Ketulusan Sang Dewa

Ketulusan Sang Dewa
Ketahuan Cemburu


__ADS_3

Di teras rumah, pagi yang cerah tampak begitu menyenangkan bagi mata yang memandang dengan kehausan indahnya langit biru serta kuningnya mentari pagi.


“Bu, ayo cepat pulang. Pagi ini Ayah harus melihat Ibu di rumah. Kalau tidak, Ayah pergi keluar kota cari istri lagi.” tutur Tuan Wijaya mengancam sang istri yang hingga saat ini belum mau menampakkan wajahnya pada sang menantu.


“Tidak, Ayah. Kalau pun Ibu pulang. Kita harus pindah rumah. Ibu tidak mau bertemu laki-laki itu. Ibu benci dia.” tutur Sari yang masih ingat bagaimana rasanya wajah angkuhnya tertampar dengan kenyataan.


Mendengar bagaimana kerasnya hati sang istri, Wijaya menggeleng pusing. “Sepertinya semalam mimpiku benar-benar tepat. Tuhan memberi aku jodoh di Kota Bandung saat peninjauan proyek. Baiklah, kalau Ibu memang tidak akan pulang.” Manik mata Sari mendelik kesal mendengar sang suami berkata demikian.


“Ayah!” teriaknya emosi.


Sementara Tuan Wijaya terkekeh tanpa suara mendengar istrinya naik pitam. Segera ia mematikan sambungan telepon.


Bahagia sekali rasanya berhasil mengerjai sang istri, tidak tahu saja jika di sana Sari sudah meradang. Bahkan salonpas yang menempel di bagian kening, pelipis, dan punggung terasa tak berfungsi lagi. Pusingnya semakin bertambah.


Yah beberapa hari ini, Sari merasakan tubuhnya lemas dan tidak sehat. Beruntuk sang kakak mau menampunnya dan merawatnya yang sakit. Sakit karena menantunya ternyata sang milyarder.


Dan kini, di tempat yang berbeda. Mobil melaju meninggalkan halaman yang luas dan asri itu. Pagi itu, Arex berniat menjemput paksa sang istri yang merajuk tidak jelas.


Semalaman ia menunggu Bimala pulang hingga Arex terlelap di tempat tidurnya, berpikir istrinya akan pulang ternyata tidak.

__ADS_1


Tok tok tok


Terdengar ketukan kaca jendela mobil di samping, supir yang sejak semalam ternyata masih berada di mobil hingga tertidur.


“Permisi, Pak?” Pelayan yang di suruh Tuan Wijaya mengecek mobil akhirnya melihat pria paruh baya menurunkan kaca mobil.


Mata mengantuk dan wajah kusut terlihat jelas di pria itu. “Iya, ada apa yah?” tanya Pak Amir serak.


“Bapak di panggil Tuan.” ucap pelayan menunjuk ke arah Tuan Wijaya yang duduk di teras menikmati secangkir kopi.


Segera Pak Amir melangkah menuju teras. Ia menunduk hormat dengan wajah sungkannya. “Maaf, Tuan.”


Sekali lagi Pak Amir mengangguk sopan. Tidak apa-apa, Tuan. Saya takut nanti Nyonya mencari saya mau pulang.”


Tuan Wijaya benar-benar pusing melihat tingkah sang anak yang selalu bertindak sesuka hatinya.


Kini Pak Amir pun di antar pelayan untuk masuk ke salah satu kamar yang kosong. Disana ia membersihkan diri dan istirahat sejenak.


“Bimala!” Teriak Tuan Wijaya pagi itu hendak memarahi sang anak.

__ADS_1


Bukannya menyahut, Bimala justru buru-buru turun dari kamar dengan penampilan yang sudah rapi.


Bersamaan dengan itu, mobil yang baru tiba menyita perhatian Tuan Wijaya, di sana Arex baru turun dari mobil dengan merapikan jas kerjanya.


“Pagi, Ayah.” Sapa Arex mencium punggung tangan sang mertua.


Di dalam sana manik mata Arex melihat wajah cantik sang istri yang menekuk kesal padanya.


“Masih ingat punya istri ternyata? Bukankah seharian sampai malam kau sudah lupa punya istri? Apa wanita itu belum cukup untukmu?” ketus Bimala memperlihatkan kecemburuan yang tanpa sadar ia keluarkan di depan suami dan ayahnya pagi-pagi.


Tuan Wijaya menyembunyikan senyuman di wajahnya sembari melirik sang menantu.


“Ayo sarapan, Rex.” ajak Tuan Wijaya berusaha mencairkan suasana. Sayangnya Bimala segera merentangkan tangannya kesal.


“Ayah, tidak ada acara sarapan-sarapan buat dia. Ayah tahu, pria yang ayah bilang suami idaman ini sudah selingkuh. Mala kemarin lihat perempuan seksi datang ke kantor. Pokoknya, dia jangan ke rumah ini lagi!” Bimala mendorong tubuh besar sang suami hingga ia sendiri yang terdorong ke belakang.


Tenaga Bimala tak sebanding tentunya dengan kekuatan Arex meski tak bergerak sedikit pun.


“Ayah, sepertinya kami sarapan di luar saja. Besok kami akan sarapan di sini menemani Ayah. Cemburunya Bimala sulit jika tidak di selesaikan berdua, Yah.” Bola mata Bimala membulat sempurna mendengar sang suami mengatakan jika ia cemburu.

__ADS_1


__ADS_2