebut.
“Nggak. Ini nggak bisa. Mba, saya yang punya. Ini kartu saya, saya bayar tasnya dua kali lipat asal itu jadi punya saya.” ujar Lela dengan angkuhnya.
“Iya Mba, kan Jeng Lela yang duluan nunjuk tadi.” Teman-temannya pun turut bersuara menjadi percikan api di sana.
“Mba, saya bayar tiga kali lipat. Berikan tasnya pada ibu saya.” Bimala dengan tegas bersuara. Sungguh ia tidak tega jika sang ibu di buat malu dengan teman-temannta.
“Mal, tidak usah.” ujar Sari yang tidak ingin sang anak jadi susah. Bahkan ia tahu itu adalah uang sang suami. Dan Sari sadar betul bagaimana banyaknya Arex mengeluarkan uang untuknya.
Mungkin uang itu bahkan jauh lebih besar dari yang Arex berikan pada Bimala selama menikah.
“Bu, sudah. Itu hanya hal kecil.” Bimala bicara begitu seolah semua uang miliknya. Wijaya terkekeh menggelengkan kepala melihat tingkah sang anak.
Hanya untuk satu tas bahkan Bimala merogoh uang sejumlah hampir 200 juta.
__ADS_1
“Istrimu sepertinya pemeras kartumu, Rex.” batin Wijaya tak habis pikir.