
Asha merasa sangat terkejut dengan penjelasan yang diberikan oleh Asha, dimana Asha mengatakan jika Kara memang ayah kandungnya Bunga yang artinya Kara adalah suaminya Asha.
Tubuh Santi terasa lemas tak berdaya dengan pengakuan Asha sangat mengejutkan.
"Sha ... kenapa kamu gak pernah bilang kalau ternyata kamu masih memiliki suami? Asha ... kamu bener-bener keterlaluan! Kamu membiarkan Bunga menjadi bahan cemoohan semua orang karena tidak memiliki ayah. Dan pada kenyataannya ayah Bunga masih sehat wal afiat. Bahkan ayah Bunga bukanlah orang sembarangan!" Santi merasa sangat kecewa dengan Asha yang ternyata menyembunyikan rahasia terbesarnya.
Asha hanya bisa membuang nafas kasarnya. Sebenarnya Asha tidak ingin mengungkit luka lama. Tetapi mungkin ini sudah garis takdirnya harus bertemu lagi dengan Kara. Atau bisa jadi semua ini adalah kumpulan atas doa-doa yang sering dipanjatkan oleh Bunga setiap malam.
"San .. aku juga tidak tahu jika akan bertemu kembali dengan Kara. Bahkan sedikitpun aku tak pernah memikirkan hal ini akan terjadi. Maaf jika aku telah membohongimu."
Santi sebagai satu-satunya orang yang peduli kepada Asha merasa sangat kecewa karena Asha diam-diam menyembunyikan tentang kebenaran jika ternyata dia adalah seorang istri yang lari dari suaminya.
"San ... ada alasan yang tak bisa aku jelaskan, mengapa saat itu aku memilih pergi dari kehidupan Kara. Aku tidak bisa memberitahumu, karena aku tidak ingin mengungkit luka lama," jelas Asha.
Butuh beberapa waktu untuk menerima kenyataan jika ternyata Asha adalah istri dari majikannya. Beruntungnya saat ini Kara dan Bunga telah meninggalkan rumah sehingga Santi tidak merasa canggung untuk berbicara dengan Asha yang sekarang telah menjadi majikannya. Sekalipun rasanya mustahil, tetapi itulah kenyataannya yang sebenarnya.
Jauh dari lubuk hati terdalam, Santi merasa sangat bahagia karena Asha masih mempunyai suami sehingga Bunga tak akan lagi menjadi bahan cemoohan orang-orang yang tidak menyukainya.
*
__ADS_1
*
Disisi lain, dengan senyum yang mengembang luas di bibir mungilnya, Bunga berjalan dengan riang sambil menggandeng tangan Ayah. Melewati beberapa teman-teman dengan hati yang riang, karena ini adalah kali pertama Bunga diantar oleh seorang ayah.
"Bunga ... kamu diantar sama siapa?" tanya salah satu teman Bunga.
"Aku diantar sama ayahku. Sekarang aku punya ayah," jawab Bunga dengan rasa bangga karena dia bisa menunjukkan ayahnya di depan teman-temannya.
"Jadi kamu punya ayah? Kamu bilang ayah kamu sudah berada di surga. Apakah bunda kamu sudah menikah lagi?"
"Tidak! Bundaku tidak menikah lagi. Ini memang ayahku. Ayah dan Bundaku dulu berantam dan sekarang mereka sudah baikan, jadi Bundaku kembali pulang ke rumah ayahku. Kapan-kapan kamu main ke rumah ayahku, ya! Rumah ayahku sangat besar cantik," celoteh Bunga dengan segala kepolosannya.
"Tentu saja boleh. Iya kan, Yah?" Bunga meminta persetujuan dari ayahnya.
"Iya. Kalian semuanya boleh kok main ke rumah Bunga," jawab Kara.
Kedatangan Bunga ke sekolah dengan membawa seorang pria yang diakui sebagai ayahnya membuat sebagian ibu-ibu ada yang merasa sangat tidak percaya dengan ucapan Bunga. Bagaimana bisa bunga memiliki seorang ayah yang sangat tampan dan kaya raya.
"Jangan terlalu kagum. Bisa jadi ibunya Bunga sengaja menggoda pria itu. Mana mungkin dia adalah ayah kandungnya Bunga," celetuk salah seorang ibu-ibu yang ikut dihebohkan dengan kedatangan Bunga yang membawa Kara.
__ADS_1
"Tapi sekilas antara Bunga dan pria itu memang mirip." Salah seorang memberi komentar.
"Mungkin wanita itu sengaja menggunakan pria itu agar semua orang bisa ditipu. Sekali wanita murahan, tetaplah wanita murahan!"
Telinga Kara begitu panas saat mendengar apa yang dighibahkan oleh sekelompok ibu-ibu. Rasanya ingin sekali datang dan berteriak dengan kuat ditelinga mereka satu persatu jika Asha bukankah wanita murahan dan Bunga adalah anak kandungnya.
"Bunga, Ayah antar sampai sini ya? Nanti siang Bunga akan dijemput sama pak supir," ucap Kara di depan pintu kelas Bunga.
"Iya, Ayah." Bunga mengangguk pelan. Setelah menyalami ayahnya, Bunga langsung berlari untuk duduk di mejanya. Hampir semua teman-temannya mengerubungi Bunga karena ingin tahu bagaimana ceritanya sehingga Bunga bisa memiliki Ayah setampan itu dan dimana Bunga menemukannya.
"Bunga selamat ya, ayah kamu sudah pulang. Sekarang kamu jangan bersedih lagi," celetuk salah satu temannya.
"Iya. Sekarang aku tidak bersedih. Aku sangat bahagia, karena ayahku sangat baik," ujar Bunga.
Namun, berbeda dengan para anak-anak yang turut bahagia atas kepulangan ayahnya Bunga, beberapa ibu-ibu yang tidak menyukai Bunga dan Bundanya merasa jika Bundanya Asha memang sengaja mengakui pria itu sebagai ayahnya Bunga karena pria itu kaya dan tampan.
Saat langkah Kara melewati sekelompok ibu-ibu itu, dia menghentikan langkahnya.
"Jaga lisan kalian jika tidak tahu apa-apa dengan kehidupan seseorang. Jangan sampai lisan kalian membuat kalian menyesal!" ucap Kara yang kemudian meninggalkan sekelompok ibu-ibu yang baru saja membicarakan tentang keburukan Asha. Padahal Asha bukankah seperti yang mereka pikirkan.
__ADS_1
...~BERSAMBUNG~...