Ketulusan Sang Dewa

Ketulusan Sang Dewa
Ketahuan


__ADS_3

Suasana di kamar milik Mala tampak menegangkan. Mala bingung melihat kemarahan sang ibu dan wajah datar suami tampannya.


“Bu, Ibu jangan marah sama Arex.” ucapnya yang tidak tega jika sang ibu memarahi pria itu.


Jelas mendengar pembelaan Malam, Sari semakin emosi. “Mala, kamu bela laki-laki seperti itu? Pantas Ibu hubungi tidak kamu angkat-angkat juga. Hei kamu, keluar cepat! Sini kamu…” tangan Sari meraih baju Arex tanpa berniat menyentuh kulit sang menantu. Seolah ia benar-benar jijik.


Arex tak melawan sedikit pun. Mala pun berusaha mengejar sang ibu yang keluar kamar bersama sang suami.


“Bu, cukup. Arex cuman merawat Mala, Bu. Bu, tolong hentikan.” Mohon Mala yang sama sekali tak di dengar oleh sang ibu. Terdengar di tangga menuju lantai bawah Sari terus mengomel menyeret Arex menuju kamarnya.


Di sini, Arex akhirnya berdiri di depan kamar yang seharusnya untuk pelayan di rumah itu. “Bu, Mala tadi sakit. Saya hanya menolong istri saya. Ibu tidak seharusnya seperti ini.” ucap Arex tenang.


Kedua mata Sari membulat mendengar ucapannya di jawab oleh sang menantu. “Apa katamu? Kamu pikir pernikahan itu saya anggap? Tidak! Sampai kapan pun kalian tidak pernah saya anggap menikah. Dan saya peringatkan sekali lagi denganmu. Jangan pernah menyentuh sedikit pun Mala. Karena saya akan menjodohkan dia dengan orang yang tepat. Mengerti, kamu?!”


Manik mata hitam Arex menatap kepergian sang mertua. Kepalanya menggeleng pelan melihat sikap arogan wanita paruh baya itu.


“Sabar yah, Tuan. Nyonya pasti akan luluh suatu saat nanti,” Bi Lala menghampiri Arex yang terdiam mematung.


Di atas ia melihat Sari memasuki kamar sang istri dan membanting pintu kamar itu cukup keras. Bi Lala pun sampai terperanjat kaget.


“Terimakasih, Bi. Saya mau istirahat dulu.” Arex dengan wajah tenang masuk ke kamar dan melanjutkan tidurnya yang terganggu.


Sedang di dalam kamar, Sari memarahi sang anak yang jelas terbaring di tempat tidur kembali.


“Bimala, apa yang kamu sudah lakukan sama dia? Jawab Ibu!” tekan Sari mencengkram erat kedua pundak sang anak.

__ADS_1


“Bu, Mala sakit. Arex cuma merawat Mala. Tuh kalau Ibu nggak percaya.” tunjuk Mala pada kompres, kaleng susu, serta obat yang ia minum setelah beberapa waktu minum susu.


“Terus apa itu tadi? Kalian tidur berpelukan di dalam selimut. Kamu sudah nggak waras yah? Jangan bodoh kamu, Mala. Apa kamu lupa siapa pria itu? Kamu mau nikah dan hidup sama pria itu selamanya? Jangan bodoh, Mala. Jodoh kamu sudah jauh lebih dari segalanya dari pada pria itu. Kita hanya tunggu waktu saja.” tutur Sari yang menyadarkan sang anak.


“Bu, sudahlah. Mala pusing. Lagi pula nasib orang nggak ada yang tahu kok. Mana tau kedepannya Arex dapat rejeki bagus dan bisa lebih maju, iya kan?” Bimala berbicara seolah mulai menerima kehadiran sang suami. Tanpa sadar ia kembali membakar emosi yang mulai padam pada diri sang ibu.


Sontak Sari menarik napas begitu dalam. “Nggak ada rejeki bagus buat dia. Dan Ibu tidak mau tau yah kamu jangan berani-berani terima dia di belakang Ibu.”


Lemas dan pusing membuat Bimala akhirnya pasrah enggan berdebat panjang dengan sang Ibu. “Iya, Bu.” jawaban pasrah ia berikan yang terpenting ia bisa kembali beristirahat.


