Kisah Kita Belum Usai

Kisah Kita Belum Usai
BAB 37


__ADS_3

Mendapat penindasan sejak kecil membuat Varo membenci hidup yang terasa miris. Pekerjaan ayahnya yang selalu keluar kota membaut ayah Varo mempercayakan semuanya pada istrinya. Pria itu tidak tau menau bagaimana sang istri memperlakukan Varo.


Terkadang Varo ingin menyerah, tetapi pesan Miss Queen membaut Varo berusaha untuk tetap kuat demi satu tujuan.


Waktu yang terus berjalan membaut Varo semakin berpikir lebih dewasa. Meskipun saat ini dia masih berusia 10 tahun, tetapi dia tidak ingin menjadi beban untuk orang-orang terdekatnya, terutama adalah ayah Bunga.


Sekalipun Varo bersikap dingin kepada Bunga bukan berarti dia tidak tahu balas budi dan berterima kasih pada keluarga Bunga.


Setiap hari Minggu Varo akan ke rumah Bunga untuk mencuci mobil milik Ayah dan juga membersihkan kebun. Sebenarnya Kara sangat keberatan dengan apa yang dilakukan oleh Varo, tetapi Varo mengatakan jika dia tidak diizinkan untuk melakukan sebuah pekerjaan, maka Varo akan mau lagi untuk menerima bantuan dari keluarga Bunga. Dengan terpaksa Kara pun mengiyakan saja syarat yang diberikan Varo.


"Tumben Varo belum datang?" tanya Kara kepada Asha yang membersihkan rumput di taman kecilnya.


"Mungkin sebentar lagi."


Kara pun mengangguk pelan, tetapi dia merasa heran saja karena sudah hampir satu jam dari waktu biasanya Varo datang, tetapi belum juga terlihat batang hidungnya. Rasa khawatir itu pun muncul, karena Kara sudah menganggap Varo seperti anaknya sendiri. Hanya saja Varo yang tidak mau mendapatkan perhatian lebih dari Kara.


"Sha, aku akan ke rumah bibinya Varo. Jika nanti dia ternyata telah datang, segera hubungi aku, ya!" pesannya pada sang istri.

__ADS_1


"Iya, nanti aku sampai."


Bunga yang mendengar perbincangan orang tuanya segera berlari menuju ke arah Kara saat pria itu hendak masuk kedalam mobilnya.


"Ayah ... tunggu!" teriak Bunga sambil berlari ke mobil ayahnya. "Bunga ikut!"


Kara langsung menautkan kedua alisnya. "Kamu ngapain ikut? Ayah hanya ingin keluar sebentar."


"Tapi Bunga mau ikut ayah. Boleh ya?" rengek Bunga, berharap sang ayah mengizinkan.


"Udahlah, bawa aja!" sahut Asha yang mendengar reenge Bunga.


"Ya sudah. Masuk!"


Bunga merasa sangat bahagia karena bisa ikut mencari Varo. Sebenarnya Bunga juga sangat menghawatirkan keadaan Varo, karena beberapa hari terakhir Bunga melihat jika Varo seperti tidak sehat.


"Yah, coba kita langsung ke rumah Varo aja. Bunga dengar ayah Varo sudah pulang," usul Bunga pada ayahnya.

__ADS_1


Kara pun mengiyakan usulan Bunga. Sekilas Kara melirik kearah putrinya yang saat ini sudah beranjak untuk dewasa. Jika di perhatikan Bunga akan selalu menjadi garda terdepan jika sudah menyangkut tentang Varo.


"Bunga, ayah ingin bertanya, tetapi kamu harus menjawabnya dengan jujur!" Kara yang penasaran langsung menanyakan langsung pada Bunga mengapa Bunga selalu mengkhawatirkan keadaan Varo.


"Ayah melihat kamu selalu mengkhawatirkan keadaan Varo. Apakah kamu suka dengannya? Bunga saat ini kamu masih kecil! Jika pun ada rasa suka, bersabar hingga usia kamu matang untuk mengelola kata suka!"


Bunga yang mendapatkan pertanyaan tak terduga dari ayahnya langsung terdiam tanpa kata. Bunga sendiri tidak tahu mengapa dirinya selalu mengkhawatirkan keadaan Varo. Jikapun ditanya tentang terasa suka, Bunga tidak tahu dimana dia menyukainya karena Varo yang selalu saja bersikap dingin dan selalu mengajukan dirinya.


"Jika kamu memang menyukai Varo, Ayah tidak keberatan tetapi kamu harus menunggu sampai usia kamu cukup. Jika kamu mau, Ayah akan menikahkan kamu dengan Varo dimasa mendatang, tetapi kamu harus bersabar, bagaimana?"


Bunga hanya tersenyum tipis. Diusianya saat ini Bunga sama sekali tidak memikirkan cinta-cintaan karena Bunga ingin fokus belajar dan mengejar cita-cita. Kalaupun ditanya mengapa dia selalu mengkhawatirkan Varo, Bunga sendiri tidak tahu apa alasannya. Tetapi rasa untuk melindungi Varo itu muncul dengan sendirinya.


"Ayah ... Bunga selalu mengkhawatirkan keadaan Varo, bukan berarti bunga menyukai Varo. Bunga hanya merasa kasihan saja dengannya. Bunga pernah berada diposisi sama seperti Varo dan Bunga bisa merasakan kesedihan yang sedang dirasakan oleh Varo.. Bunga hanya tidak mau melihat Varo bersedih terlalu lama saja, Yah. Bunga masih kecil dan Bunga tidak memikirkan cinta-cintaan sebelum Bunga lulus menjadi seorang sarjana seperti yang papa inginkan," tegas Bunga.


Jawaban yang menyentuh hati Kara. Entah bagaimana caranya Asha mendidik Bunga sehingga putrinya bisa berpikir layaknya orang dewasa.


"Baiklah. Apapun yang kamu lakukan, ayah akan selalu merasa bangga."

__ADS_1


Varo ... aku harap kamu baik-baik saja. Aku tidak tahu kenapa tapi perasaanku mengatakan jika kamu sedang tidak baik-baik saja. Bunga hanya bisa membatin dengan perasaan yang sudah tidak menentu.


...***...


__ADS_2