
Sudah larut malam, tetapi Bunga bisa untuk memejamkan matanya. Agenda yang akan dilakukan lusa membuatnya tidak bisa tidur, karena dia tidak bisa untuk ikut ke kebun binatang. Saat menoleh ke samping Bunga melihat Bundanya sudah tertidur dengan. Tangannya pun terulur untuk menyentuh pipi Bundanya.
Ya Allah, banyakanlah uang Bundaku agar kelak bisa membawaku untuk ke kebun binatang.
Setelah menyentuh pipi bundanya, Bunga langsung mencium bundanya. "Bunga sayang sama Bunda." Dan setelah itu Bunga pun membenarkan selimut bundanya.
"Selamat tidur, Bunda. Semoga hari esok rejeki Bunda melimpah," ucap Bunga sebelum menutup matanya untuk tidur.
Asha yang sejatinya belum pernah tertidur, hanya bisa menahan rasa perih hatinya yang rasanya seperti sedang teriris. Dalam mata yang terpejam, air matanya luruh begitu saja membasahi pipinya. Dan inilah salah satu alasan Asha untuk tetap bertahan, meskipun rasanya sangat melelahkan.
Bunga ... maafkan Bunda, Sayang. Seharusnya kamu tidak pernah merasakan penderitaan seperti ini jika Bunda tidak meninggalkan ayahmu. Sungguh saat itu Bunda tidak tahu jika kamu sudah ada di perut bunda.
Asha semakin sesenggukan karena menahan tangisnya. Dia merasa gagal tidak bisa memberikan kehidupan yang kayak untuk anaknya. Karena Bunga belum bisa tidur, dia bisa mendengar suara sesenggukan dari Bundanya. Dengan cepat dia langsung menoleh kesamping.
"Bunda .... Bunda kenapa? Bunda mimpi buruk?" Bunga berusaha membangunkan Bundanya karena menganggap jika saat ini sang bunda sedang mendapatkan mimpi buruk.
Asha yang tidak sanggup langsung bangun untuk memeluk Bunga dengan erat. Dalam dekapannya, Asha langsung memecahkan tangisannya sehingga membuat Bunga merasa bingung.
"Bunda kenapa? Bunda mimpi buruk, ya? Bunga ambilin minum dulu untuk Bunda ya?"
Asha menggiling dengan pelan dan menahan agar tubuh kucing itu tidak melepaskan pelukannya. Saat ini Asha sangat membutuhkan pelukan dari Bunga agar hatinya sedikit lebih tenang.
"Bunga jangan kemana-mana. Peluk Bunda b untuk sebentar saja. Bunda sangat takut, Sayang," ujar Asha dengan sesenggukan.
Bunga semakin yakin jika saat ini Bundanya baru saja mendapatkan mimpi buruk sehingga dia sangat ketakutan dan tidak mau ditinggal.
"Bunda ... Bunda sekarang enggak apa-apa. Bunga ada disini untuk Bunda." Tangan kecil nan mungil itu langsung mengelus punggung Asha, sungguh Asha tidak bisa berkata-kata lagi. Tak pernah hentinya Asha selalu bersyukur karena telah diberikan anak seperti Bunga yang sangat pengertian. Bahkan pikiran Bunga telah dewasa sebelum waktunya. Mungkin karena Bunga sudah kebal dengan hidup yang telah mereka jalani selama ini.
__ADS_1
"Bunga .... " Rasanya Asha tak bisa berhenti menangis, apalagi saat mendapatkan elusan dari tangan mungil itu.
*
*
Mentari telah menyingsing. Silau keemasan telah masuk ke celah-celah fentilasi jendela kamar. Suara ayam dan burung saling bersahutan seakan sedang berteriak jika hari sudah pagi waktu untuk beraktivitas lagi.
Anak dan ibu saat ini bangun kesiangan karena tadi malam mereka berdua tidak bisa tidur dan pada akhirnya perut Bunga lapar. Mau tidak mau Asha bangkit dari atas tempat tidur dan dan langsung memasak nasi goreng, karena memang sudah tidak ada sayur yang tersisa lagi. Hanya nasilah satu-satunya makanan yang tersiksa. Beruntung saja Bunga bukanlah anak yang pemilih dalam makanan. Apa yang ada dia makan. Jika tidak ada, Bunga hanya bisa berdoa semoga hari esok Allah akan memberikan apa yang sedang dia inginkan.
