
Askara tak bisa berkata-kata lagi saat melihat wanita yang dia cari selama ini telah berada di dalam mobilnya. Bahkan rasanya seperti mimpi saat melihat wajah Asha yang sangat dirindukannya. Tangannya terulur untuk menyentuh wajah itu.
"Kamu beneran Asha? Astaga ... ini bukan mimpi kan?" Askara benar-benar merasa tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sementara itu Asha masih memejamkan mata, tak sanggup untuk melihat Askara.
"Sha, tujuh tahun aku terus mencari keberadaan. Rasanya hampir putus asa saat tak menemukan keberadaanmu, tetapi detik ini nasib baik sedang berpihak kepadaku. Tuhan mempertemukan kita lagi. Asha bagaimana kabarmu selama ini? Apakah kamu baik-baik saja? Kenapa kamu pergi meninggalkan aku, Sha? Apakah karena kesalahan satu malam itu lalu kamu membenciku seumur hidupmu? Sudah kukatakan kepadamu jika malam itu aku —" belum sempat Askara meneruskan ucapannya, Asha langsung memotongnya.
"Stop! Tolong jangan bahas lagi malam itu di depanku! Aku tidak ingin mengingat rasa sakit yang pernah kurasakan!"
"Oke. Aku tidak akan membahas masalah itu lagi, tapi kamu pulang ya! Aku sangat merindukanmu," pinta Askara dengan penuh harap.
"Maaf Ra, aku tidak bisa. Aku sudah punya keluarga. Tolong lupakan aku!"
Askara langsung melepaskan tangan yang sempat membelai pipi Asha. Sungguh hatinya terasa teriris dengan ucapan Asha. Bagaimana bisa wanita yang selama ini dicari ternyata telah memiliki keluarga baru.
"Tidak mungkin!" ucap Kara dengan pelan. "Kamu pasti bohong, Sha. Kamu ini masih sah istriku. Mana bisa kamu menikah dengan pria lain." Askara hanya tersenyum getir.
__ADS_1
Dada Asha berdetak dengan kencang. Aku tidak bohong, Ra! Karena aku memang sudah memiliki Bunga. Satu-satunya keluarga yang kumiliki. Entah kamu akan percaya atau tidak jika ku katakan Bunga adalah anak kamu
Hening untuk waktu yang cukup lama. Tak ada kata yang terucap lagi dari bibir dua insan yang baru saja dipertemukan. Ketakutan terbesar Asha adalah, ketika dirinya kembali pada Askara, akan datang lagi orang-orang yang tidak menyukainya lalu mengancam kebahagiaannya beserta Bunga.
Cintanya pada Kara telah menjatuhkan diri dalam lubang yang sama sebanyak dua kali. Lalu jika saat ini Asha kembali kepada Kara, apakah dia bisa menjamin kebahagiaannya, karena saat ini ada sosok yang wajib dia bahagiakan. Bisakah Askara menjamin kebahagiaan Bunga? Jika dia tidak bisa tegas dan tidak bisa melindungi keluarganya, untuk apa Asha kembali pada Kara.
"Jika sudah tidak ada yang ingin dibahas, lebih baik aku turun saja," kata Asha yang sudah mulai bosan dengan keheningan di dalam mobil.
"Tidak! Kamu tidak boleh keluar! Aku akan membawamu ke rumah sakit. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu." Askara pun langsung menjalankan mobilnya dengan perasaan yang tidak karuan.
Askara tak membalas ucapan Asha. Dia terus melajukan mobilnya dengan pelan. Sesekali Askara melirik kearah Asha yang duduk tanpa ekspresi. Ingin sekali rasanya Askara memeluk tubuh Asha, tetapi melihat wajah datar wanita itu, Askara memilih untuk memendamnya.
Sesampainya di rumah sakit terdekat, Askara langsung membukakan pintu untuk Asha. Namun, tanpa terduga Aksara langsung mengangkat tubuh Asha dari mobil.
"Kara, lepaskan! Aku bisa jalan sendiri!" tolak Asha.
__ADS_1
"Sudah diam aja!"
Asha pun tak berkutik lagi. Aroma tubuh tubuh Askara menambah getaran dalam dadanya. Aroma yang masih sama. Tak sedikitpun berbeda dari tujuh tahun yang lalu. Matanya pun terpejam untuk menikmati aroma tubuh Kara yang tak pernah telah melekat dalam hatinya
"Sha!" panggil Kara ketika Asha tak kunjung membuka mata, padahal mereka telah sampai di ruang periksa.
Perlahan Asha membuka matanya dengan pelan. Silih saat ini dirinya telah berada di sebuah ruangan.
"Kenapa istrinya, Pak?" tanya seorang perawat.
"Jatuh dari motor. Tolong obati luka-lukanya jangan sampai lecet!" titah Aksara.
"Bukanya itu lukanya memang sudah lecet?" Sang perawat memprotes ucapan Askara.
~Dah segini dulu. Nanti keburu tidur kalian 🤭
__ADS_1
otw ketemu sama Bunga lagi 🤭