Kisah Kita Belum Usai

Kisah Kita Belum Usai
BAB 15


__ADS_3

Karena rasa penasaran yang hampir satu malaman mengganggu pikiranku, pagi ini Asha sengaja menunggu Santi di sekolahan. Dia ingin menayangkan beberapa pertanyaan kepada temannya itu mengenai majikannya. Asha hanya ingin memastikan Apakah Kara yang disebut oleh Bunga itu adalah Askara, suaminya atau bukan.


Dan saat mata Asha menangkap Santi sedang menggandeng tangan Sinta, Asha pun langsung memanggil Santi.


"San!" panggil Asha.


Santi yang merasa namanya di panggil langsung menoleh kebelakang. "Asha," gumamnya. "Asha, ada apa?"


"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Asha.


"Bisa. Tapi aku antar Santi ke dalam kelas dulu ya!"


"Oke! Aku tunggu disini ya!" balas Asha.


Asha mengangguk pelan. Dia bersabar untuk menunggu Santi. Dadanya sudah berdebar dengan kencang saat ingin bertanya mengenai majikannya yang di panggil Kara oleh Bunga.


Tak berselang lama, Santi menghampiri Asha yang duduk di atas motornya. Rasanya enggan untuk turun dari motornya.


"Kamu mau ngomong apa, Sha?" Suara Santi telah menyentuh telinganya.


"Em .. itu." Mendadak lidah Asha terasa kelu untuk mengajukan pertanyaan pada Santi.


"Ada apa?" ulang Santi dengan tidak sabar. "Jangan kelamaan! Aku mau kerja. Nanti majikanku marah."


"Iya .. iya. Aku tahu. Aku cuma mau tanya nama majikan kamu. Kata Bunga namanya Kara. Emang lengkap siap sih?"


Santi langsung menautkan kedua alisnya. "Eh, sejak kapan kamu tertarik untuk tahu nama seseorang. Apakah hati kamu sudah mulai terbuka kembali?"


"San, aku sedang serius. Katakan saja siapa nama majikan kamu!" desak Asha yang merasa tidak sabar lagi.

__ADS_1


"Kamu kenapa ngotot banget sih, Sha? Ya udah, biar kamu enggak kepikiran aku kasih tahu tahu nama majikan aku yang paling handsome. Namanya itu Aksara Djawa Lathin. Puas kamu!"


Mendengar nama yang baru saja disebutkan oleh Santi, tubuh Asha terasa lemas. Bahkan lututnya bergemetar dengan kuat. Jantungnya hampir terlepas karena terlalu berdegup dengan kuat.


"Sha, kamu kenapa?" tanya Santi yang menyadari jika saat ini Asha membeku ditempat.


"Sha!" Kini Santi menyenggol lengan Asha. "Kamu kenapa, kayak orang kesurupan?"


Asha yang tersentak langsung menetralkan diri. "Ah, gak apa-apa. Aku hanya heran aja dengan namanya yang unik," kilahnya.


"Iya, emang unik sih. Tapi kenapa kamu tiba-tiba tanya namanya? Jangan-jangan Bunga udah cerita banyak tentang Pak Kara kan? Tapi jangan salah, dia belum sah menduda. Sampai saat ini dia masih mencari istrinya yang hilang. Kasihan banget dia kan? Yah ... mudah-mudahan Pak Kara segera bertemu kembali dengan istrinya," ujar Santi.


Asha terpaksa menyungingkan senyum di bibirnya. "Iya. Semoga saja," ucapnya dengan lesu. "Oh iya, San. Tolong sampaikan terima kasihku, karena kemarin udah antarin Bunga pulang dan makasih juga atas mainannya. Bunga sangat senang."


"Iya. Nanti aku sampaikan. Ya udah, aku duluan ya. Gak enak kalau telat lagi," pamit Santi.


Sepeninggal Santi, tubuh Asha masih terasa lemas. Rasanya sungguh tidak percaya jika Kara yang dimaksud oleh Bunga adalah Kara suaminya, yang tak lain adalah ayahnya Bunga sendiri.


"Ya Allah, begitu sempit kah dunia ini hingga hidupku harus berurusan lagi dengan Kara?"


Tak ingin larut dalam perasaannya, Asha pun langsung beranjak pergi. Saat ini pikiran sedang kacau. Rasanya sangat tidak semangat lagi untuk melakukan pekerjaannya. Karena Asha benar-benar tidak fokus, Asha tak melihat jika ada mobil yang sedang berhenti tepat di depannya.


BRAAKKK


Motor yang dikendarai oleh Asha menabrak ****4* mobil dan membuatnya terjatuh dari motornya. Beruntung saja Asha sedang tidak dalam kecepatan tinggi sehingga dia tidak terluka parah. Hanya luka lecet di kaki dan tangannya yang sempat mencium aspal.


Sang pemilik mobil yang merasakan sesuatu dari belakang langsung turun untuk memastikan apa yang telah terjadi. Betapa terkejutnya dirinya saat mendapati seseorang telah terjatuh di aspal.


"Anda baik-baik saja? Kenapa bisa anda menabrak mobil yang sedang berhenti. Apakah anda tidak melihat tidak melihat lampu yang saya hidupkan. Lihatlah ini, mobil saya penyot," omel sang pemilik mobil.

__ADS_1


Asha yang kesakitan menahan rasa perih langsung mendongak. Betapa terkejutnya saat melihat orang yang sedang berada di depan matanya. Orang yang tak lain adalah Askara.


Dadanya bergemuruh dengan sangat kencang. Bahkan rasa perih yang baru saja di rasakan sudah tak terasa lagi.


Beberapa orang yang melihat langsung mendekat dan berusaha untuk membantu Asha untuk bangkit.


"Mas, langsung dibawa ke rumah sakit aja Takutnya terjadi sesuatu yang parah!" saran dari seseorang yang menolong Asha.


"Ya udahlah, bantuin bawa mbaknya naik kembali saya ya, Pak. Lagian ada-ada aja. Mobil diam malah ditabrak.


"Em ... gak usah. Aku gak apa-apa. Ini cuma lecet biasa. Diolesi salep nanti juga sembuh kok," ujar Asha.


"Udah gak usah nolak, Mbak. Nanti kalau ada apa-apa gimana?" seseorang ngotot membatu Asha untuk naik ke mobil Askara sekalipun dalam keadaan masih memakai helm.


Sekalipun Askara tidak bersalah, dia tetap harus bertanggung jawab pada orang yang telah menabrak mobilnya. Sebenarnya hatinya merasa kesal saat harus bertanggung jawab atas apa yang bukan salahnya.


"Itu helmnya dilepas dulu, Mbak!" kata Askara saat melihat helm yang masih menempel di kepala Asha.


Asha segera memegangi helmnya. "Ah, ini ..."


Asha tak bisa melanjutkan ucapannya karena tangan Askara telah berusaha untuk melepaskannya. "Maaf lancang, tapi lebih baik helmnya dibuka. Biar kamu juga bisa bernapas dengan luas."


Asha memilih pasrah ketika helmnya telah dilepas oleh Askara. Saat ini dirinya tak bisa lari dari kenyataan yang telah mempertemukan kembali dirinya dengan Askara. Asha pun memilih untuk memejamkan matanya saat helm itu benar-benar lepas dari kepalanya.


Deg Deg Deg


Detak jantung yang langsung beredar dengan kuat saat mata Askara bisa melihat dengan jelas siapa wanita yang ada di sampingnya saat ini.


"Asha," ucapnya dengan pelan.

__ADS_1


__ADS_2