
Waktu begitu cepat berlalu. Kisah cinta yang dahulu pernah mati, kini mulai hidup kembali. Jatuh untuk ketiga kalinya ke orang yang sama. Mungkin itulah yang dikatakan takdir. Sejauh apapun pergi pada akhirnya tetap akan kembali pada orang yang sama.
Luka yang pernah bersemayam selamanya akan membekas, menyisahkan rasa trauma hingga menghilangkan kepercayaan. Namun, demi kebahagiaan buah hatinya, Asha mencoba berlapang dada untuk kembali melanjutkan kisah cintanya yang belum usai. Dan ini adalah kesempatan terakhir untuk Kara. Jika pada akhirnya Kara menggoreskan luka, Asha sudah tidak akan bisa memaafkan Kara untuk yang keempat kalinya.
Mungkin Asha adalah salah satu wanita terbodoh yang mau kembali untuk ketiga kalinya pada orang yang sama. Jika bukan karena anak, Asha sudah tidak mau kembali pada Kara. Semua Asha lakukan untuk menembus rasa bersalahnya pada Bunga yang selama ini telah membuat anaknya tak memiliki seorang ayah.
"Ayah, lusa adalah hari perpisahan Bunga. Ayah akan datang kan?" tanya Bunga saat hendak sarapan.
"Tentu saja ayah akan datang," jawab Kara dengan seulas senyum di bibir.
"Yes ... ayah akan datang. Besok aku akan menujukan ayah pada semua orang agar mereka tahu jika Bunga masih memiliki ayah." Wajah Bunga terlihat begitu bahagia. Namun, tiba-tiba raut wajahnya menjadi redup ketika dia mengingat sesuatu. Dan kini matanya menatap Bundanya yang sedang menyiapkan sarapan untuknya.
"Bunda," panggil Bunga dengan ragu.
"Iya, Sayang. Ada apa?" Asha langsung menyahut.
Sebenarnya Bunga ragu, tetapi dia hanya ingin membantu temannya. Bunga tahu jika hari perpisahannya esok akan ada salah satu temannya yang tidak akan didampingi oleh orang tuanya.
__ADS_1
"Bunga, ada apa, Sayang?" tanya Asha lagi.
"Bunda sebenarnya Bunga mau meminta tolong sama Bunda untuk datang ke acara perpisahan Bunga, tetapi bukan untuk menemani Bunga."
Asha langsung menautkan kedua alisnya. "Maksud kamu bagaimana, Sayang? Jika bukan untuk menemani Bunga lalu menemani siapa? Kan anak bunda cuma Bunga."
"Sebenarnya ada satu orang teman Bunga yang orang tuanya tidak bisa datang. Bunga hanya kasihan dengannya. Bunda mau kan untuk mendampingi dia agar dia tidak merasa bersedih di hari perpisahan nanti?"
Sungguh Asha merasa sangat terharu dengan niat baik putrinya. Dia bisa memikirkan bagaimana perasaan temannya jika tidak ada yang mendampingi saat perpisahannya. Tanpa penolakan, Asha langsung menyetujui permintaan Bunga.
"Iya. Bunda akan datang untuk menemaninya. Tapi ngomong-ngomong orang tuanya ke mana? Apakah dia anak yatim piatu?" tanya Asha yang tiba-tiba merasa penasaran mengapa orang tuanya tidak bisa hadir untuk menemani hari perpisahan anaknya.
Asha menghela napasnya yang terasa sesak. Dan itulah alasan mengapa dirinya selama tidak mau membuka hati untuk pria lain. Belum tentu pria itu bisa menerima anaknya dengan sepenuh hati.
"Kasihan sekali dia. Ngomong-ngomong siapa namanya? Sepertinya Bunda belum mengenal teman kamu yang satu ini. Apakah dia adalah murid baru?"
"Tidak Bunda. Dia teman lama, tetapi dia tidak dekat dengan Bunga. Namanya Alvaro."
__ADS_1
***
Sudah hampir tiga bulan, Asha mengelola usaha laundry sesuai keinginannya. Awalnya Kara tidak menyetujui saat Asha meminta Kara untuk membukakan tempat laundry untuknya. Kara hanya menginginkan Asha mengurus Bunga dan dirinya saja, tetapi Kara tidak ingin membuat sebuah kesalahan dan akhirnya dia pun membangun sebuah ruko besar sebagai tempat usaha laundry untuk Asha.
Seperti biasa setiap pagi Asha akan mengantarkan Bunga ke sekolah terlebih dahulu, sebelum menuju ke tempat ruko. Dan keduanya diantar oleh sopir pribadinya, siapa lagi jika Bukan Kara.
"Bunga, apakah teman kamu sudah tahu jika Bunda yang akan menemaninya untuk hari perpisahan lusa?" tanya Asha sebelum Bunga turun dari mobil.
"Belum, Bunda. Nanti Bunga akan memberitahukannya dulu. Sebelumnya Bunga berterima kasih karena Bunda sudah mau membantunya."
Kapala Asha hanya mengangguk dengan pelan. Senyumnya pun juga ikut mengembang luas. Rasa syukur yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata lagi.
Kara pun langsung menatap Asha dengan kedua garis bibirnya diangkat lebar. Ras syukur karena telah diberikan anak seperti Bunga yang memiliki berjiwa sosial. Mau membantu temannya, sekalipun dirinya sendiri selalu diperlakukan tidak baik oleh Alvaro.
"Sha, terima kasih karena kamu telah mendidik putri kita dengan baik. Lihatlah, di usianya yang masih kecil saja dia sudah memikirkan bagaimana temannya. Sungguh dia mempunyai pemikiran yang jauh lebih dewasa ketimbang usianya." ucap Kara pada Asha yang masih memperhatikan Bunga masuk ke dalam kelasnya.
"Mungkin karena Bunga pernah merasakan rasa sakit sehingga dia tahu bagaimana cara membalut rasa sakit itu. Niat Bunga sungguh sangat mulia," lirih Asha dengan pelan.
__ADS_1
...****...