Ketulusan Sang Dewa

Ketulusan Sang Dewa
Hari Kedua


__ADS_3

Pagi sudah menyapa kembali sangat cepat kali ini, rasanya tidur panjang Bimala masih ingin ia nikmati. Sayang, sosok pria yang begitu mencintai pagi ini sudah mengusik tidurnya. Tangan besar Arex menggoyang-goyangkan tubuh sang istri yang tertutup selimu tebal. Rambut yang acak di atas bantal itu membuat Arex sangat gemas melihatnya.


Yah, hanya sebatas gemas melihat. Tak ada perlakuan konyol yang Arex berikan pada sang istri. Menggoyang bahu sang istri pun ia pelan karena takut akan mempengaruhi keberadaan janin di perut Bimala. Lucu? memang itulah Arex saat ini yang berpikir di perut sang istri akan rentan terjadi sesuatu jika ia melakukan sedikit saja kesalahan.


"Sayang, ayo bangun. Mal, ayo bangun. Aku membawa susu untukmu." tuturnya berusaha terus membangunkan Bimala.


Hingga beberapa saat akhirnya Bimala menyerah untuk kekeh mempertahankan mata terpejamnya. Sekeras apa pun ia berusaha, tangan sang suami nyatanya mengusik ketenangannya pagi itu.


"Aduh mataku masih mengantuk, Rex." keluhnya yang entah mengapa pagi ini ia sangat sulit membuka matanya. Bimala merasa matanya seperti di lekatkan oleh lem.


Matanya menyipit memandangi segelas susu di tangan sang suami berwarna putih. "Aku pikir akan ada rasa melon, semangka, pisang dan teman-temannya." kekeh Bimala meledek sang suami yang melihat susunya pagi ini ternyata rasa vanila.


Sebab wanita hamil itu memang tidak menyukai rasa cokelat.


"Apa kau menginginkan itu semua?" Pertanyaan Arex membuat bola mata Bimala membulat sempurna. Yang benar saja Arex menanggapi ucapan Bimala dengan serius. Lantas Bimala menggelengkan kepalanya cepat.


"Tidak. Itu artinya aku sedang mengolokmu. Kau ini. Sini, biar aku minum." sahut Bimala.


Arex masih berdiri menunggu sang istri benar-benar menghabiskan susu buatannya. Sapuan lembut Arex berikan di rambut sang istri. Meski Arex terkesan tak ada ucapan hangat dan romantis, namun pria itu lebih menunjukkan dengan gerakan tubuhnya. Semua perlakuan yang ia berikan untuk sang istri tentu menyentuh hati terdalam Bimala.


Ia bahagia dengan memiliki suami seperti Arex, tak banyak suara namun penuh dengan aksi.


"Sudah habis, ayo sekarang kau mandilah. Dan aku akan siapkan pakaian dan sarapan untukmu." ajak Bimala hendak turun dari ranjang namun secepat kilat Arex sudah mengambil gelas kosong lalu meletakkan gelas itu di atas nakas. Segera Arex menggendong tubuh sang istri.


"Rex, apa yang kau lakukan?" Bimala begitu kaget.


Arex tetap melangkah membawa tubuh sang istri ke dalam kamar mandi. Tangannya sigap menutup pintu dan Bimala melihat ternyata sang suami sudah menyiapkan air di dalam bathup dengan suhu yang hangat.


"Aku akan memandikan mu, jadi diamlah dan menurut." pintah Arex sangat datar.


Tangan besarnya bergerak membuka satu persatu kain di tubuh sang istri, tak perduli bagaimana Bimala beberapa kali menghalangi bagian tertentu tubuhnya dengan kedua tangan. Namun, Arex masih terus melanjutkan melepaskan seluruh kain hingga dalaman itu juga.

__ADS_1


"Rex, aku bisa mandi sendiri." Bimala bersuara kembali.


Arex tak menggubris, ia menuntun dengan hati-hati tubuh polos sang istri masuk ke dalam bathup. Dan membuat Bimala di sana menerima seluruh pelayanan sang suami tampannya itu. Arex menggosok tubuh polos sang istri serta memberi pijatan lembut di punggung sang istri.


"Tunggu di sini sebentar. Aku akan mandi di shower." ucap Arex tak perduli bagaimana wajah Bimala menatap tajam padanya. Pria itu berdiri di bawah guyuran air shower sembari sesekali memperhatikan sang istri yang hanya duduk seperti anak patuh pada ibunya.


Bimala yang di dalam bathup hanya mengumpat sang suami. "Huh ini mengapa seperti ini sih? kemarin hari pertama aku di kurung dengan mereka semua di rumah. Lalu hari kedua mandi pun tidak boleh sendiri. Lalu besok hari ketiga dan seterusnya apa lagi?" jerit Bimala dalam hatinya merutuki suami tampannya itu.


