
Sungguh Bi Sumi tak bisa berkata-kata saat melihat wajah Bunga. Bahkan senyum gadis kecil itu juga hampir menyerupai istri dari majikannya. Seandainya saja keluarga kecil Askara masih utuh, mungkin saat ini Askara akan juga akan memiliki anak seusia Bunga.
"Kamu cantik sekali, pasti ibu kamu jauh lebih cantik," ucap Bibi Sumi ditengah-tengah kegiatan.
"Bundanya Bunga memang cantik, Nek."
"Pasti ayah kamu sangat bersyukur memiliki istri dan anak yang cantik," lanjut Bibi Sumi lagi.
Bunga terpaksa harus menyunggingkan senyumnya. Hati kecilnya terasa berdenyut saat membahas tentang ayah, karena dia terlahir tanpa seorang ayah.
"Oh iya, kamu kok bisa bersama sama Tuan Kara?" tanya Bi Sumi pemasaran.
"Bunga cuma ketemu di jalan, Nek. Om Kara mau antarin Bunga pulang, tapi mobil Om Kara gak bisa masuk ke gang rumah Bung, jadi Om Kara mau antarin Bunga motor," jelas Bunga apa adanya.
"Oh, gitu ya. Berarti Bunga tinggal di kompleks belakang sana ya?"
"Iya, Nek."
Perbincangan kecil pun terjadi antara Bunga dan Bibi Sumi. Meskipun masih kecil tetapi Bunga bisa nyambung saat diajak berbicara. Bahkan Bunga terlihat sangat sopan. Bibi Sumi saja sampai merasa heran dengan keramahan dan kesopanan yang dimiliki oleh Bunga.
Tak berapa lama, Kara pun telah datang menghampiri Bi Sumi dan juga Bunga yang ada di dapur. Dirinya sudah siap untuk mengantarkan Bunga untuk pulang. Namun, saat dia hendak memanggil Bunga, tiba-tiba hujan datang dengan begitu saja.
"Yaahh ... hujan." Bunga kaget saat hujan datang tanpa aba-aba terlebih dahulu. Sementara dirinya masih berada di rumah Askara.
"Lah ... kok hujan sih!" seru Askara saat melihat hujan deras secara tiba-tiba telah mengguyur belahan bumi yang di tempati.
"Om, ini gimana? Bunda pasti panik lagi."
__ADS_1
"Aduh ... gimana ya. Om juga gak tahu kalau bakalan datang hujannya. Kamu gak usah khawatir, nanti Om yang ngomong sama bunda kamu, oke!" Askara mencoba untuk menenangkan Bunga yang sudah terlihat panik karena dia belum pulang saat hujan telah datang.
Karena hujan turun dengan sangat deras, Santi yang sedang menyapu halaman pun memilih untuk masuk kedalam rumah. Dan saat Santi berjalan ke dapur, dia sangat terkejut saat melihat anak kecil yang sedang duduk di meja makan bersama dengan majikan. Untuk memastikan apakah yang dilihatnya Bunga atau bukan, Santi pun mendekat dan langsung menyapanya.
"Bunga ... ini beneran kamu kan?"
Bunga yang mendengar namanya di panggil langsung menoleh kesamping. "Tante Santi," balas Bunga.
"Bunga kamu ngapain disini? Bunda tau enggak?" tanya Santai dengan ras penasaran.
"Bunga tadi mau pulang, terus mau ketemu sama Om Kara yang mau antari Bunga pulang, tapi jalan masuk ke gang Bunga enggak bisa dilewati mobil, jadi Om Kara mau antarin Bunga pakai motornya. Eh, pas Om Kara udah siap untuk hujannya datang, Tan," jelas Bunga dengan kepolosannya.
"Jadi intinya Bundamu gak tahu kalau kamu ada disini. Ya ampun Bunga ... Bundamu pasti nyariin kamu," ucap Santi penuh kekhawatiran.
