
Sekalipun Asha mencoba untuk menjadi wanita kuat tetapi sejatinya dia adalah wanita lemah. Asha terlalu pandai untuk menutupi lukanya, sehingga dia tahu bagaimana rasa sakit yang hampir setiap hari datang menghampirinya. Bukan ingin menutup mata atas apa yang telah terjadi kepada Bunga. sebagai seorang ibu tentu saja Asha mengerti akan perasaan Bunga saat cemooh oleh banyak orang. Terlebih Bunga selalu di bully oleh sebagian teman-teman karena Bunga tidak memiliki ayah.
Bertahan seorang diri selama 7 tahun bukanlah hal yang sangat mudah dilalui oleh Asha. Bahkan dia harus menutup rapat telinganya ketika menghadapi kata-kata yang sangat menyakitkan untuknya. Berpura-pura tidak mendengar dan terus menjalani hari-harinya seperti tanpa beban.
Hidup tanpa suami dalam keadaan hamil tentu saja menjadi Asha dicap sebagai wanita tidak baik dan seringkali Asha mendengar bahwa anaknya adalah anak haram, hasil dari hubungan terlarang.
Selama hampir 8 tahun Asha bungkam tentang siapa ayah dari Bunga. Bahkan saat Bunga bertanya tentang sosok ayahnya, Asha hanya bisa mengatakan jika ayahnya saat ini sudah tenang berada di surganya Allah. Sebagai anak kecil yang masih memiliki pikiran polos, tentu saja Bunga mempercayai akan ucapan Bundanya.
Kini Asha hanya bisa terisak dalam tangisnya karena merasa gagal menjadi seorang ibu.
"Sudah, jangan menangis. Bunga sudah baik-baik aja." Kara memberanikan diri untuk untuk memeluk Asha.
Dalam dekapan Kara, Asha menumpahkan semua tangisannya. "Kara ... maafkan aku. Selama ini aku telah egois," ucap Asha dengan sesenggukan.
Dengan lembut tangan Kara membelai rambut Asha. Pria yang sangat mencintainya itu berusaha untuk menenangkan hati Asha.
"Iya. Aku maafkan. Tapi kita pulang. Aku sangat merindukanmu, Asha. Apapun yang terjadi di masa lalu, tak perlu kamu cemaskan lagi. Aku sudah mengatasinya dengan caraku sendiri," lirih Kara dengan tangan yang masih mengelus rambut Asha.
Cukup lama Asha berada dalam dekapan Kara. Rasanya nyaman, hingga rasanya enggan untuk melepaskan diri. Bahkan tak peduli dengan tatapan orang-orang yang melihatnya. Dada bidang yang mampu menopang kepalanya.
__ADS_1
"Maaf, Pak. Pasien terus-menerus memanggil Bundanya," ucap seorang suster yang memberi kabar kepada Kara.
Mendengar kabar dari suster, Asha langsung melepaskan diri dari pelukan Kara dan segera bergegas untuk masuk ke dalam ruangan Bunga. Namun, sebelum itu Asha menghapus jejak air matanya karena tidak ingin membuat Bunga malah mengkhawatirkan dirinya.
Langkah Asha berjalan pelan untuk menghampiri ranjang tempat Bunga terbaring. Jika beberapa jam lalu gadis kecilnya itu masih menggunakan alat bantu pernapasan, kini semua sudah dilepas hingga menyisakan jarum infus saja yang masih menempel di kulitnya.
"Bunda ... " Satu kata yang keluar dari bibir Bunga saat melihat bendanya berjalan mendekat.
Asha syukur karena putrinya tidak mengalami mengalami cidera yang parah dan masih bisa memanggil dirinya seperti biasa. Padahal sebelumnya Asha sudah sangat takut karena sebuah benturan di kepala Bunga. Namun, syukurlah Bunga masih dalam keadaan baik-baik saja.
"Bunga sayang .... " Asha langsung mendekat dan membelai pipi Bunga. Sorot matanya masih layu. Mungkin karena dia baru saja tersadar dari alam bawah sadarnya.
Air mata Asha luruh begitu saja. Ikatan batin antara anak dan ayah sangatlah kuat.
"Sayang, mimpi kamu indah sekali. Tapi sepertinya mimpi kamu akan menjadi sebuah kenyataan karena Ayah kamu memang datang dan menyelamatkan kamu, Sayang." Asha tak sanggup untuk tidak sesenggukan.
Melihat Bundanya menangis, tiba-tiba Bunga terdiam. Bunga merasa takut apakah dia baru saja mengucapkan kata-kata yang telah membuat bundanya bersedih.
Namun, mata Bunga kini teralihkan pada sosok yang telah berada di belakang Asha. Sosok yang tak asing baginya karena beberapa kali mereka pernah bertemu.
__ADS_1
"Ok Kara," panggil Bunga.
Kara pun langsung mendekat dan membelai rambut Bunga. "Kamu sudah bangun?"
Tatapan Bunga menatap lekat pada Kara yang saat ini berada di sampingnya. Aroma parfum yang digunakan Kara menyeruak ke dalam hidung hingga membuat tubuh Bunga membeku untuk sesaat.
"Kenapa parfum Om Kara sama seperti parfum ayah Bunga yang ada di mimpi Bunga tadi?" komentar Bunga saat hidungnya terlalu peka.
Sebisa mungkin Kara menyembunyikan mata merahnya dan tetap berusaha untuk tersenyum pada Bunga. Jangan ditanya bagaimana rasa sakit yang sedang menusuk hatinya saat ini.
"Bunga ... Bunda punya kejutan untuk Bunga. Tapi Bunga harus sembuh total dulu. Bagaimana?"
Mata Bunga langsung menatap Bundanya. "Kejutan apa itu, Bunda?"
"Kejutan yang luar biasa. Sekarang Bunga istirahat dulu biar cepat sembuh lalu kita pulang dan kita akan wujudkan semua mimpi-mimpi Bunga untuk menjadi kenyataan," sambung Kara.
"Benarkah?" tanya Bunga dengan ragu.
Kepala Asha dan Kara mengangguk secara bersamaan. "Tentu saja," jawab mereka berdua.
__ADS_1
...~BERSAMBUNG~...