
Makan malam pun usai dengan keduanya yang sama-sama tak bicara apa pun, hingga keheningan terhenti kala ketukan pintu kamar terdengar.
Tahu jika kamar itu kedap suara, pelayan segera membuka pintu kamar milik Arex. Dua gelas jamu buatannya ia antar di depan sang majikan.
“Ini, Tuan jamunya. Agak sedikit amis. Tapi pasti enak kok.” Arex mengangguk tanpa suara.
Bimala hanya melihat ekspresi wajah sang suami. “Bi, ini sekalian yah. Kami sudah selesai makannya.” Ucapan Bimala mendapat anggukan dari sang pelayan.
Pintu tertutup bersamaan dengan pelayan yang sudah pergi. Kini Arex beralih menatap wajah sang istri.
Seperti aneh melihat tatapan itu, Bimala mengernyitkan dahinya. “Ada apa, Rex?” tanyanya heran.
“Minumlah. Ini untukmu. Dan ini untukku.” Ia secepat kilat menenggak habis jamu telur ayam kampung itu.
Berbeda dengan Bimala yang ingin muntah saat hendak menenggak. “Uwee,” teriaknya menjauhkan gelas itu tak jadi meminum.
“Mal, ayo minumlah. Jangan di cium. Aku tidak menyuruhmu menciumnya. Begini caranya.” Segera Arex menyodorkan gelas itu secara bersamaan tangannya menutup hidup mancung Bimala.
“Rex aku mau muntah.” keluh Bimala merasa benar-benar geli di perut dan tenggorokan.
“Ini mangga, nanti pasti akan enakan lagi rasanya setelah memakan buah.” pintah Arex menyuapi sang istri.
Ia kasihan jika Bimala kelelahan sedang besok mereka harus perjalanan ke Singapur. Dua gelas ramuan sang bibi membuat mereka sedikit lebih akrab lagi.
“Sekarang tidurlah, aku akan menyusulmu.” pintah Arex yang mengecup kening istrinya.
Bimala mengurungkan niat untuk tidur saat mendengar ucapa sang suami. “Lalu kamu mau kemana?” tanyanya penasaran.
Arex menoleh kembali dan membatalkan berdirinya. “Aku harus memeriksa pekerjaanku sedikit. Biar di Singapur nanti bisa fokus untuk Ibu.”
Arex begitu perhatian sekali pada mertuanya, Bimala terdiam. Ia sangat jatuh hati beribu-ribu kalinya pada suami tampannya ini. Sungguh tak pernah ia sangka Arex membuatnya jadi tergila-gila meski sedikit ada gengsi yang ia tahan untuk menjadi istri bucin pada suaminya.
“Tahan Bimala, kendalikan dirimu. Jangan bucin akut. Bisa jatuh reputasinya, pertahankan elegan mu.” batin Bimala berperang pada batinnya sendiri.
__ADS_1
Arex yang melihat istrinya hanya diam segera merebahkan tubuh Bimala lalu menutupnya dengan selimut. “Istirahatlah, kau pasti sangat lelah.”
Tak ada jawaban selain senyuman yang tampak meleleh di wajah manis milik wanita berkulit sawo matang itu.
Arex kini sudah duduk di kursi kerjanya, email tampak banyak yang masuk tak seperti dugaannya yang hanya beberapa saja.
Ia pun mendesah panjang. “Huh ini sangat banyak sekali. Bagaimana mungkin aku menyelesaikan ini semuanya? Sepertinya aku butuh mereka.” Senyuman jahil penuh rencana Arex tampilkan di wajah tampannya itu.
Sebuah benda pipih menjadi sasaran Arex saat ini.
“Segera ke rumah saat ini juga!” Dua pesan yang berisi sama terkirim oleh dua nomor yang tidak asing.
Tring!
Trinf!
Dua ponsel milik Luna dan Reno sama-sama berdering menandakan ada pesan yang masuk.
“Aduh siapa sih?” Luna menggerutu sembari mengusap kedua matanya yang begitu berat terbuka.
“Hah, Tuan Arex? Jam setengah satu? Ini masih malam kan?” Ia mengerjap berusaha mengumpulkan kesadaran. Rasanya seperti mimpi, namun itulah pekerjaannya.
Segera ia membasuh wajah dan sedikit membasahi rambut agar tidak mengantuk. Untuk mandi rasanya tidak akan sempat. Ia mengambil motor besar miliknya dan melajukan motor sport kesayangannya itu.