Usai memastikan sang anak istirahat kembali, Sari pun keluar dari kamar Mala dengan perasaan kesal bukan main. Ia pun kembali ke rumah sakit malam itu setelah mengambil barang sang suami.


Malam yang begitu dingin kini sudah berganti menjadi pagi yang begitu sangat segar. Kicauan burung yang menyapa dengan menari di awan cerah pagi itu menyambut mentari pagi yang mulai menampakkan cahayanya. Tetesan embun di rerumputan hijau halam ruman perlahan mulai mengering serta hangat mentari pagi sudah menyapa tubuh seorang pria yang melakukan push up di halaman rumah.


Tubuh atletis dan keringat yang berjatuhan satu persatu tampaknya menarik perhatian sepasang mata yang baru membuka gorden jendela kamarnya kala itu.


“Kamu tidak kerja?” Mala kaget melihat sang Ibu yang sudah tampak rapi masuk ke kamarnya.


Seketika tubuh Mala berbalik dan menutup korden jendelanya. “I-bu, kok sudah di sini? Bukannya semalam di rumah sakit?” tanyanya gugup.


“Kamu kenapa? Kok gugup gitu? Lihat apaan sih?” Sari tak menjawab justru bertanya balik pada Mala dengan tatapan yang menyelidik ke arah balik jendela.


“Enggak, Bu. Bukan apa-apa. Oh iya Ibu kapan pulangnya?” Sebisa mungkin ia mencegah sang ibu mendekat dan meraih lengan sang ibu untuk menuju keluar kamar.


Sari yang melihat gelagat Mala mencurigakan, memberontak ajakan sang anak. Ia menghempaskan tangan Mala dan berjalan cepat menuju jendela.

__ADS_1


Mala sang panik. “Bu, mau kemana? Ayo keluar.” Tarik Mala susah paya.


“Mala, kamu kenapa? Apa yang kamu sembunyikan? Ada apa di sana?” Keduanya saling tarik dan mendorong. Hingga Bimala pun jatuh ke kasur karena dorongan sang ibu yang keras dan tubuhnya juga belum begitu kuat.


“Apa sih yang dia lihat?” gumam Sari saat tiba di jendela tidak menemukan apa pun di bawah sana. Manik matanya kembali menatap sang anak yang terdiam di sisi tempat tidur.


“Cepat kamu siap-siap ke kantor. Ibu mau ke rumah sakit ngurus ayah kamu. Ingat jangan dekat sama laki-laki itu.” tutur Sari dengan tegas.


Mala pun hanya pasrah. “Iya, Bu.” jawabnya.


Seperginya sang ibu, Mala segera mendekat ke jendela lagi. Benar, di sana tak ada siapa pun. Akhirnya ia bisa bernapas lega. “Syukur deh Ibu nggak lihat Arex. Kalau lihat bisa habis aku.”


Di sini Mala membersihkan diri meski ia merasa tubuhnya masih sangat lemas. Namun, untuk tidak masuk ke kantor rasanya tidak mungkin.


Sedangkan di lantai bawah, Sari yang baru saja tiba berpapasan dengan Arex. “Pagi, Bu.” sapa Arex.


Jelas ia melihat satu alis sang mertua menukik tajam. “He kamu, bawa ini dan masukkan ke mobil. Setelah saya pergi, bantu Bi Lala mengurus rumah. Jangan taunya cuma menumpang.” ketus Sari berlalu tanpa ada basa basi pada Arex.


Tanpa bicara, Arex membawakan apa yang di perintah sang mertua.


Selepas kepergian Sari bersama supir, tampak Bimala turun dari tangga dengan penampilan yang sangat rapi. Sungguh, mata Arex jatuh cinta yang kesekian kalinya pada sang istri.


Keduanya bertemu di dekat meja makan, namun mereka tak bertegur sapa. Hingga, Mala yang merasa lemas berpikir meminta tolong pada sang suami.


“Kepalaku masih agak pusing, bisa tolong antar pakai mobilku?” tanyanya dengan wajah kikuk. Malu tentu saja, jika biasanya ia selalu ketus pada sang suami.

__ADS_1


Hai semuanya…maafyah belum bisa crazy up. Semoga berikutnya bisa update banyak yah. Mohon bantuan like dan komentar yah. Terimakasih.


__ADS_2