Kisah Kita Belum Usai

Kisah Kita Belum Usai
BAB 7


__ADS_3

Secerah harapan muncul ketika Bunga mendapatkan kabar baik dari Miss Queen yang mengatakan jika semua anak-anak bisa mengikuti piknik ke kebun binatang tanpa dipungut biaya sedikitpun. Bahkan untuk semua perlengkapan yang dibutuhkan sudah ada orang baik yang menanggungnya.


Senyum kecil itu memancar dari bibir Bunga. Akhirnya dia bisa ikut pergi ke kebun binatang tanpa harus membebani bundanya. Dalam hati bunga sangat bersyukur dengan dan merasa sangat berterima kasih kepada orang baik itu karena telah memberikan dia kesempatan untuk mengikuti piknik bersama dengan teman-temannya semua.


"Bunga, sekarang kamu jangan bersedih lagi ya, karena kita semua bisa pergi ke kebun binatang. Kamu bisa naik gajah dan unta," ucap Mely yang merasa sangat bahagia, karena semuanya bisa ikut piknik tanpa harus mengeluarkan biaya.


"Iya, Mel. Aku senang karena aku bisa melihat kebun binatang untuk yang pertama kalinya," balas Bunga dengan wajah bahagianya.


**


Sudah hampir 30 menit Bunga belum dijemput oleh bundanya. Bunga tahu jika saat ini sang Bunda sedang sibuk mengurusi pakaian yang harus dicuci dan disetrikanya. sebenarnya bunga sudah terbiasa jalan kaki dari sekolah ke rumah, karena memang jaraknya yang tidak terlalu jauh. Namun, akhir-akhir ini banyak berita tentang penculikan anak sehingga Bundanya Bunga melarang Bunga untuk jalan kaki. Sebagai anak yang patuh, Bunga menuruti apa yang dikatakan oleh bundanya. Sampai saat ini Bunga masih menunggu Bundanya yang tak kunjung menjemput dirinya. Bahkan saat ingin diantarkan oleh Miss pengajarnya Bunga menolak. Bunga jika Bundanya menjemput bunga sudah tidak ada di sekolahan.


"Bunga, Miss anterin kamu pulang ya. Miss juga udah kirim pesan sama Bundanya Bunga kalau Miss mau anterin Bunga pulang." Miss Queen mencoba untuk membujuk bunga agar mau diantar pulang. Miss Queen tidak akan bisa pulang jika masih melihat anak didiknya belum dijemput oleh orang tuanya, karena itu masih tanggung jawab pihak sekolah.


Sejenak bunga berpikir untuk menerima tawaran Miss Queen. Toh Miss Queen juga sudah mengatakan jika Bundanya sudah diberitahu jika Miss Queen akan mengantarnya pulang.


"Baiklah Miss. Jangan lupa untuk memberitahu Bundanya Bunga ya. Bunga takut nanti Bunda nyariin bunga di sini," celoteh Bunga.


"Tentu. Ini Miss udah kirim pesan. Sekarang kita pulang, ya!"

__ADS_1


Bunga pun langsung naik ke motor milik Miss Queen. Sebenarnya Bunga merasa tidak enak karena telah membuat Miss Queen harus berbalik arah lagi, karena letak rumah Bunga dengan miskin berlawanan arah.


Dan setelah sampai di depan rumah kontrakan yang ditempati oleh bunga, Miss Queen memberikan sebuah amplop kepada Bunga. Hampir dirinya lupa memberikan amplop itu.


"Oh iya, Bunga. Ini ada titipan dari pak donatur yang baik tadi. Kata Pak donatur itu, ini buat beli baju Bunga dan buat jajan Bunga." Miss Queen menyerahkan sebuah amplop kepada Bunga. Namun, karena bunga takut untuk menerima pemberian dari orang lain dia pun menggeleng dan menolaknya.


"Maaf, Miss. Bunga berani menerimanya. Pasti isi di dalam amplop itu uang. Kata Bunda Bunga tidak boleh menerima uang dari orang yang tidak dikenal."


"Tapi yang menitipkan uang ini Pak donatur, Bunga. Ambil aja!"


Asha yang sudah membaca pesan dari Miss Queen langsung keluar karena mendengar suara Miss Queen dan Bunga. Benar dugaan Bunga jika saat ini Bundanya sedang sibuk baju yang akan dicuci dan disetrikanya, hingga lupa jika waktu menjemput Bunga telah tiba. Namun, beruntung saja Miss Queen mau mengantarkan bunga pulang.