Tanpa terasa suara gemiricik air di kamar mandi pun telah berhenti. Arex dengan jubah mandi sudah berjalan ke arah sang istri. Kembali ia menuntun Bimala berdiri dan turun. Tangannya yang memegang jubah milik Bimala segera ia balutkan di tubuh sang istri. Tanpa membiarkan Bimala berjalan, pria itu menggendongnya keluar kamar mandi.


"Rex, sungguh aku baik-baik saja. Aku akan bilang padamu kalau aku merasa sakit atau lainnya." Bimala ingin bergerak bebas tanpa di gendong seperti ini.


Namun Arex membantah. "Mal, lantai kamar mandi licin. Bahaya kalau kau sampai terpeleset. Menurutlah padaku." Enggan berdebat, Bimala pun memilih bungkam.


Pagi itu dengan cekatan Arex memilihkan pakaian untuk sang istri, yah pakaian rumahan yang berbentuk dress saja.


"Rex, aku sangat bosan di rumah tidak melakukan apa pun. Aku ikut ke kantor yah, Please..." rengek Bimala mencoba menampilkan wajah paling sedihnya.


"Kau hanya bosan setengah hari saja. Aku akan pulang sebelum jam makan siang. Jadi tetaplah di rumah." ucap Arex sembari tangannya menyisir rambut sang istri.


Sungguh, air mata Bimala ingin rasanya berontak keluar mendengar ucapan sang suami. "Aku bosan bukan karena kau ke kantor, tetapi karena aku tidak melihat suasana di luar rumah, Arex." umpat Bimala dalam hati.


"Tapi, Rex..."


Arex mencium bibir ranum itu dan kembali menuntun sang istri untuk duduk di sisi ranjang.


"Biarkan aku memakai pakaian dulu. Setelah itu kita akan sarapan bersama di meja makan." Sungguh bukan hal yang besar memang, tetapi entah mengapa mendengar meja makan senyuman di wajah Bimala tiba-tiba terbit.


Ia benci kamar ini, ia benci di kurung hingga makan di kamar ini. Setidaknya Bimala bisa menikmati sarapannya di meja makan.


Usai Arex bersiap, ia pun berjalan pelan bersama sang istri sembari tangannya terus memapah sang istri layaknya orang yang lemas.

__ADS_1


"Nona Mala kenapa, Tuan?" akihrnya pertanyaan dari sang pelayan terlontar juga pada sang majikan.


Wajah sehat, penampilan baik-baik saja, tapi Bimala di rawat layaknya orang sakit. Apa terjadi sesuatu dengan kehamilan mudanya itu? itulah pikir sang pelayan.


"Hamil, Bi." jawab Arex singkat membuat pelayan mengernyit heran. Mereka pun tahu jika sang majikan sedang hamil, tapi apa memiliki keluhan yang serius mengingat bagaimana Arex sigapnya selalu menjaga sang istri.


Tin Tin Tin


Tiba-tiba suara klakson terdengar riuh di depan halaman sana. Bimala mengernyit menatap sang suami yang mengambilkan makanan ke piringnya.


"Rex, apa kau mempunyai tamu sepagi ini?" tanyanya penuh selidik.


Suaminya bukan tipe orang yang suka mengundang orang lain ke dalam rumahnya. Ia tidak suka rumahnya di ganggu siapa pun kecuali para wanita teman sang istri tercinta. Apa pun yang menyangkut Bimala, Arex tak akan bisa menolaknya.


"Tidak, hanya saja..." Belum sempat Arex menyelesaikan ucapannya terdengar seruan dari pintu utama.


"Mala, i am coming!" Empat wanita yang baru saja kemarin menggaduh di rumahnya kini datang lagi.


Bimala memutar bola matanya malas.


"Rex, kau mengundang mereka lagi?" tanya Bimala tak habis pikir.


"Kenapa seperti itu, Sayang? Itu demi menghibur kamu sampai aku pulang dari kantor." jelas Arex dengan tenangnya.


"Apa kalian tidak ada pekerjaan setiap hari ke sini?" Pertanyaan itu Bimala lontarkan sebab ia tahu semua temannya itu sudah bekerja meski tak satu tempat.


Dengan senyuman tanpa dosa mereka menjawab. "Ini kan pekerjaan kita, Mal. Iya kan, babang oli?" Rosa dan lainnya terkekeh gemas.


Sementara mata Bimala mengernyit tak mengerti akan ucapan sang teman di depannya yang seketika menghebohkan rumah itu.


Arex tampak tenang menikmati sarapannya di samping sang istri.

__ADS_1


"Maksud kalian?" tanya Bimala menuntut penjelasan lebih lagi


__ADS_2