Kisah Kita Belum Usai

Kisah Kita Belum Usai
BAB 20


__ADS_3

Satu hari dirawat di rumah sakit, akhirnya Bunga telah diizinkan pulang karena kondisinya sudah mulai membaik. Beruntung saja tidak ada cedera yang dialami oleh Bunga.


Gadis kecil itu merasa heran karena saat ini dia dibawa pulang ke rumah yang tak asing baginya. Rumah besar nan megah layaknya sebuah istana Negeri dongeng.


"Bunda ... kenapa kita pulang ke rumah Om Kara?" tanya Bunga dengan rasa penasarannya.


"Iya. Karena mulai saat ini rumah ini akan menjadi rumah milik Bunga," sahut Kara.


Asha tidak banyak berkomentar, karena apa yang dikatakan oleh Kara itu emang benar adanya, karena sesungguhnya rumah itu memang milik Bunga.


"Apakah Bunda juga akan kerja di sini sama seperti mamanya Sinta?" Lagi-lagi Bunga bertanya dengan kepolosannya.


Belum saja memberikan jawaban atas pertanyaan dari Bunga, seseorang dari dalam telah berlari untuk menyambut kedatangan mereka bertiga.


Wanita paruh baya yang masih mengabdi pada Kara langsung berjalan mendapat arah Asha. Dengan mata yang berbinar, Bibi Sumi langsung berkata, "Neng Asha ... Ya Allah Neng ... akhirnya Neng Asha pulang... " Bibi Sumi langsung memeluk tubuh Asha.


Bunga yang melihat bundanya di peluk oleh Bibi Sumi merasa heran. Sepertinya wanita yang dia panggil nenek itu mengenali bundanya.


"Kenapa nenek menangis, Om?" tanya Bunga pada Kara.

__ADS_1


"Nenek Sumi menangis bahagia, karena bisa bertemu kembali dengan bundamu," jawab Kara dengan santai.


"Apakah dulu Om Kara dan Nenek Sumi sudah mengenal Bunda?" tanya Bunga lagi.


Mendengar ocehan Bunga, Bibi Sumi langsung mengalihkan pandangannya pada anak kecil yang berada di samping Asha. Melihat wajah mungil yang tak asing baginya, Bi Sumi langsung menatap kembali ke arah Asha.


"Apakah dia — " Bibi Sumi menggantung pertanyaannya karena Asha telah mengerti apa yang akan ditanyakan oleh Bibi Sumi.


"Iya, Bi. Bunga anakku," ucapannya dengan pelan.


"Ya Allah, Bibi gak nyangka ternyata Allah telah merencanakan semua ini," ucap Bibi Sumi dengan sumringah. Namun, detik kemudian Bibi Sumi baru menyadari jika kepala Bunga tengah diperban.


"Bunga abis jatuh, Bi," balas Asha.


"Ya udah, kita langsung ke kamar Bunga aja ya!" seru Kara yang kemudian menggendong tubuh mungil itu.


Bunga yang terkejut langsung memprotes dan meminta untuk diturunkan, tetapi Kara tidak menuruti permintaan Bunga dan langsung membawanya ke kamarnya. Kamar yang sangat besar.


"Nah ... sekarang ini adalah kamar kita," ujar Kara yang telah meletakkan tubuh Bunga di atas tempat tidurnya.

__ADS_1


"Kamar kita?" cicit Bunga.


"Iya. Kamar Bunga, Bunda dan .... Ayah."


Mendengar kata terakhir yang diucapkan oleh Kara membuat Bunga langsung menautkan kedua alisnya. "Ayah?" cicitnya lagi dengan penuh keheranan.


"Iya. Mulai saat ini Bunga sudah punya ayah karena ayah Bunga sudah ada di samping Bunga. Maafkan ayah yang tak bisa lebih cepat menemukanmu, Sayang. Hingga kamu harus merasakan pahitnya hidup tanpa seorang ayah. Menjadi cibiran semua orang. Tapi mulai saat ini hal itu tidak akan Bunga rasakan lagi, karena ayah Bunga ada disini," ujar Kara dengan kelembutan.


"Jadi Om Kara mau menikahi Bundanya Bunga dan menjadi ayah untuk Bunga?" tanya Bunga yang belum paham dengan apa yang dikatakan oleh Kara.


Asha yang sejak tadi berdiri di belakang Kara, kini duduk disamping Bunga. Tangannya membelai rambut Bunga seraya berkata, "Bunga, Sayang. Maafkan Bunda yang selama ini telah membohongi Bunga. Bunda selalu mengatakan jika ayah Bunga telah berada di surganya Allah, tetapi sebenarnya ayah Bunda masih ada. Bunga masih punya ayah. Dan orang yang ada di depan Bunga saat ini adalah ayah Bunga."


Bunga masih terdiam untuk mencerna setiap kata yang dikeluarkan oleh bundanya. Sesekali matanya menatap Kara yang saat ini duduk berjongkok di depannya.


"Jadi Bunga masih punya ayah dan ayah Bunga adalah Om Kara?"


Kepala Asha menganguk dengan pelan. "Iya, Sayang."


"Kenapa Bunda berbohong pada Bunga dan mengatakan jika ayahnya sudah tidak ada. Bukankah berbohong itu berdosa?"

__ADS_1


"Iya, Sayang. Bunda minta maaf."


__ADS_2