Perlahan mata Bunga mengerjap. Dilihatnya sang Bunda masih berada di sampingnya, padahal jarum jam sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi. Itu artinya saat ini dia dan bundanya sedang terlalu bangun.
"Bunda, bangun! Ternyata saat ini udah siang, Bunda," rengek Bunga saat membangunkan bundanya.
Asha menggeliat dengan pelan sebelum dia membuka matanya. Karena rasa kantuk yang masih menyerang, Asha membuka matanya sambil menguap kecil.
"Bunda, kita terlambat bangun. Lihat itu udah jam 7."
Seketika Asha langsung terlonjak dari tempat tidur saat dia baru saja melihat jarum jam yang memang sudah menunjuk pukul tujuh pagi.
"Astaga, sayang!" pekik Asha dengan rasa panik. Bahkan bisa dia bisa bangun kesiangan, mana harus menyiapkan bekal untuk Bunga lagi.
"Sayang, kamu mandi dan siap-siap ke sekolah, ya. Bunda mau menyiapkan bekalmu, dulu!" Tak ingin membuang waktunya, Asha langsung berlari ke dapur untuk menyiapkan sarapan dan bekal untuk Bunga.
Hampir tiga puluh menit, akhirnya sarapan dan bekal untuk Bunga telah siap. Bahkan Bunga pun juga sudah siap menunggu sarapannya sejak tadi.
"Sayang, Bunda benar-benar minta maaf karena bangunnya kesiangan. Cepat makan, biar Bunda antar kamu ke sekolah!" perintah Asha.
__ADS_1
"Baik, Bunda." Dengan patuh, Bunga langsung memakan sarapan yang telah disiapkan Bundanya. Setiap pagi wajib untuk Bunga untuk sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat ke sekolah.
Karena dari awal sudah telat bangun, sampai di sekolah pun juga hampir telat. Baru saja mematikan mesin motornya, Asha melihat sebuah mobil keluar dari halaman sekolah TK itu. Dalam hati bertanya-tanya tentang siapa pemilik mobil mewah yang tiba-tiba mendatangi sekolah TK anaknya. Asha hanya bisa menebak mungkin itu adalah adalah tamu dari pihak sekolah, mengingat semua tenaga pengajar di sekolahan itu rata-rata hanya menggunakan motor saja.
"Selamat pagi, Miss. Maaf Bunga telat," ujar Asha saat mengantarkan Bunga sampai di depan kelasnya.
"Selamat pagi juga Bunda. Selamat pagi juga Bunga. Tidak apa-apa. Ayi, sini Bunga!" Miss yang mengajar langsung melambaikan tangannya pada Bunga.
"Bunda Bunga, tunggu!" Miss yang bernama Queen itu menghentikan langkah Asha.
"Iya, Miss. Ada apa?"
"Itu ... saya mau bilang kalau agenda lusa sudah ada yang mendanai, sehingga para orang tua tidak perlu membayar lagi."
Asha merasa sangat terkejut dengan ucapan Miss Queen. Dia tidak tau dengan agenda luas.
"Maaf Miss, agenda apa ya? Kok saya tidak tahu."
"Ah itu ... lusa sekolah ini mau mengadakan refreshing ke kebun binatang. Beberapa jari yang lalu kami telah mengirimkan undangan rapat untuk orang tua. Tapi sayangnya, Bunda kemarin tidak datang, jadi mungkin ketinggalan sedikit informasi," jelas Miss Queen.
"Undangan?" cicit Asha. "Tapi saya tidak mendapat undangan, Miss."
"Ah, mungkin Bunga-nya lupa tidak memberikan sama Bunda. Tapi syukurlah, semua biayanya agenda sudah ada yang mendanai, jadi kitai tinggal berangkat aja."
Astaga ... Bunga ... apakah kamu sengaja melakukan ini, Nak? batin Asha yang sudah bisa menebak jika Bunga tidaklah lupa, melainkan sengaja tidak memberikan undangan itu. Pasti jika ditanya Bunga akan mengatakan jika dia tidak ingin merepotkan Bundanya. Helaan nafas panjang terdengar begitu berat.
"Oh iya Miss, terima kasih informasinya. Untuk kedepannya jika ada sesuatu, tolong beritahu saya melalui pesan WhatsApp Kadang Bunga lupa menyampaikan pada saya," pinta Asha.
__ADS_1
"Oh iya, Bunda. Lain kali akan saya kabari Bunda melalui pesan WhatsApp."