Kisah Kita Belum Usai

Kisah Kita Belum Usai
BAB 29


__ADS_3

Meskipun sudah memiliki seorang ayah yang kaya raya tak membuat Bunga menjadi sombong dan melupakan teman-temannya. Meskipun saat ini bunga tinggal di rumah mewah milik ayahnya tetapi dia masih mau bermain ke rumah temannya. Bahkan Bunga juga sering membagi-bagikan mainan kepada teman-temannya. Bunga juga tidak melewatkan agenda setiap magrib yaitu mengaji di masjid bersama dengan teman-temannya.


Banyak ibu-ibu yang merasa salut dengan sikap Bunga. Meskipun sudah menjadi anak orang kaya tetapi dia tidak malu untuk bermain bersama teman-temannya.


"Bunga ... sekarang kan kamu tinggal di kompleks belakang tempat orang-orang kaya, kok kamu masih mau sih sholat disini? Kan di kompleks tempat tinggalmu sekarang juga ada masjid bahkan masjidnya lebih besar dari masjid di sini," celetuk Nina salah satu teman baik Bunga.


"Meskipun sekarang aku tinggal di kompleks belakang sana tetapi sejak kecil aku tinggal di kompleks ini dan kalian semua adalah teman-temanku. Aku tidak akan mungkin meninggalkan kalian semua. Toh kompleks kita dekat," balas Bunga dengan apa adanya.


"Tapi kata nama aku di kompleks ditempat kamu tinggal itu orang kaya semua dan tidak mau berteman dengan orang miskin," lanjut Nina lagi.


"Kata siapa? Buktinya aku tidak seperti itu. Kaya dan miskin itu derajatnya sama di mata Allah. Dan yang menjamin kita untuk masuk surga itu bukanlah kaya, tetapi amalan baik yang kita lakukan. Jadi kalian jangan bosan untuk selalu berbuat baik dengan ikhlas, ya."


Nina dan beberapa temannya hanya mengangguk pelan. Mereka semua bersyukur memiliki teman seperti bunga yang tidak melupakan mereka semua meskipun sudah menjadi anak orang kaya.


Dan tak lama kemudian seorang pria tengah baya masuk ke dalam masjid. Dia adalah Pak Mamang, seorang sopir yang ditugaskan untuk mengantar jemput Bunga.


"Neng Bunga udah siap, belum?" tanya Pak Mamang setengah berbisik pada Bunga.


"Sudah, Pak. Tapi Bunga masih Melly. Dia belum siap."


"Oh, kalau begitu, bapak tunggu diluar aja ya," lanjut pak Mamang lagi.

__ADS_1


"Iya Pak," jawab Bunga sambil mengangguk dengan pelan.


Lagi dan lagi seseorang menatap Bunga dengan rasa tidak suka. Jika disaat Bunga masih tidak memiliki ayah, Bunga akan dijadikan bahan olok-olok, dan kini setelah Bunga memiliki ayah, Bunga masih saja di ganggu. Siapa lagi jika bukan Alvaro. Anak itu sangat membenci Bunga. Apapun yang dilakukan oleh Bunga semuanya salah di mata Alvaro. Dan kali ini tanpa sepengetahuan Bunga dan teman-teman yang lainnya, dia membuang sandal milik Bunga ke tong sampah.


"Syukurin kamu Bunga. Lagian ngapain sih masih cari muka disini." ucap Alvaro dengan senyum tipis di bibirnya.


"Varo kamu ngapain di belakang. Disitu kan gelap. Ayo masuk!" tegur kakak pengajarannya. "Kamu udah ngaji belum?"


Kepala Alvaro menggeleng dengan pelan. Meskipun setiap hari dia datang ke masjid tetapi bukan berarti dia juga ikut mengaji. Kadang-kadang dia hanya mengisi absen saja agar tidak di marah oleh ibunya.


Sebenarnya Alvaro adalah anak yang baik dan penurut. Dia tidak jahil ataupun jahat. Tetapi semua sifat Alvaro berubah, mulai setahun yang lalu dimana ayahnya menikah lagi dengan seorang janda beranak satu. Setelah menikah, ayahnya sering bekerja di luar kota sehingga tidak tahu bagaimana ibu tirinya memperlakukan Alvaro.


Diusianya yang masih lima tahun, Alvaro sudah mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari ibu tiri dan kakak tirinya. Bahkan ibu akan Alvaro jika dia melakukan kesalahan. Dan sejak saat itulah sifat Alvaro berubah, terlebih saat melihat seorang wanita tanpa suami. Alvaro akan menyamakan wanita itu sama seperti ibu tirinya. Dan saat melihat Bunga tanpa seorang ayah, dia sangat membenci karena menganggap Bunga sama seperti kakak tirinya yang selalu menjahati dirinya.


"Bunga, apa yang kamu cari?" tanya Melly yang berada di samping Bunga.


"Sendal aku enggak ada Mell. Tadi perasaan aku letakkan di sini, tapi sekarang sendalnya nggak ada," kata Bunga dengan mata yang terus menelusuri setiap sudut.


"Kok bisa enggak ada? Masa ada maling sendal sih?"


"Aku juga enggak tahu."

__ADS_1


Pak Malang yang melihat anak majikan yang telah keluar dari masjid langsung segera menghampirinya. Dilihatnya Bunga sedang mencari sesuatu. "Neng Bunga nyari apa?" tanya pak Mamang.


"Ini, Pak. Sandal Bunga enggak ada," jawab Bunga.


"Hah? Kok bisa enggak ada? Tadi neng Bunga letakkan dimana?" tanya Pak Mamang lagi.


"Tadi tuh Bunga letakkan di sini, Pak."


Pak Mamang pun akhirnya turut mencari sendal milik anak majikannya yang tidak terlihat. Namun sayangnya dia sudah mengitari bangunan masjid tetapi tetap tidak menemukan sandal milik anak majikannya.


"Sepertinya sudah ada yang membawa sendal dan Bunga. Sudahlah, tidak usah dicari lagi. Nanti kita beli yang baru," ujar Pak Mamang.


"Tapi Pak ..... " Bunga melihat kakinya.


"Sudah sini, pak Mamang gendong." Pria tengah baya itu berjongkok dan memberikan punggungnya agar Bunga naik ke punggungnya. "Udah ayo naik!"


Bunga memilih untuk menggelengkan kepalanya. "Enggak usah, Pak. Bunga jalan aja kan itu motornya ada disitu." Bunga menunjuk sebuah motor yang terparkir di tempat parkiran.


Pak Mamang pun tidak bisa berkata apa-apa lagi ketika anak majikannya sudah berjalan menuju ke tempat motornya berada. Ya, meskipun ayahnya memiliki banyak mobil tetapi entah mengapa anaknya sangat tidak suka jika kemana-mana diantar menggunakan mobil. Anak majikannya itu lebih suka diantar menggunakan motor daripada menggunakan mobil.


"Ada ya, anak kecil seperti neng Bunga. Masya Allah. Semoga kelak neng Bunga menjadi orang yang sukses dunia akhirat. Amin." Pak Mamang pun langsung mengejar Bunga yang saat ini sudah naik diatas motornya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2