
Asha merasa sangat bosan ketika bisa mengerjakan pekerjaan rumah, karena semua pekerjaan rumah telah dikerjakan oleh Bibi Sumi dan juga Santi. Bahkan Asha tak diizinkan untuk alat tempur yang biasa dia gunakan untuk membersihkan rumahnya.
"San ... biarkan aku yang menyapu!" ujar pada Santi saat wanita itu sedang menyapu halaman.
Santi menggeleng. Tentu saja Santi tidak mengizinkan istri dari majikannya menyapu halaman.
"Tidak bisa, Asha. Saat ini kamu adalah pemilik rumah ini. Tidak mungkin aku memberikan sapu ini padamu. Kamu itu majikan aku!" tolak Santi.
"Tapi aku merasa bosan! Setiap hari hanya lontang-lantung tidak jelas. Bahkan aku juga dilarang untuk menjemput Bunga. Aku ini sehat walafiat tapi kenapa aku diperlakukan seperti orang yang sedang sakit parah tidak boleh melakukan apa-apa!" protes Asha dengan rasa kesal.
Semenjak Asha tinggal di rumah Kara, dia tidak diizinkan untuk mengantar jemput Bunga, karena saat ini ada sopir yang menjemput Bunga.
"Ya mau bagaimana lagi. Semua ini keinginan suami kamu, Sha. Dia itu kelihatan sayang banget sama kamu, tapi kok bisa-bisanya kamu kabur sih, Sha? Heran deh. Udah dikasih suami ganteng, kaya dan baik hati masih aja kamu sia-siakan," ucap Santi yang menyayangkan tindakan Asha saat kabur tujuh tahun lalu.
Asha hanya tersenyum getir. Semua orang hanya bisa melihat covernya saja tanpa bisa melihat isinya. Mungkin jika Santai ada di posisinya saat itu dia juga akan memilih pergi daripada setiap hari mendapatkan teror dari orang yang sangat berambisi untuk mendapatkan suaminya. Lebih baik menyerah jika pada akhirnya nyawanya akan menjadi jaminan. Bukan hanya itu saja yang melandasi kepergian Asha saat itu. Sikap Kara yang tidak tegas, membuat Asha menyerah. Asha tidak bisa bertahan pada orang yang tidak bisa tegas, karena itu hanya akan menyakiti dirinya sendiri.
"Jangan menilai seseorang dari covernya saja, San! Belum tentu yang terlihat baik itu baik, dan apa yang terlihat jelek akan jelek. Banyak topeng untuk menutupi keburukan dan kejelekan seseorang. Aku sudah kenyang menghadapi orang-orang seperti ini," jelas Asha.
"Jadi, apakah pak Kara juga mempunyai topeng? Karena aku lihat dia itu pria yang sempurna," ujar Santi lagi.
Asha hanya menyendikkan bahunya. "Entahlah, aku juga tidak tahu."
__ADS_1
"Kamu gimana sih, Sha! Kan kamu istrinya. Masa enggak tahu!"
"Ya kan aku sama Kata udah pisah selama tujuh tahun. Aku nggak tahu bagaimana dia sekarang. Kalau dulu sih nggak punya topeng hanya saja dia tidak tegas, seolah memberikan celah orang ketiga untuk menghancurkan rumah tangga kami. Dan Kara tidak bisa berbuat apa-apa." Asha mengenang sedikit kisah masa lalunya.
"Apakah kepergianmu karena ada pihak ketiga dalam rumah tangga kalian saat itu?" Santi semakin merasa penasaran dengan kisah antara Asha dengan Kara, mengapa Asha sampai pergi meninggalkan Kara.
"Yah, kurang lebih seperti itu, San. Sekalipun Kara telah menganggap dia sebagai adiknya, tetapi tidak dengan wanita itu yang sangat berambisi untuk mendapatkan Kara. Bahkan sejak awal pernikahan, wanita yang sudah dianggap sebagai adiknya dengan sangat terang membenciku. Sudahlah, San! Aku tidak bisa menceritakan bagaimana keluarga Kara memperlakukanku. Jika kamu ingin tahu kisahnya, kamu baca saja novel teh ijo yang berjudul My Ex. Di sana ada kisahku sebelum aku memiliki Bunga."
Santi hanya mengangguk dengan pelan. "Baiklah nanti aku akan membacanya."
...***...
"Ayah, hari ini Bunga tidak mau naik mobil! Bunga ingin naik motor aja," kata Bunga saat sarapan pagi.
Kara langsung menautkan kedua alisnya. "Loh, kenapa Sayang? Apakah ada membully-mu lagi? Jika ada, katakan sama ayah siapa orangnya agar ayah tegur dia," ujar Kara yang merasa terkejut dengan keinginan putrinya.
"Tidak, Ayah. Bunga hanya merasa bosan saja naik mobil. Bolehkah, Yah kalau Bunga naik motor?" tanya Bunga untuk meminta persetujuan dari ayahnya.
Dengan helaan napas panjang, Kara pun mengiyakan saja apa yabg diinginkan oleh Bunga. "Baiklah jika itu keinginanmu. Tapi Pak Maman yang antara ya!"
"Siap, Yah. Terima kasih banyak sudah memberikan izin Bunga naik motor." Wajah Bunga terlihat sangat berseri.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan sarapannya, Bunga segera bergegas menyiapkan perlengkapan akan dibawa ke sekolahan. Seperti biasa bunga akan membawa bekal yang telah disiapkan oleh ayahnya. Semenjak bunga tinggal di rumah Kara, semua perlengkapan bunga, Kara yang menyiapkan sendiri. Kara ingin menggantikan waktu yang telah berlalu. Tidak mudah seorang Bunga melewati hari-hari tanpa seorang ayah. Dan saat ini Kara ingin Bunga merasakan peran seorang ayah yang selama ini tidak dia rasakan.
"Ayah ... Bunda. Bunga berangkat dulu ya!" Bunga yang sudah siap segera menyalami tangan ayah dan bundanya.
"Iya. Hati-hati dijalan dan jangan nakal, ya!" pesan Asha.
"Siap Bunda."
Asha hanya tersenyum tipis saat melihat punggung kecil itu selalu meninggalkan dirinya. Wajah Bunga yang setiap hari terus berseri, bahkan semenjak mereka tinggal di rumah Kara, membuat Asha merasa semakin merasa bersalah kepada Bunga. Seharusnya Bunga tidak ikut menanggung dari keegoisannya yang pergi begitu saja.
"Kamu kenapa? tanya Kara saat melihat Asha mengusap jejak air matanya yang sempat membasahi pipinya.
"Aku tidak apa-apa. Kara ... maaf semua ini salahku," sesal Asha.
Kara pun segera menangkap Asha dalam. "Kamu jangan menyalakan dirimu sendiri. Semua itu terjadi karena aku. Aku tidak bisa bertindak tegas pada Karin. Jika aku bisa tegas, aku yakin kamu tidak akan meninggalkanmu. Tapi sudahlah, saat ini Tuhan telah mempertemukan kita kembali. Itu artinya Tuhan tidak merestui perpisahan kita. Mulai sekarang tolong hapus masa lalu yang menyakitkan karena aku akan mengukir kebahagiaan untuk keluarga kita."
"Apakah kamu yakin?" tanya Asha yang masih belum percaya sepenuhnya kepada Kara jika pria itu tidak akan mengulangi kesalahannya lagi.
"Iya, aku yakin."
...***...
__ADS_1