
Di Dalam kelas Bunga dikerumuni oleh beberapa orang temannya. Mereka yang mendengar kabar jika Bunga mengalami kecelakaan langsung mengajukan beberapa pertanyaan pada Bunga.
"Apakah lukamu tidak sakit" tanya Nina teman dekat Bunga.
"Enggak. Ini hanya lecet biasa aja, kok. Diolesi salep juga udah sembuh. Buktinya aku masih masuk sekolah. Artinya aku baik-baik aja. Tapi kalian jangan bilang sama Bundaku, ya! Bunda pasti akan mengkhawatirkanku dan tidak fokus pada pekerjaannya. Aku tidak mau membuat Bunda bersedih," ucap Bunga penuh harap pada beberapa orang temannya.
"Tapi mamaku udah cerita sama Bunda kamu. Mamaku bilang kalau kamu terserempet mobil dan dibawa ke rumah sakit terdekat," celetuk Aini salah satu teman Bunga juga.
Mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Aini, Bunga langsung membulatkan matanya dengan lebar. "Serius? Jadi mama kamu uda kasih tahu Bundaku." Bunga tiba-tiba menjadi lemas. Apa yang akan dia perjelaskan pada Bundanya mengenai insiden kemarin jika dirinya tidaklah jatuh, melainkan terserempet sebuah mobil?
"Bunga, jangan takut. Kan kamu enggak salah. Yang salah itu Om yang bawa mobil. Kata mamaku jika kemarin terjadi sesuatu padamu, maka warga semua mau menghajar Om itu. Bersyukurlah kamu enggak apa-apa," kata Aini lagi.
Sebenarnya Bunga tidak takut terkena marah oleh Bundanya, dia hanya tidak ingin membuat Bundanya khawatir. Sudah itu saja.
"Bunga jangan bersedih. Jika kamu bersedih, kita semua juga akan bersedih," timpal Nina.
Sekalipun mereka masih kecil, tetapi mereka mempunyai pemikiran yang dewasa. Meskipun antara Bunga dengan Aini layaknya langit dan bumi, tetapi tak membuat Aini membenci Bunga karena keadaan Bunga yang berada dibawahnya. Bunga adalah salah satu anak yang menciptakan aura positif, jadi tak heran jika sebagian dari teman-teman Bunga menyukainya. Namun, ada juga yang tidak menyukai Bunga karena Bunga dari golongan miskin dan tidak mempunyai ayah.
__ADS_1
Saat keluar untuk bermain, Bunga terkejut saat melihat Bunda belum pulang. Dengan langkah pelan, Bunga pun menghampiri sang Bunda dan bertanya, "Bunda …. Kok Bunda masih berada disini? Bunda tidak mengantarkan baju-baju itu?"
Kepala Asha menggeleng dengan pelan. Matanya menatap Bunga dengan sendu. Entah apa yang ada didalam pikiran sang anak sehingga menutupi apa yang sebenarnya terjadi.
"Sayang … kamu beneran enggak apa-apa? Kenapa kamu berbohong pada Bunda? Bukankah Bunda sudah pernah mengatakan pada Bunga harus berbicara jujur, sekalipun itu pahit."
Bunga tertunduk. Dia tahu kesalahan apa yang telah dibuatnya. "Maaf, Bunda. Bunga salah," akunya dengan kepala menunduk, karena Bunga tak berani untuk menatap Bundanya.
"Kenapa Bunga bilang kalau Bunga hanya jatuh enggak bilang kalau Bunga terserempet mobil?" tanya Asha yang masih bisa mengontrol emosinya. Ibu mana yang tidak shock ketika anaknya mengalami kecelakaan tanpa sepengetahuannya.
"Tapi Bunga enggak apa-apa, Bun. Bunga baik-baik aja. Ini hanya lecet karena jatuh ke tanah," terang Bunga.
"Iya, Bunda tahu kamu baik-baik saja, tetapi setidaknya kasih tahu kepada Bunda jika kamu habis terserempet oleh mobil. Bunga … bukankah Bunda sudah pernah mengatakan kepada Bunda untuk tetap berbicara jujur meskipun itu terasa pahit?"
Bunga mengangguk pelan. "Iya, Bunda. Maaf Bunga sudah berbohong kepada Bunda. Bunga hanya tidak ingin Bunda terlalu mengkhawatirkan Bunga, sehingga akan mengganggu pekerjaan Bunda. Sekali lagi maafkan Bunga. Lain kali tidak akan Bunga ulangi lagi," sesal Bunga.
Asha pun langsung merangkul tubuh kucing itu seraya mengelus rambutnya. "Tolong, lain kali jangan bohongi Bunda lagi ya. Bunda sayang sama Bunga. Bunda tidak mau terjadi sesuatu kepada Bunga, karena di dunia ini Bunda hanya memiliki Bunga."
__ADS_1
"Iya, Bunda."
*
*
Hampir tiga jam Asha menunggu Bunga hingga pulang. Dia ingin memastikan bahwa anaknya baik-baik saja. Dalam hati Asha merasa gagal menjadi seorang ibu yang tidak bisa memberikan yang terbaik untuk anaknya. Terkadang hatinya menangis saat Bunga bertanya tentang ayahnya. Bagaimana bisa Asha menjelaskan kepada Bunga jika ayahnya masih hidup. Bahkan mungkin sekarang dia sudah hidup bahagia dengan pasangan barunya.
Tujuh tahun bukanlah waktu yang sebentar, tetapi bayang-bayang saat Asha pergi meninggalkan Askara masih sangat jelas di dalam ingatan. Andaikan saja saat itu Asha tidak pergi, mungkin saat ini Bunga tidak pernah merasakan kesusahan seperti saat ini. Namun, terlambat untuk disesali karena itu sudah menjadi keputusan Asha.
"Bunda, menangis?" tanya Bunga saat melihat Asha menyapu jejak air matanya.
"Enggak, Sayang. Bunda nggak nangis. Orang besar kan tidak boleh menangis," tepis Asha.
Seketika Bunga terdiam. Dalam benak bocah itu, dia merasa sangat bersalah, karena telah membohongi Bundanya. Tangan mungil itu pun langsung menyeka air mata yang masih menetes membasahi pipi Asha. Dengan cepat Bunga berkata, "Bunda jangan nangis. Kalau Bunda nangis, Bunga ikut sedih. Semua gara-gara Bunga. Bunda nangis karena Bunda kecewa dengan Bunga yang udah bohongin Bunda kan?"
"Tidak, Sayang. Bunda tidak menangis karena itu. Tapi Bunda menangis karena setiap hari hujan terus dan baju-baju yang Bunda cuci tidak kering. Bunga jangan berpikir macam-macam. Kan Bunda udah maafin Bunga, asalkan Bunga enggak mengulangi kesalahan yang sama."
__ADS_1
...~BERSAMBUNG~...