Kisah Kita Belum Usai

Kisah Kita Belum Usai
BAB 8


__ADS_3

Untuk pertama kalinya Asha harus melepaskan Bunga pergi tanpa dirinya. Sebenarnya bukan tidak ingin ikut mengantar anaknya rekreasi ke kebun binatang, tetapi Bunga bersikeras tidak mau diantar oleh Bundanya dengan alasan ada Miss yang menjaganya.


Sebagai seorang ibu Asha tidak pernah memaksakan egonya sendiri. Dia sangat menghargai keputusan anaknya meskipun masih berusia 6 tahun, karena menurut Asha putrinya sudah jauh lebih dewasa daripada usianya. Jauh di lubuk hatinya dia benar-benar sangat khawatir karena harus melepaskan Bunga tanpa pengawasannya.


"Bunda tenang saja, Bunga akan aman bersama kami. Saya yang akan bertanggung jawab atas Bunga," ucap Miss Queen untuk meyakinkan Asha.


"Iya, Miss. Saya nitip Bunga, ya. Tolong awasi dia dengan baik. Saya bingung, di saat anak-anak seusia Bunga sangat bahagia ketika akan diantar oleh orang tuanya, tetapi tidak dengan Bunga." keluh Asha.


Miss Queen membuang nafas beratnya. Memangnya diakui, Bunga lain dari anak-anak yang lainya. Meskipun usia mereka sama, tetapi tidak dengan pemikiran Bunga yang jauh lebih dewasa.


."Mungkin Bunga punya alasan tersendiri mengapa dia tidak mau diantar oleh bundanya. Bersyukurlah Bunda memiliki anak seperti Bunga yang sangat pengertian dan menyayangi bundanya. Diusianya yang masih 6 tahun, Bunga sudah memikirkan bagaimana keadaan bundanya. Bahkan Bunga selalu mengkhawatirkan Bundanya, sungguh Bunga anak yang sangat berbakti pada kudanya sekalipun usianya masih kecil. Mudah-mudahan bisa dewasa nanti bunga menjadi orang yang sukses dan terus berbakti kepada bundanya." Miss Queen tak kuasa untuk menahan air mata karena dengan Bunga. Meskipun masih kecil tetapi dia sudah memikirkan bagaimana keadaan Bundanya.


"Kami semua sayang, Bunga. Jadi hari Bunda tidak usah mengkhawatirkan Bunga," lanjut Miss Queen sambil menikah tidak air matanya.


"Baiklah, Miss. Saya percaya pada kalian semua."


Kini Asha hanya bisa melambaikan tangannya pada sebuah bus yang perlahan telah meninggalkan pagar TK. Begitu juga dengan Bunga yang mendada bundanya dari dalam bus. Sebisa mungkin Asha tersenyum saat melepaskan sang putrinya yang tidak mau didampingi olehnya, tetapi Asha tidak sendirian karena ada beberapa orang tua yang tidak bisa mendampingi anak mereka.

__ADS_1


"Kamu beruntung memiliki Bunga." Tiba-tiba lamunan Asha terpecah saat mendengar ucapan seseorang. Asha pun langsung menoleh ke belakang.


"Lho, San! Kamu enggak ikut mendampingi anakmu?" tanya Asha saat melihat Santi temannya yang ternyata juga tidak ikut mengantarkan anaknya.


"Tidak, Sha. Aku harus bekerja. Aku sudah terlalu banyak meminta izin kepada majikanku. Rasanya nggak enak jika harus meminta izin lagi. Takutnya nanti dianggap ngelunjak," jelas Santi.


"Oh iya, gimana dengan tawaran kemarin? Kamu mau nggak aku pinjamkan sama majikan aku. Kamu tenang aja yang akan menjadi jaminan untuk uang yang kamu pinjam," lanjut Santi lagi.


Sebenarnya beberapa hari ini Asha telah memikirkan tawaran yang diberikan oleh. Akan tetapi Asha merasa masih bimbang. Ya, meskipun ide yang diberikan oleh Santi itu adalah ide yang bagus agar usahanya maju, tetapi Asha tidak berani untuk meminjam modal. Asha takut jika kelak dia tidak bisa untuk membayarnya.


Santi pun tidak bisa memaksakan keinginannya agar Asha meminjam modal dari majikannya. Padahal Santi yakin jika majikannya itu pasti akan meminjamkan uangnya kepada Asha.


"Ya udah, apapun keputusanmu aku akan menghargai. Tapi harapanku kamu bisa membuka tempat laundry agar kamu merasa tidak kerepotan."


"Santi ... kamu baik sekali sih!" Asha mulai terharu lagi satu teman yang selalu mendukungnya di saat suka dan duka.


*

__ADS_1


*


Sebelum pulang Asha berniat untuk singgah ke sebuah toko untuk membeli sabun dan pewangi pakaian. Sepanjang perjalanan, Asha terus mengingat apa yang dikatakan oleh Santi. Mungkin jika dia membuka tempat laundry di pinggir jalan akan lebih banyak lagi pelanggan yang datang padanya, karena memang sekitar tempatnya tinggal tidak ada tempat laundry.


"Sebenarnya bagus juga sih ide Santi. Apalagi buka laundry di pinggir jalan. Tapi sewa tempat di pinggir jalan itu mahal. Asha ... jangan banyak mengkhayal! Lebih baik fokus pada kerjaan kamu. Mudah-mudahan suatu saat impian kamu bisa terwujud dan bisa membuka tempat laundry di pinggir jalan." Asha berbicara sendiri. Jika ada yang melihat, mungkin mereka akan mengira Asha kurang satu ons.


Saat Asha hendak masuk ke sebuah toko langganannya, tubuhnya meninggal seseorang yang hendak keluar dari toko itu.


BRUUK ...


Beberapa kantong jatuh ke lantai. Menyadari akan kecerobohannya Asha langsung membantu mengambilkan kantong plastik yang jatuh ke lantai dan memberikan kepada orang yang ditabraknya.


"Aduh ... maaf saya tidak senga—" Asha menggantungkan ucapannya ketika melihat seorang wanita yang tak asing baginya. Bahkan mata Asha langsung terbelalak dengan lebar. Begitu juga wanita yang di depan Asha.


Meskipun usianya sudah tidak seperti dahulu lagi tetapi dia masih bisa mengingat dengan jelas siapa orang yang sedang dia lihat saat ini. "Neng Asha," ucapnya dengan bibir bergemetar.


~BERSAMBUNG~

__ADS_1


__ADS_2