Kisah Kita Belum Usai

Kisah Kita Belum Usai
BAB 2


__ADS_3

Asha merasa sangat terkejut saat melihat putrinya pulang dengan luka di tangan dan kaki. meskipun hanya lecet, tetap saja rasanya pasti sakit.


"Astaga … Bunga. Kamu kenapa, Nak?" tanya Asha yang sangat panik saat Bunga berjalan masuk ke rumah dengan tertatih.


"Bunga jatuh, Bun." Bunga berusaha menyembunyikan kebenaran jika dia baru saja diserempet oleh mobil. Jika Bunga mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, pasti hanya akan menambah beban pikiran Bundanya.


"Kenapa bisa jatuh? Dimana kamu jatuhnya? Bunda tadi sudah mencarimu kemana-mana, tetapi kamu enggak ada. Kamu main kemana, Bunga? Kan Bunda udah pernah bilang jangan main terlalu jauh, apalagi musim hujan seperti ini!" Omel Asha, bundanya Bunga.


"Maaf Bunda, Bunga sudah membuat Bunda sangat khawatir. Bunga gak apa-apa, Bunda." Sepertinya keadaan telah membuat hati Bunga kuat akan cobaan yang selalu saja datang.


"Terus ini siapa yang ngobatin?"


"Tadi Bunga ketemu sama Om yang baik hati. Om itu yang ngobatin luka Bunga dan pesenin Bunga ojek. Pokoknya Om itu baik, Bunda. Bunda harus berterima kasih pada Om itu."


"Iya. Kapan-kapan Bunda akan berterima kasih sama Om itu, tapi dengan syarat kamu gak main jauh dan gak bikin Bunda khawatir lagi. Nanti kalau ada apa-apa denganmu, bagaimana dengan Bunda? Di dunia ini Bunda hanya punya kamu, Sayang." Asha tak kuasa untuk menahan perasaannya. Dia pun langsung memeluk tubuh kecil itu dengan pelan karena tangan dan kakinya terluka.


*


*

__ADS_1


Malam yang panjang telah berakhir, karena sang mentari telah menyingsing di ufuk timur. Kalau keemasan telah membentang luas. Kicauan burung-burung terdengar merdu dan bersahutan. Sepercik harapan tertoreh dalam hati, berharap hari ini cuaca bersahabat, setelah hampir satu Minggu hujan terus mengguyur belahan bumi.


Seperti biasa, pagi ini Bunga sudah siap dengan pakaian seragam sekolahnya. Meskipun Bunga masuk sekolah pu-kul 8 pagi, tetapi pu-kul 7 dia sudah mempersiapkan dirinya.


"Lho, kok pakai baju sekolah?" Asha kaget saat melihat putrinya telah siap dengan seragam TK miliknya. Bunga yang sudah diajarkan kemandirian sejak dini oleh Bundanya,kini sudah bisa memakai pakaiannya sendiri.


"Kamu kan lagi sakit. Kenapa sekolah? Bunda udah izin sama Miss Mely, kalau hari ini kamu enggak masuk sekolah, Sayang," ujar Asha lagi.


"Tapi Bunga mau sekolah, Bunda. Si rumah Bunga merasa bosan. Gak bisa main sama-sama teman-teman," celoteh Bunga.


"Tapi kamu masih sakit, Sayang. Kok libur dulu, ya," bujuk Asha.


"Ya udah, Bunga sekolah. Tapi Bunda masak dulu, ya."


Semenjak pergi dari kehidupan Askara, Asha mencoba berbagai cara untuk mempertahankan hidupnya. Dulu sebelum Asha melahirkan dia bekerja di salah satu toko kue. Namun, setelah melahirkan Asha tidak bisa melanjutkan pekerjaannya lagi karena tidak ada yang menjaga anaknya. Beruntung saja dari kecil Bunga tidak rewel sehingga Asha berinisiatif untuk menjadi tukang cuci dan setrika saat usia Bunga masih dalam hitungan 40 hari.


Meskipun upah dari tukang cuci dan setrika baju tidak seberapa, tetapi alhamdulillah bisa untuk menyambung hidup Asha dan Bunga, meksipun harus buka tutup lobang.


Saat ini Bunga bersekolah di salah satu taman kanak-kanak terdekat yang jaraknya tidak terlalu jauh. Jika biasanya Bunga akan diantar Bundanya dengan berjalan kaki, tetapi tidak untuk hari ini. Hari ini Bunga diantara Bundanya dengan naik motor, karena sang Bunda kebetulan juga ingin mengantarkan pakaian yang sudah selesai di setrika.

__ADS_1


Setelah memastikan anaknya masuk kedalam kelas, Asha pun berniat untuk langsung mengantarkan baju-baju yang sudah si setrikanya. Namun, saat hendak menghidupkan motornya seorang ibu dari teman Bunga menegurnya.


"Lho, Bunga sekolah, Bun?" tanyanya.


"Iya. Memangnya kenapa, Bu?" Asha bertanya dengan heran.


"Lho, bukannya Bunga abis keserempet mobil di simpang tiga kemarin, Bun."


"Hah? Kok Bunga gak bilang kalau keserempet mobil? Dia cuma bilang katanya abis jatuh." Asha sangat terkejut apa yang baru saja didengarnya.


"Mungkin Bunga takut dimarahin sama Bundanya," celetuk lawan bicaranya.


Asha hanya menggelengkan kepalanya, karena selama ini dia tidak pernah memarahi Bunga. Sebisa mungkin Asha menahan amarahnya jika dalam keadaan marah. Dia tidak pernah melampiaskan emosinya kepada Bunga. Namun entah apa yang dipikirkan anak kecil itu sehingga menutupi sebuah kebenaran.


"Tapi untung aja yang nyerempet bertanggung jawab dan langsung membawa Bunga ke rumah sakit terdekat. Syukurlah kalau Bunga gak apa-apa," pungkas wanita itu yang kemudian meninggalkan Asha karena ingin mengantarkan anaknya ke dalam kelas.


Astaga Bunga ... kenapa kamu sembunyikan hal ini dari Bunda, Nak? Bunda enggak akan marahin kamu.


Kini pikiran Asha semakin tidak tenang dan memilih mengurungkan niatnya untuk mengantar baju-baju itu kepada pelanggannya. Asha memilih untuk menunggu Bunga, untuk memastikan jika anaknya itu baik-baik saja.

__ADS_1


...~BERSAMBUNG~...


__ADS_2