
Karena tidak ingin melihat pelipis Bunga semakin benjol, Varo langsung membawanya ke UKS agar mendapatkan pengobatan dari tim kesehatan. Padahal benjolan di pelipis Bunga tidaklah terlalu besar, tetapi Varo bersikeras agar Bunga segera mengobatinya.
"Lain kali kalau jalan liat kanan kiri. Aku enggak mau kejadian seperti ini terulang kembali!" ketus Varo setelah meninggalkan ruang UKS.
Kening Bunga hanya di kompres menggunakan es batu yang di balut dengan kain. Karena tidak terlalu parah maka pengompresan pun tidak lama.
"Iya, aku akan mengingatnya." Bunga mengikuti langkah Varo.
"Varo ... aku ingin bertanya padamu. Kamu jawab jujur!" lanjut Bunga lagi.
"Mau bertanya tentang apa?"
Mendapatkan kesempatan untuk bertanya Bunga tidak membuang kesempatan karena terlalu sulit untuk bisa berbicara dengan Varo, terlebih hanya untuk menjawab pertanyaannya.
"Apakah benar kamu kabur dari rumah? Lalu kamu tidur di mana, Varo? Aku sangat mengkhawatirkanmu. Mengapa kamu tidak pulang ke rumahku? Ayah dan bunda pasti akan sangat senang jika kamu pulang ke rumah." Bunga mengeluarkan semua pertanyaannya, berharap Varo mau menjawabnya.
"Apakah kamu sedang memata-mataiku?" Bukannya menjawab, Varo malah melemparkan pertanyaan kepada Bunga.
__ADS_1
"Tidak! Aku tidak memata-mataimu. Aku hanya mendapat kabar ini dari Geisha, kakak kamu yang menanyakan apakah kamu belum ke rumahku atau tidak," jelas Bunga dengan apa adanya.
"Stop menyebut dia kakakku! Dia bukan kakakku!" sentak Varo yang dengan sorot mata tajamnya.
Bunga tidak menyangka jika dia akan salah berbicara. Seharusnya Bunga ingat jika Varo sangat membenci Geisha. Dan tak seharusnya Bunga menyebut kata kakak.
"Maaf," ucap Bunga dengan pelan. Sudah dipastikan jika Varo tidak akan mau untuk menjawab pernyataan darinya lagi. Padahal Bunga hanya tidak ingin melihat Varo terlunta-lunta di jalanan.
Karena pintu kelas sudah terlihat, Varo memilih untuk melambatkan langkahnya membaut Bunga yang ada dibelakangnya hampir saja menabrak punggung Varo. Beruntung saja Bunga bisa mengerem langkahnya. Jika tidak, mungkin Varo akan memarahinya dua kuadrat.
"Aku memang sedang pergi dari rumah. Aku pergi bukan karena kabur, tetapi aku diusir oleh wanita penyihir itu. Saat ini aku tinggal di rumah bibiku. Dan mengapa aku tidak pulang ke rumahmu, memangnya aku siapa? Aku bukan siapa-siapa, Bunga! Jangan pernah bermimpi untuk menjadikan aku bagian dari keluargamu, karena itu tidak mungkin!" tegas Varo dengan datar.
"Baiklah, aku tidak akan memaksamu untuk tinggal di rumahku, tapi aku harap kamu baik-baik saat tinggal di rumah bibimu. Jika kamu merasa tidak nyaman, kamu boleh pulang ke rumahku. Pintu rumahku sangat terbuka lebar untukmu, Varo!"
Tak ada sepatah kata yang keluar dari bibir Varo, karena saat ini anak itu memilih untuk masuk kedalam kelas.
Bunga hanya bisa membuang napas kasarnya. Sudah sekian tahun, tetapi sikap Varo tak kunjung berubah. Apakah selamanya Varo akan membenci dirinya?
__ADS_1
Kini semua mata menatap kearah Bunga yang baru saja masuk kedalam kelas. Bahkan guru yang sedang mengajar langsung mendekat kearah Bunga. Dengan penuh khawatir guru itu langsung memeriksa kening Bunga. "Bunga, kamu tidak apa-apa?"
Bunga menggeleng dengan pelan. "Tidak apa-apa kok, Bu. Tadi di UKS juga sudah di kompres."
"Syukurlah kalau tidak apa-apa. Jika kamu merasa pusing, Miss akan menelepon orang tuamu kamu di jemput," ujar Miss Cia, guru kelasnya.
Bunga yang tidak menginginkan orang tuanya mengetahui apa yang telah terjadi kepada dirinya langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak usah, Miss. Saya tidak apa-apa. Saya masih bisa mengikuti pelajaran dengan baik."
"Baiklah, jika itu kemauan. Miss juga sudah memberikan pelajaran kepada tiga orang kakak kelas yang telah melemparmu menggunakan bola basket," terang Miss Cia lagi.
Mata Bunga langsung mendelik dengan lebar, tetapi saat dia ingin memprotes, Sinta teman dekatnya langsung menghampiri Bunga dan membawanya untuk duduk di mejanya.
"Bunga, kamu gak papa, kan?" tanya Sinta yang tidak menginginkan Bunga terlalu lama berdiri.
"Iya, aku gak papa. Ini hanya benjol sedikit, kok. Kamu jangan bilang sama ayah dan bunda, ya!" titah Bunga pada Sinta, karena Sinta juga tinggal di rumah miliknya karena namanya kini menggantikan bibi Sumi yang telah pensiun.
"Kamu tenang aja, aku tutup mulut asalkan kamu membantuku untuk mengerjakan tugas sekolah. Bagaimana?" tawar Sinta.
__ADS_1
"Oke, tidak masalah. Aku harap kamu tidak berbohong lagi padaku!" Bunga juga memberikan sebuah syarat karena Sinta sering kali membohonginya.
...***...