Kisah Kita Belum Usai

Kisah Kita Belum Usai
BAB 24


__ADS_3

Kabar tentang ayah Bunga yang telah kembali kini sudah menyebar luas ke satu kompleks. Namun, tidak semua orang turut bahagia dengan kabar tersebut. Sudah pasti akan ada pihak yang tidak menyukai kabar tersebut. Dan pada saat Asha kembali pulang ke rumahnya, sorot mata tajam terus menatapnya dengan penuh ketidaksukaan.


"Ra, kamu nunggu diluar aja ya! Aku gak mau nambah bahan gosipkan tetangga!" Asha melarang Kara saat pria itu ingin ikut masuk kedalam rumahnya.


"Memangnya apa yang salah? Kan aku suami kamu, Sha!" protes Kara.


"Tapi mereka tidak tahu akan hal itu, Ra. Mereka hanya menganggap aku wanita tanpa suami. Akan sulit untuk menyakinkan mereka jika kamu adalah suamiku."


"Kamu takut? Apa yang kamu takutkan, Sha. Pernikahan kita masih sah di mata negara. Bahkan kita masih memiliki akte nikah. Lalu apa yang kamu takutkan, Ra?"


Meskipun apa yang dikatakan oleh Kara itu memang benar adanya, tetapi Asha yakin jika ada salah satu pihak yang tetap akan menjatuhkan dirinya lagi.


"Ra, kamu ini masih sah istriku. Apa yang terjadi padamu, aku akan bertanggung jawab Jangan pikirkan apa yang dikatakan oleh orang-orang tentang kamu. Aku sudah ada disini ada untuk kamu," ujar Kara.


Helaan napas panjang keluar begitu saja dari mulut Asha.


"Ra, apakah kamu yakin bisa bertanggung jawab dengan apa yang kamu ucapkan? Ra, saat ini ada Bunga. Apakah kamu bisa melindungi Bunga segenap jiwa dan ragamu?"


Kara tertunduk lesu. Ternyata sekalipun dia sudah bisa membawa Asha pulang ke rumahnya, tetapi dia belum bisa mendapatkan hati dan kepercayaan Asha sepenuhnya.


"Aku tahu, aku pernah melakukan sebuah kesalahan besar padamu. Tapi percayalah, kali ini aku tidak akan mengulanginya. Aku akan menjaga kamu, terlebih Bunga. Aku akan melindunginya dengan segenap jiwa dan ragaku, karena dia adalah satu-satunya pewarisku kelak," jelas Kara.

__ADS_1


Dan ... baru saja Asha ingin masuk kedalam rumah tiba-tiba seseorang telah masuk ke teras dan memanggil namanya.


"Asha," panggilannya.


Asha dan Kara langsung menoleh untuk melihat siapa yang datang. Dan saat melihat kedatangan pak RT beserta beberapa orang kompleks, Asha merasa sangat terkejut.


"Pak Rt ... ini kok bawa pasukan? Ada apa, Pak?" tanya Asha dengan heran.


Pria yang dipanggil Pak Rt sebenarnya tidak ingin menanggapi aduan dari beberapa orang yang mengadu padanya tentang Asha yang baru saja pulang bersama dengan pria asing, sementara sudah dua hari Asha tidak pulang ke rumahnya. Bahkan ada yang mengatakan jika selama dua hari Asha sedang menjual diri pada pria asing itu.


"Begini Sha ... " Terasa sangat berat, tetapi apa daya pria yang disebut pak Rt tidak bisa berbuat apa-apa. Dia harus meminta penjelasan dari Asha, kemana dirinya selama dua hari dan mengapa tiba-tiba pulang bersama dengan pria asing.


"Terpaksa dengan berat hati Bapak harus menyuruhmu pergi dari kompleks ini karena beberapa aduan jika selama dua hari ini kamu telah tinggal bersama dengan pria asing ini. Kamu tahu sendiri kan kalau warga komplek sangat tidak menyukai perbuatan yang menyalahi aturan," lanjut pak Rt dengan helaan nafas panjang.


"Kamu nggak usah sok-sokan nggak tahu. bukankah kamu sudah tahu jika di kompleks ini tidak menyukai orang-orang yang suka berzina? Kamu dan pria ini sudah menyalahi aturan yang ada. Pantas saja Bunga tidak punya ayah, ternyata seperti ini kelakuan ibunya. Mentang-mentang orang kaya langsung diembat. Jika bukan karena Bunga, kami sudah mengusirmu sejak dulu dari kampung ini." Suara seorang wanita yang sangat dia kenali, karena Asha sering mendapatkan ucapan-ucapan tidak mengenakan dari wanita itu.


