Kisah Kita Belum Usai

Kisah Kita Belum Usai
BAB 4


__ADS_3

Sebagai singel perent, terkadang banyak cemoohan yang datang dari beberapa orang yang tidak menyukainya. Banyak yang beranggapan jika Bunga adalah anak haram dari hubungan terlarang, karena selama ini Asha tak pernah menunjukkan tentang siapa ayah kandung Bunga. 


Tak dipungkiri, terkadang Asha lelah ingin menyerah, tetapi wajah Bunga menepis rasa lelahnya dan membuatnya bangkit untuk tetap berjuang, karena hanya Bunga yang dia miliki saat ini. Jika dia menyerah, lalu bagaimana nasib dan masa depan Bunga yang masih panjang?


Seperti bisa, setiap sore akan banyak orang yang mengantarkan pakaian mereka untuk di cuci ataupun disetrika. Tetapi tak jarang juga yang meminta pakaiannya di jemput ke rumahnya. Semua dilayani Asha dengan ikhlas.


"Sha, kamu gak ada pikiran buat buka usaha laundry gitu? Kan pelanggan kamu juga banyak. Kamu bisa mencari orang untuk membantumu. Lihatlah sekarang tubuhmu tambah kering," ujar Sinta salah satu teman Asha yang tinggal di kompleks itu.


"Bukan tidak ingin, Sin. Tapi kamu tahu sendiri kan kalau modal untuk buka laundry itu gak murah. Aku tidak akan sanggup untuk membeli semua perlengkapannya. Bisa untuk makan dan bayar kontrakan aja udah bersyukur," jelas Asha dengan rasa sesak di dalam dada.


Siapayang tidak menginginkan mempunyai usah sendiri, terlebih jasa cuci dan setrika baju yang diminati oleh beberapa orang yang memang sangat dibutuhkan, karena mereka sangat sibuk dan tidak sempat untuk mencuci ataupun menyetrika sendiri.


"Kalau kamu mau, aku bisa bantu kamu untuk pinjam modal dari bosku. Dia tuh baik banget. Aku baru kerja satu bulan dengannya udah di kasih banyak bonus. Anakku juga dibelikan banyak baju dan mainan," ujar Sinta saat menceritakan kebaikan bosnya.

__ADS_1


"Bos kamu laki-laki apa perempuan? Kalau laki-laki, hati-hati aja. Jangan sampai ada sesuatu yang diinginkan oleh dia. Aku bukan mau berburuk sangka, tapi tau kan bagaimana cara orang kaya memperlakukan orang miskin. Aku hanya tidak mau kamu kenapa-kenapa nantinya," komentar Asha. Karena banyaknya berita tentang majikan yang melecehkan asisten rumah tangga, tidak ada salahnya untuk berhati-hati agar kejadian tidak terjadi.


Santi hanya menganggukan kepalanya. Tidak ada salahnya juga ucapan temannya, terlebih dengan statusnya yang duda. Bisa jadi itu adalah sebuah iming-iming dirinya betah bekerja ditempat itu. Namun, Sanri juga menepis prasangkanya karena Santi melihat jika majikannya dia adalah tipe orang yang royal karena saking kayanya.


"Dia emang duda. Tapi kayaknya dia bukan orang yang kayak gitu sih, Sha. Soalnya selain aku juga ada seseorang wanita tua yang bekerja di rumah itu dan juga ada tukang kebun, sopir dan scurity. Wajahnya tak terlihat seburuk itu."


"Jangan salah, Sin. Banyak kok orang yang terlihat baik dari luar tapi dalamnya busuk. Aku tidak sedang mencuci otakmu, aku hanya sedang menyuruhmu untuk berhati-hati saja," jelas Asha.


"Iya … iya. Makasih ya udah ingetin aku. Aku bakalan berhati-hati kok."


*


*

__ADS_1


Di sebuah rumah besar yang terlihat masih baru itu rasanya sangat sunyi. Bagaimana akan ramai jika yang menghuni hanya asisten rumah tangganya saja, sementara sang majikan jarang berada di rumah.


Pemilik rumah itu adalah Askara Djawa Lathin, seorang pria tanpa status, karena jika dikatakan duda, dia belum bercerai dengan istrinya, tetapi kenyataannya dia sudah berpisah dengan istrinya. Bahkan status di KTP nya saja masih menyebut jika Askara tercatat kawin. Begitu juga dengan akta nikah dan catatan sipil lainnya masih menyebut jika Askara belum menyandang status duda.


Perpisahan dengan sang istri yang secara tiba-tiba, membuatnya kacau dan hancur saat itu. Bahkan Askara juga sudah mencari sang istri kesetiap sudut kota. Namun, nyatanya sang istri tak bisa ditemukan. 


Setiap malam Askara selalu berdoa agar bisa ditemukan lagi dengan istrinya dan dia akan bersujud di kaki istrinya. Meminta maaf atas apa yang telah diperbuatnya, sekalipun itu adalah sebuah kekhilafan.


"Bi Sumi, apakah Santi belum datang?" tanya Askara pada Bi Sumi, wanita yang selama ini menemani suka dukanya.


"Belum Tuan. Santai bilang dia akan sedikit terlambat karena di sekolahan anaknya sedang ada rapat orang tua," jelas Bi Sumi.


"Oh." Askara pun hanya membuang nafas kasarnya. Sejenak Askara teringat pada gadis kecil yang terserempet mobilnya beberapa hari yang lalu. Gadis imut berambut panjang itu seakan mengingatkan Askara pada seseorang. Bahkan mata dan bibir hampir menyerupai wanita yang selama ini dia cari.

__ADS_1


"Nanti kalau Santai datang, suruh dia mencariku. Aku ada di ruang kerja!" pesan Askara yang kemudian meninggalkan Bi Sumi.


"Baik, Tuan."


__ADS_2