Kisah Kita Belum Usai

Kisah Kita Belum Usai
BAB 32


__ADS_3

Seperti biasa Bunga akan melihat Alvaro duduk menyendiri karena dia enggan bergabung dengan teman-teman yang kini sudah mulai berteman dengan Bunga.


Dan pagi ini Bunga memberanikan diri untuk menghampiri Alvaro, meskipun dia tahu jika Alvaro tidak akan menyukai kedatangannya.


"Varo ... apakah aku bisa berbicara sebentar denganmu?" tanya Bunga.


Alvaro langsung mendengar ketika mendengar pertanyaan Bunga. Dengan tatapan tidak suka, Alvaro memilih untuk membuang pandangannya.


"Aku tidak mau berbicara denganmu. Pergilah! Aku tidak ingin melihat wajahmu!" usir Alvaro.


"Baiklah, jika kamu tidak mau berbicara denganku tidak apa-apa tetapi aku hanya ingin mengatakan kepadamu, jika lusa Bundaku bersedia untuk menemanimu diacara perpisahan. Jadi kamu harus tetap datang ya!"


Setelah mengucapkan kata itu Bunga langsung pergi meninggalkan Alvaro dan berharap jika anak itu tetap hadir meskipun tidak ada orang tuanya yang mendampingi dia nanti.


Mata Alvaro masih menatap punggung Bunga yang berlalu meninggalkan dirinya. Bibirnya terasa kelu. Entah apa yang ingin dikatakan pada pada Bunga. Haruskah dia berterima kasih pada Bunga atau memarahinya karena telah berani untuk mengatur hidupnya.


"Aku tidak memintamu untuk menjadi pahlawan karena aku sangat membencimu! Katakan saja jika saat ini kamu merasa sangat bahagia melihatku tak memiliki orang tua!" ucap Alvaro dengan pelan.

__ADS_1


...***...


Rasa benci yang terlalu dalam tanpa sebuah alasan yang kuat. Hanya karena ayahnya menikahi wanita yang memiliki anak perempuan dan mengabaikan dirinya, membuat dia sangat membenci Bunga. Padahal Bunga adalah anak baik tak seperti kakak tirinya yang selalu menjahatinya.


Pagi ini akan menjadi hari yang paling bersejarah untuk anak-anak TK, karena hari ini adalah hari perpisahan mereka yang artinya sebentar lagi mereka akan berpisah untuk melanjutkan ke Sekolah Dasar yang berbeda tempat. Dan sesuai janjinya, pagi ini Asha akan hadir untuk menemani teman Bunga yang bernama Alvaro.


"Wah ... anak ayah sudah besar. Sebentar lagi akan masuk ke SD. Maafkan ayah yang selama ini tidak ada di sampingmu, tapi percayalah mulai detik ini dan selamanya, ayah akan berusaha untuk tetap berada disampingmu dalam keadaan apapun. Kamu adalah penerus ayah, Bunga," ucap Kara dengan rasa haru saat melihat ternyata putrinya telah tumbuh dewasa.


"Ayah ... jangan bersedih dan jangan menyalakan diri sendiri. Bunga tidak apa-apa, tapi setelah ini Bunga berharap jika ayah dan bunda tidak berpisah lagi."


"Bunda ... setelah ini Bunda tidak akan meninggalkan ayah lagi, kan?" Kini Bunga melayangkan pertanyaan hidup kepada Asha.


Asha langsung tercengang. Tubuhnya seketika membeku. Namun, dia sudah berjanji apapun yang terjadi akan berusaha untuk membahagiakan Bunga.


"Iya, Sayang. Bunda tidak akan meninggalkan ayahmu lagi asalkan Bunga harus belajar dan menjadi anak yang berguna untuk diri sendiri dan orang lain. Bagaimana?"


Tanpa pikir panjang, Bunga langsung mengiyakan syarat yang diberikan Bundanya, karena bagi Bunga itu hanyalah syarat yang sangat murah.

__ADS_1


"Janji!" Kini Bunga mengangkat jari kelingkingnya agar Asha mau mengaitkan jari telunjuk sebagai bentuk perjanjian.


"Iya janji." Asha pun langsung mengaitkan jari kelingkingnya di jari kecil milik putrinya.


Rasa bahagia yang selama ini diharapkan kini telah menjadi sebuah kenyataan. Rasa sakit yang selama ini dirasakan, kini sudah menjauh pergi karena saat ini hanya rasa bahagia yang menyelimuti hatinya. Namun, meskipun begitu Bunga tidak melupakan rasa sakit yang pernah dia rasakan.


...***...


Setibanya di sekolahan, ternyata sudah banyak para orang tua yang telah menempati tempat duduk yang telah disediakan. Acara perpisahan pun juga akan menampilkan semua anak-anak didik untuk tampil di atas panggung yang telah disediakan.


"Wah ... lama tidak bertemu sekarang Bundanya Bunga udah gemukan ya? Pasti Ayahnya Bunga mengurusnya dengan Bundanya Bunga dengan baik," celoteh salah seorang teman lamanya.


"Apakah sekarang udah proses launching adik untuk Bunga?" Salah seorang menimpali lagi.


Asha hanya tersenyum kecil. Entah mengapa pertanyaan keramat itu selalu di dengar saat dia bertemu dengan teman lamanya. Boro-boro launching, proses aja belum pernah.


...***...

__ADS_1


__ADS_2