Kisah Kita Belum Usai

Kisah Kita Belum Usai
BAB 5


__ADS_3

Seperti biasa, setiap sore Bunga akan membantu Bundanya untuk mengangkat pakaian yang telah kering. Semua ini murni keinginan Bunga yang ingin membantu ibunya. Sebenarnya bukan tidak bersyukur memiliki anak yang pengertian dan suka membantu, tetapi saat ini belum waktunya hari-hari Bunga dihabiskan untuk membantu pekerjaan Bundanya.


"Bunga … biar ibu saja yang mengangkatnya!" ujar Asha saat melihat Bunga telah mengambil satu persatu pakaian yang telah kering.


"Enggak apa-apa, Bunda. Bunga kan ingin bantuin Bunda," tolak Bunga.


"Iya, Bunda tahu. Tapi Bunda enggak mau Bunga kecapekan, tadi kan udah ikut keliling ambil pakaian kotor."


"Enggak apa-apa Bunda. Biar cepat selesai pekerjaan Bunda. Apakah Bunda enggak suka Bunga bantuin? Kenapa setiap Bunga bantuin, Bunda selalu melarang?" Kini pertanyaan tak terduga itu keluar dari bibir mungil sang anak.


Asha hanya menelan kasar salivanya. Dia pun langsung mendekat kearah Bunga. "Bukan begitu, Sayang. Bunda senang kok anak Bunda mau bantuin Bunda, tapi bunda hanya tidak mau anak Bunda kecapekan, Sayang."


"Kan Bunga udah bilang kalau Bunga enggak capek, Bunda." Bunga bersikeras pada keinginan.


"Baiklah, tapi gak abis ini Bunga mandi dan bersiap untuk ngaji, ya! Ini udah sore!"


"Iya, Bunda."


*


*


Sudah menjadi kebiasaan setiap pukul lima sore sampai selesai magri anak-anak seusia Bunga bahkan diatasnya akan mengaji di masjid terdekat. Bunga yang hampir terlambat datang langsung dikerumuni beberapa temannya yang menayangkan mengapa Bunga hampir terlambat.


"Bunga … apakah kamu membantu ibumu lagi?" tanya Aini.

__ADS_1


"Iya. Hari ini cucian ibuku banyak sekali. Jadi aku bantuin angkat jemuran dulu baru mandi. Apakah sudah dimulai?"


"Belum. Ini baru mau dimulai. Ayo cepat masuk!" Aini menarik tangan Bunga agar segera masuk kedalam masjid.


Kegiatan rutin mengaji adalah sebuah gagasan dari anak karang taruna kompleks. Para pemuda sengaja mendirikan kegiatan rutin mengaji setiap sore agar mereka tidak kehilangan generasi penerus mereka, mengingat saat ini sudah banyak anak yang tidak peduli akan Alquran sebagai pedoman hidup.


"Bunga, lusa kamu ikut kan ke kebun binatang?" celetuk salah satu teman sekolah Bunga.


Bunga terdiam. Dia belum bisa memberikan jawaban, karena dia tahu ikut piknik ke kebun binatang itu butuh biaya. Dan Bunga tidak sanggup untuk meminta uang pada Bundanya. Dia tahu bagaimana sulit sang Bunda mengumpulkan uang untuk biaya makan dan sekolahnya. Jika Bunga ikut, pasti akan membuat beban untuk Bunda lagi.


"Sepertinya aku tidak ikut. Aku tidak mau Bunda terbebani dengan semua biayanya. Aku tidak mau bundaku bersedih," ucap Bunga dengan lapang. Ya, meskipun dalam hati bunga sangat menginginkan ikut pergi ke kebun binatang bersama dengan teman-temannya, tetapi Bunga juga memikirkan kondisi keuangan Bundanya.


"Yah ... padahal selama ini kan kamu belum pernah pergi ke kebun binatang. Sayang sekali, Bunga. Kata mamaku, di sana kita bisa naik gajah dan unta, lho."


Siapa yang menyangka percakapan dua orang anak terdengar di telinga Askara yang baru saja menyelesaikan salat magribnya. Hatinya tersenyum saat mendengar jawaban yang tak terduga dari anak seusia Bunga, dimana dia masih memikirkan keadaan orang tuanya, sekalipun usianya masih 6 tahun.


Dan betapa terkejutnya saat Askara menyadari jika kata-kata itu baru saja keluar dari bibir gadis kecil yang beberapa hari lalu terserempet. Dia tidak menyangka gadis itu memiliki pemikiran yang sangat dewasa. Karena hatinya tersentuh Askara pun langsung mendekati dua orang anak kecil yang duduk di belakangnya.


"Hai ... " sapa Askara pada Bunga dan temannya. "Kita ketemu lagi."


Bunga terkejut karena bisa bertemu dengan orang yang beberapa hari lalu ditemuinya. Bahkan orang itu sampai memesankan ojek online untuk dirinya sampai di depan rumah.


"Om ... " ucap Bunga dengan wajah berbinarnya.


"Bunga dia siapa?" bisik Mely, teman yang sejak tadi berbicara dengan Bunga.

__ADS_1


"Ini Om .... " Bunga berdiam untuk sejenak karena Bunga sendiri belum tahu siapa nama pria yang ada di depannya.


"Panggil aja Om Kara. Rumah Om ada di belakang kompleks ini. Om juga baru pindah ke sini sekitar satu bulan yang lalu," jelas Askara.


"Oh, rumah Om Kara rumah yang baru itu ya? Kata mamaku, rumah itu sangat besar. Ternyata Om Kara yang punya," celetuk Mely.


Askara hanya tersenyum kecil. Sudah bisa dipastikan keberadaan dirinya di tengah-tengah warga yang tinggal di sebuah kompleks akan menjadi buah bibir. Askara bisa menebak, karena dia dan Asha juga pernah tinggal di sebuah kompleks kecil. Saat itu usaha kace milik Kara bangkrut dan mau tidak mau Askara banting setir dengan membuka bengkel kecil. Sementara itu Asha, istrinya menjadi tukang cuci baju untuk membantu keuangan Askara saat itu.


"Eh, tadi kalian lagi cerita apa ya? Kok seru bisa naik gajah dan unta?" tanya Askara yang pura-pura tidak tahu dengan topik yang sedang dibicarakan oleh kedua anak kecil.


"Oh ... itu, Om. Lusa kami akan pergi ke kebun binatang tapi Bunga nggak mau ikut karena Bunga nggak mau membebani Bundanya." Mely berkata apa adanya.


Askara pun mengangguk dengan pelan. Dia tahu apa yang harus dia lakukan saat ini.


"Kalian berdua sekolah di mana?"


"Di TK tunas bangsa, Om."laki-laki Mely lah yang menjawab pertanyaan dari Kara.


"Baiklah, Om duluan ya. Kalian ngaji yang bagus dan rajin. Besok Om mampir lagi ke sini. Om juga akan bawa oleh-oleh untuk kalian."


Wajah Mely san Bunga pun terlihat sumringah karena ucapan Kara yang mengatakan akan datang lagi dengan membawa oleh-oleh.


"Wah ... beneran ya Om." Mely sangat antusias.


"Iya. Om janji."

__ADS_1


__ADS_2