Bunga langsung terdiam, karena membenarkan ucapan Santi. Pasti saat ini Bundanya sengat mengkhawatirkan dirinya yang belum pulang.
"San, kamu kenal sama Bundanya Bunga?" tanya Askara ingin tahu.
"Iya, Pak. Sangat kenal sekali. Bundanya Bunga adalah teman baik saya. Ada apa ya?"
Askara mengangguk pelan. "Kamu pasti punya nomer telpon Bundanya Bunga kan? Coba kamu hubungi dia dan katakan jika saat ini Bunga sedang terjebak hujan disini. Nanti setelah hujan reda, aku akan mengantarkan Bunga pulang," ujar Askara.
Santai langsung menganggukkan kepalanya dan berkata, "Baik, Pak. Saya akan beri tahu bundanya Bunga agar dia tidak khawatir."
"Nah ... Bunga, sekarang kamu gak usah khawatir tentang bunda kamu, ya! Tante Santi akan memberitahu bundamu jika saat ini kamu sedang berada disini," kata Askara dengan hati yang lega, karena ada jalan keluar untuk memberitahu bunda Bunga agar tidak menghawatirkan dirinya.
"Iya, Om," ucap Bunga. "Tante, Santi tolong sampaikan juga maaf Bunga untuk Bunda, ya. Bunga gak bisa bantuin angkat jemurannya Bunda," lanjut Bunga pada Santi.
__ADS_1
"Iya. Ini Tante udah kirim pesan sama Bunda kamu. Kata Bunda gak papa kamu disini dulu, asal kamu baik-baik aja," balas Santi.
Disisi lain Asha yang baru saja mendapatkan kabar jika Bunga sedang terjebak hujan di rumah majikannya merasa lega. Akan tetapi dia juga merasa heran mengapa Bunga bisa sampai disana? Apakah Santi sedang Sinta ke sana dan pada akhirnya Bunga ikut?
"Yang penting saat ini Bunga baik-baik aja." Bunga mencoba untuk tetap tenang karena Bunga baik-baik aja. Hujan yang secara tiba-tiba membautnya membatalkan niatnya untuk keliling mengambil pakaian kotor di tempat customernya.
***
Karena saat ini hujan tak kunjung reda, dan Bunga terus murung karena tidak bisa pulang, Askara langsung membawa Bunga ke sebuah kamar yang sangat banyak menyimpan mainan anak-anak. Bunga yang dibawa masuk ke kamar itu merasa sangat takjub.
"Wah ... banyak sekali mainannya, Om"! seru Bunga dengan mata berbinar. "Bonekanya sama kayak punya Sinta," ujarnya saat melihat boneka Barbie yang berada di tempatnya.
Askara tersenyum kecil. "Kalau kamu mau, ambil aja!" ucap Askara.
Namun, tiba-tiba dahi Bunga mengkerut. "Emangnya gak papa kalau Bunga ambil? Nanti anak Om Karw giman? Pasti nyariin Bonekanya, Om. Enggak ah, meksipun Bunga sebenarnya pengen, tapi Bunga gak mau nanti anak Om Kara nyariin." Bunga mendengkus dengan kasar.
"Om gak punya anak, Bunga. Istri Om aja pergi ninggalin Om." Mendadak wajah Askara terlihat murung saat mengingat sang istri yang pergi meninggalkan dirinya.
"Kasian sekali Om Kara... "
"Sudahlah gak usah bahas masalah itu. Kalau Bunga suka sama mainannya, ambil aja! Om masih banyak stoknya di gudang," ujar Askara dengan bibir yang menyunging.
"Wah ... Om Kara hebat. Tapi ... Bunga takut nanti Bunda marah kalau Bunga ambil boneka itu. Kata Bunda, Bunga gak boleh meminta-minta ataupun menerima pemberian dari orang lain." Mendadak Bunga bersedih.
"Udah ambil, aja! Nanti Om yang bilang sama Bunda kamu."
Mendengar ucapan Askara, wajah bunga pun kembali berbinar. "Serius ya, Om!"
__ADS_1