
Terima kasih yang masih menunggu novel ini up lagi. Alhamdulillah, rate udah kembali ke angka 5. Terima kasih yang udah bantuin naikin Rate untuk novel ini. Jika diantara kalian tidak suka dengan novel, tolong jangan berikan rate rendah, cukup skip aja. Satu Rate buruk akan menjatuhkan rate, dan butuh banyak akun untuk mengambilkan seperti semula. Tolong pengertiannya ya 🙏
~SELAMAT MEMBACA KEMBALI ~
Setelah hujan reda, Askara langsung mengajak Bunga untuk pulang ke rumahnya , takut sewaktu-waktu hujan turun lagi dan Bunga tidak bisa pulang.
Kali ini wajah Bunga terlihat sangat berbinar karena dia pulang dengan membawa hampir satu kardus mainan yang masih tersegel. Semua itu diberikan oleh Askara untuknya. Awalnya bunga menolak, tapi Askara terus memaksanya dan mengatakan jika dia mempunyai pabrik mainan dan berjanji kepada Bunga akan membawa Bunga ke pabrik mainan miliknya.
"Om, terima kasih ya udah antrian Bunga," ucap Bunga dengan wajah berbinarnya.
"Iya. Sama-sama. Ingat ya, meskipun udah punya banyak mainan banyak jangan lupa untuk tetap belajar dan bantuin bunda, ya!" pesan Askara yang saat ini telah mengantarkan bunga tepat di depan rumahnya.
Namun, karena saat ini Askara mengantarkan bunga bertepatan dengan waktu magrib, maka tak ada sambutan dari bundanya Bunga, karena wanita itu sedang melakukan sholat magrib.
Askara belum beranjak dari teras rumah karena dia ingin meminta maaf karena telah membawa Bunga ke rumahnya terlebih dahulu sehingga terjebak hujan. Namun, hampir 5 menit Askara berdiri di teras tetapi Bundanya Bunga tak kunjung keluar. Menyadari jika Bundanya yang tidak keluar, Bunga bisa menebang jika saat ini Bundanya sedang melakukan Shalat.
"Om, kayaknya Bunda lagi salat, deh," ucap Bunga untuk menjawab kegelisahan wajah Askara.
"Oh, gitu ya. Om juga mau sholat sih. Tapi Om sholatnya di masjid. Dan Om gak bisa lama-lama disini. Nanti ada orang yang salah paham dengan kedatangan Om. Sampaikan maaf Om pada bunda kamu ya. Nanti kalau bunda kamu marah, kamu SMS Om aja ke nomer yang Om kasih tadi. Sekarang Om pergi ya!" pesan Askara sebelum meninggalkan rumah Bunga.
__ADS_1
"Iya, Om."
Baru saja Askara menghidupkan motornya tiba-tiba Asha keluar dari dalam rumah. Ternyata dirinya terlambat untuk menyapa orang yang telah mengantarkan Bunga pulang. Matanya masih menangkap pria berjaket hitam telah meluncur pergi.
"Sayang. Akhirnya kamu pulang," ucap Asha yang kemudian memeluk putrinya. Seketika mata Asha pun langsung menangkap sebuah kardus besar di samping Bunga. "Ini apa, Sayang?" tanyanya dengan heran.
"Ini mainan dari Om Kara, Bun. Om Kara kasih mainan banyak sama Bunga," jawab Bunga dengan apa adanya.
Mendengar nama yang tak asing, Asha langsung menautkan kedua alisnya. "Om Kara," cicitnya.
"Iya, Bunda. Om Kara yang rumahnya ada dibelakang kompleks ini Bun. Tempat mamanya Sinta bekerja. Rumahnya besar seperti istana di negri dongeng," oceh Bunga dengan wajah berbinarnya.
"Bunga, ayo cepat masuk, Sayang. Ini masih magrib, gak bagus kalau kita berada di luar." Asha langsung mengajak Bunga untuk masuk ke dalam rumah sambil membawakan kardus yang berisi mainan, karena terlalu berat dan tidak bisa dibawa sendiri oleh Bunga.
Sesampainya di dalam asal langsung mengambil air putih dan meminumnya sampai tandas. Hatinya benar-benar sangat kacau. Jika Kara yang dimaksud Bunga adalah Askara, berarti pria itu tanpa sengaja bertemu telah bertemu dengan putrinya sendiri.
"Sayang, bolehkah Bunda bertanya kepada Bunga?" tanya Asha ingin memastikan.
"Tanya apa Bunda?"
__ADS_1
"Mengapa Bunga membawa mainan yang sangat banyak seperti ini? Apakah anaknya om Kara tidak marah karena mainannya dibawa pulang oleh Bunga?"
"Om Kara kan enggak punya anak, Bun. Katanya dulu istrinya Om Kara pergi meninggalkan Om Kara begitu aja. Kasihan sekali Om Kara. Sama seperti Bunga," celetuknya.
Asha merasa heran dengan ucapan Bunga. "Sama bagaimana, Sayang?"
"Ya samalah, Bun. Bunga enggak punya ayah dan pengen banget punya ayah, tapi Bunda ga mau cari ayah untuk Bunga. Terus Om Kara itu enggak punya istri dan pengen banget punya anak. Sampai-sampai Om Kara punya pabrik mainan. Kami berdua sama-sama saling membutuhkan, Bun," oceh Bunga apa adanya.
"Bunda ... kalau Om Kara jadi ayah Bunga, Bunda mau enggak? Om Kara orang baik kok. Buktinya aja waktu itu dia langsung membawa Bunga ke rumah sakit saat menyerempet Bunga. Bahkan Om Kara juga memesankan ojek agar Bunga tidak jalan dari gang depan. Terus tadi Bunga juga antarin pulang," jelasnya lagi.
Seketika Asha langsung mendudukkan tubuhnya di sebuah kursi dengan jantung yang kian berdetak tak menentu.
Bunga yang menyadari Bundanya seperti sedang shock, langsung mendekat. "Bunda kenapa? Apakah kata-kata Bunga ada yang salah? Bunga tidak bermaksud untuk memaksa Bunda mencarikan ayah untuk Bunga. Maafkan Bunga yang sudah berlebihan saat memuji Om Kara. Cinta Bunga hanya untuk Bunda. Bunda jangan marah, ya." Mata bulat itu tak hentinya menatap Bundanya yang masih merasakan shock.
...~BERSMABUNG~...
Otw ketemu ... Kara.
Nex, tungguin aja
__ADS_1