Kisah Kita Belum Usai

Kisah Kita Belum Usai
BAB 10


__ADS_3

Tubuh Asha masih bergemetar dengan hebat. Bahkan untuk memegang gelas saja rasanya tidaklah kuat, hingga akhirnya gelas yang dipegangnya jatuh ke lantai.


Pyaar...


Gelas itu berubah menjadi serpihan kaca. Ibarat kata, begitulah hati Asha yang telah hancur.


Darah segar mengalir begitu saja, karena kaki Asha terkena serpihan pecahan gelas. Dia pun meringis sambil menjauh dari tempat itu. Rasa sakit yang telah dilupakan, kini rasanya berdenyut kembali setelah pertemuan dengan Askara beberapa menit yang lalu. Asha tidak tahu apa yang akan dilakukan jika suatu saat nanti bertemu dengan Askara.


"Ya Allah ... apa yang harus aku lakukan? Apakah aku terlalu egois hingga aku melupakan jika anakku butuh peran seorang ayah dalam hidupnya. Kenapa aku harus bertemu dengan Kara lagi? Kenapa?" Air mata Asha tumpah untuk mengeluarkan rasa yang tertahan didalam hatinya.


Selama ini Asha mencoba untuk menutup lukanya dan mengatakan pada Bunga jika ayahnya telah tiada. Beruntung saja Bunga mengerti akan hal itu dan tak pernah sedikitpun menanyakan tentang ayahnya. Dalam diam, Bunga selalu berdoa agar ayahnya bahagia di alamnya. Alasan Bunga tak pernah menanyakan sang ayah pada bunda, karena Bunga tidak mau membuat Bundanya sedih lagi jika harus mengingat ayahnya.


Karena pertemuan tak terduga itu, Asha menjadi tidak fokus saat mengerjakan pekerjaannya. Bahkan saat dia ingin menyetrika, dia baru mengingat jika pewangi pakaiannya telah habis.


"Astaga ... bagaimana ini? Mana hari juga udah siang?" geretu Asha. Namun, Asha tak kehilangan akal. Dia langsung menghubungi ojol untuk membelikan apa yang diperlukan. Beruntung saja kang Ojol sudah mengenal Asha, sehingga mau untuk membeli dengan uangnya terlebih dahulu.


"Untuk sementara, aku enggak boleh kemana-mana agar tak ditemukan oleh Kara."


*


*


Berbeda dengan Asha yang sedang berada dalam Kekhawatiran, saat ini Bunga benar-benar merasa sangat bahagia karena bisa mengunjungi kebun binatang yang selama ini hanya ada dalam khayalannya saja.

__ADS_1


Sebenarnya jarak tidak terlalu jauh, hanya saja banyak yang menjadi pertimbangan Bunga menyimpan rapat-rapat keinginannya untuk mengunjungi kebun binatang itu. Salah satunya adalah tentang biaya. Selain itu pasti juga akan merepotkan Bundanya. Dan Bunga tidak mau hanya karena keinginan Bundanya harus kehilangan banyak waktu untuk mengerjakan pekerjaannya.


"Bunga, mengapa Bunda kamu gak ikut. Lihatlah, semua anak-anak ditemani sama mamanya," celetuk salah seorang teman Bunga.


Bunga berusaha tersenyum dan menjawab, "Karena aku sudah besar dan tidak mau merepotkan Bunda. Kalau Bunda menemaniku, lalu siapa yang akan mencuci dan menyetrika baju pelanggannya?"


"Tapi kan ini momen yang spesial. Masa cuma satu hari aja bunda kamu gak punya waktu sih? Mama aku aja yang kerja di kantor bisa ngantarin aku."


Bunga terdiam untuk sesaat. Sebenarnya bukan Bundanya tidak mau meluangkan waktunya, tetapi memang Bunga yang tidak mau diantar oleh Bundanya.


"Kalian berdua ngapain disini?" Miss Queen datang tepat pada waktunya. "Sekarang waktunya makan siang sebelum kita pulang. Ayo, gabung sama teman-teman!" ujarnya lagi.


"Iya, Miss." teman Bunga pun langsung meninggalkan Bunga yang masih berdiri ditempat.


"Bunga gak papa kan?" tanya Miss Queen untuk memastikan.


Beruntung saja Miss Queen sempat mendengar perbincangan dua anak didiknya, sehingga dia bisa tahu apa yang sedang mereka bahas. "Ya udah, ayo gabung sama teman-teman yang lain!"


Dengan patuh, Bunga pun mulai bergabung dengan teman-teman untuk makan siang. Matanya mengedar untuk menangkap disekelilingnya, dimana hampir semua temannya diantar oleh orang tua mereka. Tapi juga ada beberapa teman yang tidak diantar oleh orang tuanya, ya meskipun hanya sekitar lima orang saja. Namun, setidaknya saat ini Bunga tidak sendirian.


"Bunga sini!" panggil Sinta.


Bunga yang dipanggil pun langsung berjalan kearah Sinta. "Ayo makan!"

__ADS_1


Bunga tersenyum kecil dan langsung membuka sepatu yang dipakainya. Namun, saat hendak duduk disamping Sinta, seorang teman mendorong tubuh Bunga hingga terjatuh dan mengenai beberapa makanan yang telah disiapkan.


Semua mata tertuju pada Bunga. Banyak mata yang menatapnya dengan penuh ketidaksukaan pada Bunga.


"Bunga! Apa yang kamu lakukan! Kamu sudah menghancurkan makanan kita!" seru salah seorang ibu dari temannya.


Miss Queen yang melihat Bunga terjatuh langsung bergegas untuk menolongnya. "Bunga kamu tidak apa?" tanya Miss Queen dengan panik.


Bunga menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Bunga tidak apa-apa, Miss. Maaf sudah menghancurkan makan siangnya," ujar Bunga dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Tidak apa. Ayo, Miss bantu bersihin baju kamu!"


"Seharusnya anak itu tidak usah ikut. Anak haram hanya akan menyusahkan dan membuat sial saja!" celetuk salah satu diantara ibu-ibu yang sedang menyuapi anaknya makan siang.


"Betul itu, Bu. Masih untung gak diusir sama warga. Kalau aku yang jadi tetangganya, mungkin udah aku usir sejak dulu. Bikin malu aja!" sambung ibu dari anak yang mendorong Bunga tadi.


Miss Queen hanya bisa mengelus dada dan langsung membawa Bunga ke kamar mandi. Beruntung saja bundanya Bunga membawakan Bunga pakaian ganti sehingga Bunga bisa memakai pakaian itu.


"Bunga, dengerin Miss! Bunga jangan dengerin apa yang katakan ibu-ibu tadi ya! Miss tahu tadi Bunga di dorong sama Alvino, jadi Bunga enggak boleh merasa bersalah, Oke!" hibur Miss Queen pada Bunga.


Tanpa kata Bunga langsung memeluk Miss Queen yang berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Bunga.


"Miss ... mengapa mereka selalu tidak menyukai Bunga dan Bunda. Anak haram itu apa, Miss? Mengapa mereka selalu mengatakan kalau Bunga itu anak haram?"

__ADS_1


Mendadak tubuh Miss Queen membeku. Sungguh dia tidak tahu harus memberikan jawaban apa atas pertanyaannya Bunga yabg rasanya menyayat hatinya.


...~BERSAMBUNG~...


__ADS_2