
Bunga merasa gelisah saat tak melihat sosok Alvaro dalam barisan. Padahal sebentar lagi acara akan segera dimulai. Miss Queen sebagai gurunya pun juga merasa panik ketika tak melihat Alvaro.
"Mengapa Varo belum masuk barisan?" tanya Miss Queen pada anak didik yang lainnya.
Karena semuanya tidak ada yabg melihat Varo, mereka semua hanya menggeleng dengan pelan.
"Saya tidak melihat keberadaan Varo, Bu," ucap salah satu anak didiknya.
"Hari ini sepertinya Varo tidak datang, Bu. Tadi saya melihat Varo bermain di taman kompleks," celetuk salah satu anak didiknya lagi.
Miss Queen terkejut dengan pengakuan yang baru saja didengarnya. Bagaimana mungkin hari yang akan menjadi hari bersejarah Alvaro malah tidak hadir dan malah bermain di taman kompleks.
Miss Queen yang sering mendengar cerita dari beberapa anak didiknya tentang Alvaro sudah bisa menebak jika anak itu memang sengaja tidak ingin menghadiri acara perpisahan karena sudah dipastikan tidak ada orang tuanya yang turut mendampinginya.
"Ya sudah, kalian disini dulu. Masih ada waktu lima belas menit untuk kalian berlatih. Miss akan membujuk Varo dulu," pesan Miss Queen sebelum meninggalkan anak didiknya.
Namun, saat Miss Queen baru saja ingin berlalu, tiba-tiba Bunga pun berlari mengejarnya. "Miss, bolehkah saya ikut?"
"Tidak bisa, Bunga. Kamu harus latihan sebelum tampil!"
__ADS_1
"Tapi Miss ... saya sudah meminta bantuan Bunda untuk mendampingi Varo dalam acara perpisahan ini. Jadi saya ingin meyakinkan Varo," ucap Bunga dengan lemah.
Miss Queen menautkan satu alisnya. Dia tidak menyangka jika Bunga akan memiliki pemikiran sedewasa itu. Ada rasa haru yang terselip dalam hati Miss Queen. Sekalipun Bunga sering di bully oleh Alvaro, tetapi Bunga sama sekali tidak membenci Alavo. Bahkan dia telah memikirkan cara untuk membantu Alvaro agar tetap bisa mendapatkan pendamping saat acara perpisahan.
"Baiklah, kamu boleh ikut tetapi harus beritahu orang tua kamu dulu ya!"
Dengan senyum yang mengembang luas di bibirnya Bunga mengangguk pelan dan segera berlari untuk mencari keberadaan ayah dan bundanya.
****
Terpaksa dulu harus meninggalkan acara yang sebentar lagi akan dimulai. Bahkan dia tidak memikirkan jika pada akhirnya dia akan terlambat dan tidak bisa tampil di panggung, karena saat ini yang dia inginkan adalah menemukan dan membawa Alvaro datang ke acara perpisahan mereka.
"Varo ... mengapa kamu masih berada di sini. Ayo ke sekolahan karena sebentar lagi acara perpisahan akan segera dimulai," kata Miss Queen saat mendekati ayunan Alvaro.
Sungguh Alvaro merasa sangat terkejut dengan kedatangan beberapa orang yang tak asing baginya termasuk kehadiran Bunga.
"Varo ... apa yang kamu lakukan disini, Nak? Ini kan hari perpisahan kalian?" tanya Asha dengan lembut.
"Kenapa kalian kesini? Aku tidak ingin mengikuti acara perpisahan. Miss, maafkan aku," ucap Varo dengan lemah.
__ADS_1
Sebisa mungkin, Miss Queen tetap tersenyum untuk Alvaro. Bagaimanapun ceritanya dia harus bisa membawa Alvaro untuk mengikuti acara perpisahan.
"Tapi kamu harus datang, Varo! Kamu harus tampil untuk menunjukkan jika kamu adalah anak hebat. Bukankah kita selama ini sudah berlatih dengan sungguh-sungguh. Apakah kamu akan membuangnya begitu saja? Varo ... sekalipun orang tua kamu tidak bisa melihatmu tampil dalam acara perpisahan ini, tetapi setidaknya kamu bisa menunjukkan kepada semua orang akan prestasi yang kamu miliki. Tunjukkan pada dunia jika kamu adalah yang terbaik. Lagipula disini ada Bundanya Bunga akan hadir untuk mendampingi kamu. Jadi kamu tidak akan sendirian!" bujuk Miss Queen, berharap Alvaro bisa luluh.
"Iya, Varo. Dengan senang hati Bunda akan mendampingi kamu," sahut Asha.
"Aku tidak memintanya! Tidak perlu merasa kasihan padaku?" ketus Alvaro.
"Bunga, bukankah aku sudah mengatakan kepadamu jika aku tidak mau! Lalu mengapa kamu masih keras kepala? Jika aku mengatakan tidak mau, berarti aku tidak mau!" Kini Alvaro menyentak Bunga.
Melihat anaknya diperlakukan tidak baik oleh Alvaro, Kara merasa sangat tidak terima. Namun, Asha mencoba untuk mengingatkan Kara untuk tatap tenang. Untuk menghadapi anak seperti Alvaro harus dengan hati dan perasaan. Jika dilawan, yang ada anak seperti itu malah akan semakin keras. Asha bisa merasakan apa yang sedang dirasakan oleh Alvaro. Merasa tidak dianggap dan sisihkan. Bahkan mendapatkan perlakuan yang tidak baik diusianya yang masih kecil. Pasti Alvaro merasa tertekan akan hal itu.
"Varo ... Miss bisa merasakan apa yang sedang kamu rasakan. Kamu adalah anak yang baik dan anak yang kuat. Kamu harus tunjukkan kepada orang-orang yang telah menindas kamu jika kamu itu kuat dan tak terkalahkan. Miss yakin mama tiri kamu pasti akan merasa sangat senang saat melihat kamu terpuruk seperti ini. Varo ... tunjukkan pada mama tiri kamu jika kamu bisa melewati semua ini dengan baik. Tunjukkan jika kamu tidak lemah. Disini Miss akan terus mendukung kamu."
Sejenak Alvaro terdiam untuk memikirkan lagi apa yang diucapkan oleh Miss Queen. Dengan sorot mata tajamnya, akhirnya Alvaro memilih untuk menyetujui saran Miss Queen untuk membuktikan jika dirinya bukanlah anak yang lemah.
"Baiklah, aku akan mengikuti acara perpisahan itu," ucap Alvaro yang kemudian melirik kearah Bunga.
...***...
__ADS_1