"Astaghfirullahaladzim, Bu Anggi! Saya bukan orang seperti itu, Bu." Mata Asha telah berkaca-kaca karena mendapatkan tuduhan yang sangat menyakitkan.


"Lalu seperti kamu wanita seperti apa? Menginap di rumah pria yang bukan siapa-siapa kamu dan lihat sekarang kamu diantarkan pulang. Apakah salah jika aku mengatakan kamu adalah wanita murahan?" tambah Bu Anggi lagi.


"Stop!" Kini Kara menatap satu persatu orang yang mendatangi rumah Asha, termasuk pada seorang wanita yang baru saja memberikan tuduhan tidak benar kepada Asha.

__ADS_1


"Sebelumnya saya minta maaf karena membawa Asha pulang ke rumah, karena saya baru saja bertemu dengannya setelah 7 tahun berpisah. Tolong jika tidak tahu apa-apa tentang Asha, jangan menyudutkan dan menggiring opini jika Asha itu bukanlah wanita baik-baik. Bagaimana jika semua yang kalian tuduhkan kepada Asha itu tidak benar?" tanya Kara dengan sorot mata tajamnya yang mengarah pada wanita yang telah memberikan tuduhan tidak benar pada Asha.


"Atas dasar apa kamu berbicara seperti itu kepada Asha? Apakah kamu tahu jika dia adalah wanita murahan yang hamil tanpa suami. Jika bukan karena kebaikan Pak Rt, kami tidak sudi untuk menerimanya di kompleks ini."


Wanita yang bernama Bu Anggi itu masih bersikukuh dengan tuduhannya, jika Asha itu bukanlah wanita baik-baik.


Jika yang berbicara dengannya adalah seorang laki-laki mungkin saja Kara bisa langsung melayangkan pukulan pada orang tersebut. Tetapi yang sedang dihadapi adalah seorang ibu-ibu. Tidak mungkin dia melayangkan pukulan pada wanita itu.


"Cukup! Saya bisa menuntut kalian semua yang atas tuduhan pencemaran nama baik!" ancam Kara.


"Tunggu, Pak ... tunggu!" Kini Pak Rt tidak menginginkan keributan. "Kita bisa bicara semua ini dengan baik-baik. Bu Anggi tolong tahan emosi Ibu!"


Wanita yang dipanggil Bu Anggi pun langsung diam saat mendapatkan peringatan dari Pak RT. Hatinya sudah tidak sabar untuk melihat Asha diusir dari kompleks, tetapi sepertinya pria asing itu sedang melindungi Asha.


"Pak RT, maaf jika selama 2 hari saya telah Asha pulang ke rumah saya. Itu semua saya lakukan karena memang sudah semestinya Asha pulang ke rumah saya. Dan kedatangan saya ke sini hanya untuk mengambil barang-barang milik Asha, karena mulai kemarin dan untuk seterusnya Asha akan tetap tinggal di rumah saya untuk selamanya, karena dia adalah istri saya yang hilang," ucap Kara dengan penekanan.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Kara membuat orang-orang yang datang merasa shock dan tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar termasuk juga dengan Bu Anggi, yang merasa itu hanya sebuah lelucon saja.


"Tidak! Itu tidak benar! Tidak mungkin kamu adalah suaminya Asha. Jelas-jelas dia adalah wanita murahan!" Bu Anggi masih tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Kara.


"Terserah apa yang ingin kalian katakan kepada Asha. Tapi saya sebagai suaminya merasa tidak terima jika ada orang yang memfitnahnya dengan tuduhan-tuduhan yang menyakitkan. Dan saya tidak akan tinggal diam. Saya akan membawa masalah ini karena hukum! Jika kalian tidak percaya saya mempunyai semua bukti jika Asha adalah istri saya. Jika kalian masih tidak yakin dan tidak percaya kita bertemu di pengadilan!" tukas Kara yang mampu membungkam semua orang yang ada di depannya, termasuk juga dengan wanita yang bernama Bu Anggi.

__ADS_1


...~BERSAMBUNG~...


__ADS_2