"Aduh ... Miss. Maaf ya, tadi saya kelupaan untuk menjemput Bunga. Sekali lagi terima kasih telah mengantarkan Bunga pulang," ujar Asha.


"Bunda, ini ada sedikit titipan dari pak donatur yang telah membiayai semua kegiatan lusa untuk jajan Bunga. Katanya Bunga adalah anak yang pintar dan sangat berbakti kepada ibunya. Entah saya tidak tahu dari mana Pak donatur itu mengetahui jika bunga adalah anak yang sangat berbakti. Mohon diterima ya Bunda. Tadi saya sempat memberikan kepada Bunga tetapi Bunga tidak berani menerimanya." Miss Queen langsung menyerahkan amplop berwarna coklat itu kepada Asha.


Asha tersenyum kecil pada sang putri. Ternyata apa yang pernah dikatakan padanya masih diingat dengan jelas. Bahkan sekalipun itu pemberian dari seorang donatur, Bunga menolaknya.


"Sebelumnya saya minta maaf atas penolakan yang dilakukan oleh Bunga. Semua itu memang salah saya yang melarang Bunga untuk menerima pemberian dari siapapun, karena saya tidak ingin kelak timbul di hati Bunga yang merasa ingin dikasihani karena keadaan hidup kami. Karena ini adalah titipan dari donatur, maka saya akan terima titipan ini. Sampaikan salam saya dan kata terima kasih saya kepada Pak donatur yang baik hati telah memperhatikan anak saya," ujar Asha saat menerima amplop yang diserahkan oleh Miss Queen.

__ADS_1


"Baik, Bunda. Nanti akan saya sampaikan kepada Pak dengan terbaik itu. Kalau begitu saya permisi ya Bunda," pamit Miss Queen.


"Iya. Hati-hati di jalan, Miss."


Sepeninggal Miss Queen, Bunga langsung mendekat dan menyelami bundanya.


"Bunda ... kenapa Bunda terima amplop itu. Itukah isinya adalah uang!" protes Bunga.


Asha mengelus rambut Bunga dan berkata, "Ada kalanya kita menerima pemberian dari orang lain, karena sudah terlanjur diberikan, Sayang. Dan yang memberikan uang ini adalah seorang donatur. Mungkin pak donatur ini dari sebuah yayasan yang telah bekerja sama dengan sekolah-sekolah lain. Mungkin Pak donatur ini ingin Bunga belajar lebih giat lagi agar bisa masuk ke sekolah miliknya," jelas Asha.


"Oh, begitu ya. Jadi Bunga boleh menerima pemberian dari seseorang jika orang itu adalah donatur?"


"Lebih tepatnya begitu, Sayang. Karena pak donatur sudah bekerja sama dengan sekolah Bunga. Mungkin ini juga salah satu usulan dari Miss yang ada di sekolah untuk memberikan titipan itu kepada Bunga. Anggap aja ini rezeki bunga."


Bunga pun mengangguk pelan dan mengikuti langkah Bundanya untuk masuk ke dalam rumah. Namun, saat Asha ingin membantu melepaskan sepatu Bunga, dia langsung mencegahnya.


"Tidak usah, Bunda! Bunga bisa sendiri. Kan Bunga udah besar!"


Asha langsung jalan pasar salivanya. Mendadak Asha merasa sangat bersalah karena telah menanamkan kemandirian dalam diri Bunga sejak dini, sehingga anak itu sudah bisa mandiri sebelum waktunya.

__ADS_1


"Baiklah, Bunda tahu jika sekarang anak Bunda sudah dewasa. Tapi ngomong-ngomong mengapa Bunga tidak memberitahu jika ada undangan rapat orang tua dari sekolahan? Sayang, Bunda bekerja untuk Bunga. Apapun yang Bunga butuhkan, sebisa mungkin Bunda akan mengusahakannya. Percayalah jika Allah akan terus memberikan rezekinya kepada Bunda. Tolong lain kali jangan ulangi lagi ya, Sayang. Jika ada pengumuman atau rapat orang tua dari sekolah, Bunga harus kasih tahu Bunda, oke!"


Bunga pun tertunduk dengan rasa penyesalan. "Iya, Bunda. Bunga minta maaf."


__ADS_2