Kisah Kita Belum Usai

Kisah Kita Belum Usai
BAB 9


__ADS_3

Asha benar-benar merasa sangat terkejut saat dirinya bertemu kembali dengan Bibi Sumi, wanita yang pernah bekerja bersama dengan Askara tujuh tahun yang lalu. Seketika tubuhnya terasa bergemetar saat Bibi Sumi menyentuh tangan Asha.


"Ya Allah, Neng Asha .... Ini beneran Neng Asha kan?" Bibi Sumi masih tidak percaya jika wanita yang ada di hadapannya saat ini adalah Asha, istri yang selama ini dicari oleh majikannya.


"Neng Asha kemana aja selama, Neng. Tuan Kara tak hentinya mencari Neng Asha dan menunggu Neng Asha pulang. Neng ayo kita pulang! Tuan Kara sangat merindukan Neng Asha."


Tubuh Asha masih membeku. Tak pernah terbayangkan jika dirinya akan bertemu kembali dengan Bibi Sumi. Bahkan sedikitpun tak pernah terlintas di dalam pikiran Asha untuk bertemu kembali dengan Askara.


"Tidak, Bi. Aku tidak bisa pulang bersama dengan Bibi. Aku sudah punya kehidupan sendiri. Tolong jangan katakan kepada Kara jika Bi Sumi bertemu denganku di sini. Tolong, Bi!" Asha sangat memohon pada Bibi Sumi dengan mata yang berkaca-kaca. Sekalipun pernikahan Asha dengan Kara telah menghasilkan Bunga, tetapi rasa kecewanya pada Kara masih membekas dalam hati dan ingatannya, bagiamana keluarga Kara memperlakukan dirinya saat itu.


"Tapi Neng ... Tuan Kara tidak bisa hidup dengan tenang jika belum menemukan Neng Asha. Selama tujuh tahun, Tuan Kara selalu berpindah tempat hanya demi mencari keberadaan Neng. Neng ayo kita pulang!"


Asha masih tetap pada pendiriannya. Dia tidak mau pulang bersama ke rumah Askara, karena Asha ingin hidup tenang dan tidak mau berurusan dengan keluarga Askara. Terlebih saat ini Asha sudah memiliki Bunga. Asha tidak mau jika Bunga akan menjadi sarana Karina selanjutnya. Asha tahu jika wanita itu saat berambisi ingin memiliki Askara seutuhnya.


Karena Asha tidak mau membuka luka lama akhirnya dia memilih untuk meninggalkan toko itu,l dengan perasaan yang sangat kacau. Jika benar Askara memang tinggal di salah satu kompleks terdekat, suatu saat Askara pasti akan bertemu dengan Bunga ataupun dirinya.


Karena Asha terburu-buru dia tidak bisa berkonsentrasi dengan baik, hingga akhirnya motor yang dia bawa menabrak mobil yang hendak masuk parkir.


BRAAKK


Mata Asha hanya bisa membulat dengan lebar ketika kecelakaan kecil terjadi. Beruntung saja dirinya tidak jatuh. Hanya saja mobil yang di tabrak oleh Asha mengalami sedikit penyot.

__ADS_1


"Ya Allah, cobalah apa lagi ini?" Asha memejamkan matanya. Dia bisa menebak jika sang pemilik mobil akan memarahi dirinya. Kini dia siap untuk di lahap oleh sang pemilik mobil. Bahkan dia juga pasrah jika harus dibawa ke jalur hukum, karena dirinya yang bersalah.


Sang pemilik mobil merasa kaget dan langsung turun dari mobilnya untuk memastikan bahwa seseorang yang menabrak mobilnya tidak apa-apa.


"Kamu baik-baik aja?" tanya pemilik mobil saat mendekat ke arah Asha.


Mendadak tubuh Asha membeku saat mendengar suara yang baru saja menyentuh telinganya. Meskipun telah berlalu tetapi Asha masih bisa mengenali suara itu.


Tidak! Tidak mungkin itu adalah suara Kara. Di dunia ini banyak suara yang sama. Bukan hanya Kara yang mempunyai suara itu. batin Asha yang masih memejamkan matanya.


Dengan segala kekuatan yang dimilikinya, Asha memberanikan diri untuk menatap p seseorang yang baru saja menyapanya. Dia ingin memastikan jika orang yang menyapanya bukanlah Kara.


Perlahan dan pelan, kini mata Asha bisa melihat dengan jelas pria yang ada di sampingnya, meskipun saat ini Asha menggunakan helm.


Asha berusaha untuk tetap kuat. Dia tidak boleh lemah. Sebisa mungkin Asha mencoba untuk tetap tenang karena saat ini dia masih menggunakan helm.


"Saya minta maaf, Pak. Saya benar-benar tidak sengaja menabrak mobil Bapak karena sedang terburu-buru. Jika Bapak ingin menuntut saya, silahkan, Pak," ujar Asha dengan suara sedikit bergemetar.


Askara tidak mempermasalahkan mobilnya yang penyot. Baginya mobil tidaklah penting b karena dia bisa mengganti kapanpun dia mau. Bahkan di garasi rumahnya saja terdapat beberapa mobil yang jarang dia pakai.


"Saya tidak mempersalahkan tentang keadaan mobil saya tetapi saya khawatir dengan kamu. Apakah kamu baik-baik saja?"

__ADS_1


"Iya, Pak. Saya baik-baik saja. Jika Bapak tidak merasa tidak dirugikan dengan kejadian ini, bisakah saya pergi. Saya ada urusan penting," kilah Asha.


"Iya. Asal kamu nggak apa-apa pergilah! Hati-hati di jalan! Jangan sampai terjadi lagi kejadian yang lebih fatal lagi," pesan Askara.


Karena telah diizinkan pergi oleh Askara, Asha pun langsung meninggalkan Askara begitu saja. Beruntung Askara tidak meminta Asha untuk membuka helmnya. Bahkan sedikitpun Askara tidak mengenali suara Asha.


"Aneh ... kok rasanya gak asing sama suara wanita itu ya. Mungkin aku terlalu merindukan Asha sehingga menganggap jika suara itu adalah suara Asha." Askara pun langsung berlalu untuk menjemput Bibi Sumi yang sedang berbelanja di toko itu. Namun, saat langkah Aksara hendak masuk ke dalam toko, matanya menangkap Bibi Sumi sedang duduk di sebuah bangku.


"Bi Sumi," gumam Askara yang kemudian mendekati Bibi Sumi.


"Bi, udah lama nunggunya? Maaf tadi aku harus menyelesaikan sedikit masalah. Bibi sakit?" tanya Askara saat melihat wajah Bibi Sumi terlihat sangat pucat.


"Tidak Tuan. Bibi baik-baik aja hanya saja ... " Bibi Sumi menggantung ucapannya.


"Hanya apa, Bi?" Askara merasa sangat penasaran.


"Bibi baru saja bertemu dengannya," ujar Bibi Sumi.


Kedua alis Askara langsung menaut. "Maksud Bi Sumi, Asha." Suara Askara melemah saat menyebut nama Asha. Kepala Bibi Sumi mengangguk dengan pelan.


"Dimana, Bi? Dimana Asha?"

__ADS_1


"Sudah pergi, Tuan."


Mendadak Askara mengingat seorang wanita yang baru saja menabrak mobilnya. Suara yang dianggap hanyalah suara halusinasinya saja ternyata benar adanya. Pemilik suara itu bener-bener Asha.


__ADS_2