Tak jauh berbeda dengan Reno yang sedang mengorok, seketika suara merdu dari mulutnya terhenti dan ia terbatuk-batuk. Tangannya meraba ponsel miliknya lalu membuka mata.
“Astaga! Ini jam satu malam kan?” pekiknya sangat terkejut.
Tanpa ba bi bu, ia pun berlari menuju kamar mandi untuk membersihkan wajah dari serangan kantuk.
Lalu melajukan motor trail miliknya.
Kediaman mewah milik Arex tak sepi sama sekali, beberapa penjaga yang bagian tugas malam tampak menyambut kedatangan dua orang kepercayaan Tuan mereka.
__ADS_1
Tak ada sapaan kata, hanya gerakan tubuh. Dan Reno segera berlari masuk bersama Luna, mereka menuju ruang kerja sang Tuan. Di sana Arex sedang berkutat dengan laptop miliknya.
Ia menoleh sejenak lalu kembali lagi pada laptopnya.
“Email ini sangat banyak. Rasanya tidak mungkin aku memeriksa semuanya. Kalian berdua bisa mengatasi ini, lakukan dengan baik karena aku sangat lelah menyelesaikan pekerjaan sejak pulang kantor tadi.”
Tak ada jawaban yang Luna dan Reno keluarkan. Meski mata mereka saling bertanya-tanya akhirnya hanya bungkukan hormat yang mereka berikan melihat Arex sudah melangkah keluar ruangan kerjanya.
“Semangat!”
“Semangat juga,” keduanya saling memberi semangat di tengah kantuk dan lelah menyerbu tubuh mereka.
Sedangkan pria yang baru keluar dari ruangan itu tersenyum-senyum tidak jelas. “Ini pasti karena jamu itu, aku menginginkannya lagi. Ah Bimala, kau membuatku benar-benar tidak betah berada di luar kamar lama-lama.”
Pintu kamar pun terbuka saat Arex memasuki kamarnya. Di sana wanita kesayangannya tengah menikmati tidur lelapnya. Tanpa membangunkan sang istri, tangannya kini sudah bergerak lincah memainkan milik sang istri hingga tidur nyenyak Bimala terpaksa berhenti saat merasakan bibirnya terbungkam oleh sesuatu.
“Eumm Rex kamu membangunkan ku.” Suara serak Bimala karena bangun tidur. Sayup-sayup matanya bisa melihat tatapan menginginkan sang suami.
“Jamu itu membuatku benar-benar menginginkanmu lagi, Mal. Aku bernafsu karena jami buatan bibi.” ujar Arex dengan penuh semangatnya melancarkan aksi.
“Kamu sembarangan. Aku meminum jamu itu tidak ada rasa apa pun di tubuhku. Aku hanya lelah, kau saja yang berpikir kesana terus. Lagi pula bibi bilang itu hanya jamu penguat, bukan membuat gairah.” panjang lebar Bimala menjelaskan di tengah-tengah ia harus bersuara menikmati permainan sang suami.
Benar saja, malam itu Bimala benar-benar tak bisa tidur sampai jam di dinding menunjuk angka empat. Tanpa lelah Arex terus membuatnya menjerit sakit dan nikmat.
Sungguh, rasanya tubuh Bimala benar-benar letih. Matanya terus tertuju pada jam dinding yang kini jarum panjangnya berada di angka 12. Artinya tepat pukul 4 subuh. Dan bersamaan dengan itu tubuh besar sang suami tumbang di sampingnya.
Keringat benar-benar membasahi tubuh Arex. Pikirannya terus tertuju pada jamu buatan sang pelayan.
“Jamunya benar-benar manjur. Ini sunggu memabukkan.” gumam Arex tersenyum puas.
Meski sebenarnya bukanlah jamu itu yang menjadi gairahnya. Melainkan ini memanglah awal-awal penyatuan mereka dimana rasa nikmat itu akan jauh terasa di banding permainan yang berikut-berikutnya.
Tanpa ia tahu jika dua orang di ruang kerjanya saat ini berusaha terus menegakkan kepala mereka yang beberapa kali bergoyang ke kanan ke kiri dan menunduk hampir terjatuh. Tapi, Luna mau pun Reno sama sekali tak menyerah. Mereka terus kembali menegakkan tubuh mereka.
__ADS_1
Bahkan tulisan di depan layar itu sudah seperti hanya coretan hitam yang lurus tanpa ada pola huruf lagi.