
Secercah harapan baru terpancar dari wajah Bunga, dimana malam ini dia bisa merasakan tidur bersama dengan ayah dan ibunya dalam satu ranjang. Hatinya sangat bahagia saat Kara menunjukkan satu persatu foto kenangan yang masih tersimpan. Bahkan Kara juga menujukan sebuah foto pernikahannya dengan Asha.
Kini Bunga telah memiliki seorang ayah yang selama ini diharapkannya. Dan untuk kedepannya Bunga tidak akan dibully lagi karena tidak memiliki ayah.
"Ayah, kenapa ayah meninggalkan Bunda?" Tiba-tiba saja pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir mungil yang saat ini sedang berada ditengah-tengah antara Kara dan juga Asha.
Seketika Asha hanya bisa menelan kasar salivanya, meskipun pertanyaan itu dilayangkan untuk Kara. Karena sejatinya dialah yang pergi meninggalkan Kara.
"Ayah tidak meninggalkan Bunda, tapi Bunda yang meninggalkan ayah," jawab Kara apa adanya.
Bola mata kecil itu langsung menatap Bundanya yang juga terbaring disampingnya.
"Benarkah itu, Bunda? Mengapa Bunda meninggalkan ayah? Apakah Bunda tidak sayang sama ayah?"
__ADS_1
Untuk kesekian kalinya Asha harus panas dingin untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh anaknya. Anak yang begitu pintar. Bahkan pikirannya jauh lebih dewasa ketimbang usianya.
"Itu ... Dulu ayah menyakiti Bunda, sehingga Bunda pergi meninggalkan ayah kamu," jawab Asha dengan dada yang telah bergerumuh dengan kencang.
"Ayah, benarkah itu?" Kini Bunga tengah berperan seperti seorang hakim yang sedang mencari sebuah kebenaran.
"Ayah tidak menyakiti Bundamu, karena ayah sangat mencintai Bundanmu setulus hati ayah. Jikapun ayah melakukan sebuah kesalahan, ayah benar-benar tidak sengaja melakukannya. Ayah juga sudah berusaha meminta maaf kepada Bundamu, tetapi bundamu tidak memaafkan ayah dan memilih pergi menjauh dari hidup ayah. Selama hampir tujuh tahun lamanya, ayah masih terus melakukan pencarian untuk menemukan keberadaan Bundamu. Dan saat ini ayah bersyukur karena telah menemukan kamu dan Bundamu."
Kara bercerita apa adanya, karena dia tidak ingin menabur kebohongan. Kara sadar jika anaknya mempunyai kepintaran luar biasa Dia tidak ingin kata-katanya hanya akan menjadi boomerang untuknya.
"Bunda, apakah saat ini Bunda masih marah pada ayah? Apakah Bunda masih tidak ingin memaafkan kesalahan yang dibuat oleh ayah? Bukankah Bunda pernah menyatakan kepada Bunga, jika kita harus saling memaafkan? Lalu mengapa Bunda tidak kamu akan kesalahan ayah?"
Tubuh Asha kian terasa panas dengan setiap pertanyaan yang selalu saja menyudutkan dirinya, seolah Bunga sedang membela Kara. Padahal selama ini Asha-lah yang berjuang untuk hidup Bunga, tetapi mengapa setelah bertemu dengan ayahnya, Bunga malah terus-menerus menyudutkan dirinya?
__ADS_1
"Bunda ... Bunga sedang bertanya kepada Bunda mengapa Bunda tidak menjawab pertanyaan Bunga?"
"Bunga ... sudah malam. Kamu tidur ya! Besok pagi ayah akan antar kamu ke sekolahan. Kamu mau kan ayah antar?" Kara mencoba untuk mencari celah agar Bunga tidak terus-menerus Asha.
Dengan wajah yang berbinar, tentu saja Bunga langsung mengiyakan ucapan ayahnya yang ingin mengantarkannya ke sekolah.
"Iya, Bunga mau. Tapi sebelum itu bunga ingin mendengar apakah saat ini Bunda telah memaafkan ayah atau belum." Bunga masih menunggu sebuah jawaban dari ibunya.
Dan dengan berat hati Asha pun langsung mengangguk dengan pelan. "Iya, Bunda sudah memaafkan ayah kamu. Jadi sekarang Bunga bobok, ya! Ini udah malam. Nanti kepala Bunga sakit."
"Baiklah Bunga akan tidur dengan nyenyak tetapi sebelum bobok, Bunga ingin Ayah dan Bunda saling bersalaman. Kata Miss Queen kalau kita mempunyai salah kepada orang lain kita harus meminta maaf dan menjabat tangannya agar permintamaafan itu sah," komentar Bunga.
Peran Bunga bukan hanya sebagai pelengkap keluarga tetapi juga sebagai hakim untuk menyatukan kembali keluarganya yang telah terpisah selama ini.
__ADS_1
...~BERSAMBUNG~...
Yang mau lebaran, udah buat kue apa aja kalian? Hihihi