
Mobil yang dikendarai Kara telah sampai di pekarangan rumah Varo. Namun, pemandangan tak terduga terjadi di rumah Varo dimana banyak orang terus berdatangan ke rumahnya. Mata Karajuga menangkap bendera kecil berwarna kuning tertancap di pagar rumah Varo. Itu artinya sedang ada kabar duka dari rumah Varo.
"Ayah, di rumah Varo ada apa? Mengapa banyak orang yang terus berdatangan ke rumahnya?" tanya bunga yang merasa heran dengan orang-orang yang terus berdatangan.
"Ayah juga tidak tahu, Sayang. Tapi jika melihat bendera yang tertancap di pagar sepertinya sedang ada yang meninggal."
Tubuh Bunga mendadak membeku dengan penjelasan yang diberikan oleh ayahnya. Bunga juga tidak tahu siapa yang meninggal, tetapi pikiran Bunga mengarah pada Varo yang selamat beberapa hari ini kurang fit. Bunga pun langsung menerka-nerka jika itu adalah Varo.
"Ayah, ayo turun! Ayo kita lihat siapa yang meninggal, Yah! Bunga takut jika itu adalah Varo!" rengek Bunga tiba-tiba.
Kara hanya bisa menautkan kedua alisnya. Karena dia pun juga merasa penasaran. Akhirnya memilih turun untuk memastikan siapa yang meninggal di rumah Varo.
Dada Bunga terasa sesak saat melewati beberapa orang dewasa. Bahkan tangan Bunga menarik erat tangan ayahnya agar berjalan lebih cepat lagi.
"Bunga, pelan-pelan saja, Nak!" Kara hampir terjatuh karena Bunga terus menariknya.
"Tidak bisa, Yah! Bunga harus memastikan siapa yang meninggal!" tegas Bunga.
__ADS_1
Terdengar isak tangis dari dalam rumah. Mata Bunga langsung menyapu setiap sudut, berharap dia bisa menemukan sosok yang dicarinya.
"Bunga, kamu mau ngapain kesana?" tanya Kara saat taman Bunga terus menariknya untuk dekat ke arah sosok yang telah terbungkus kain kafan.
"Bunga hanya ingin memastikan siapa yang meninggal, Yah!"
"Tapi kita bisa bertanya dengan para pelayat yang ada. Ayo, kita keluar!" Kara mencoba untuk menarik tangan anaknya untuk keluar.
"Tidak ayah! Bunga harus memastikan terlebih dahulu!"
Namun, saat langkah Bunga hampir mendekat tiba-tiba seseorang muncul tepat di hadapannya.
Mata Bunga langsung mendelik dengan lebar. "Varo," ucapnya dengan gusar. "Varo ... ini yang meninggal siapa?"
"Syukurlah bukan kamu yang meninggal." Kini Bunga bisa bernafas dengan lega.
"Apakah kamu akan merasa sangat senang jika aku yang meninggal?"
__ADS_1
Bunga langsung menyanggah tuduhan yang diberikan kepadanya. "Bukan seperti itu, Varo. Aku tuh sejak tadi udah khawatir sama kamu karena kesehatan kamu beberapa terakhir ini sedang tidak baik. Lalu siapa yang meninggal, Varo?" tanya Bunga ingin tahu.
Mendadak Varo terdiam tanpa kata dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Bibirnya terasa keluh untuk menyebutkan siapa yang saat ini terbaring dengan balutan kain kafan.
"Varo ... " Tiba-tiba Kara langsung memeluk tubuh Varo. "Om turut berdukacita. Varo, kamu harus kuat! Kita semua pasti akan kembali kepada Allah. Kita semuanya hanya menunggu gilirannya saja. Menunggukapan waktu itu akan tiba. Bukan hanya ayah kamu saja yang akan pergi meninggalkan kamu, tetapi suatu saat Om juga akan pergi meninggalkan Bunga."
Kara tahu jika yang meninggal adalah ayah Varo, karena matanya tak sengaja menangkap foto ayah Varo di dekat jenazahnya.
Varo tak bisa menahan kesedihan yang sedang dia rasakan. Dalam pelukan Kara dia menumpahkan tangis yang sejak tadi malam ditahan.
Ayah Varo mengalami kecelakaan saat ingin membawa Varo untuk ke rumah sakit. Dalam kecelakaan itu Varo seperti sedang dilindungi oleh malaikat karena masih bisa selamat. Hanya luka ringan yang menggores tangan dan kakinya. Namun, tidak dengan kondisi ayahnya yang sangat parah sehingga tak bisa terselamatkan.
"Bagaimana Varo bisa kuat jika saat ini Varo sudah tidak punya siapa-siapa lagi, Om." Varo masih terisak dalam dekapan Kara.
"Siapa bilang kamu tidak memiliki siapa-siapa lagi? Meskipun ayah kamu sudah pergi, tetapi disini ada Om dan Tante yang akan ada untukmu. Bahkan ada Bunga juga. Jangan bersedih, karena kesedihanmu itu hanya akan membuat ayah kamu juga ikut bersedih."
Tubuh Bunga pun seketika membeku saat mengetahui siapa yang meninggal. Dadanya terasa berdenyut. Bunga tidak bisa membayangkan jika itu terjadi padanya. Pasti rasanya akan sangat sakit.
__ADS_1
...****...