
Sudah hampir waktunya Bunga pulang sekolah, tetapi Asha masih berada di rumah sakit. Sebenarnya tidak ada luka yang serius, hanya lecet sedikit karena sempat mencium aspal, tetapi Kara terlalu berlebihan. Tidak dibawa ke rumah sakit pun sebenarnya tidak apa-apa.
"Tidak usah menggendongku, aku bisa jalan sendiri!" Asha menepis tangan Kara saat pria itu hendak membopongnya lagi.
Kara pasrah dan membiarkan Asha jalan lebih dahulu dengan sedikit pincang karena merasa perih di bagian yang lecet.
"Asha, tunggu! Kamu mau kemana? Aku akan mengantarkanmu pulang!" Tangan Kara mencekal tangan Asha yang ingin berlalu meninggalkan Kara begitu saja.
"Aku ada urusan, jadi tolong jangan ganggu aku! Terima kasih sudah mengkhawatirkan keadaanku, tapi aku tidak bisa pergi bersamamu. Aku sudah ditunggu oleh seseorang," ujar Asha.
"Kamu akan bertemu dengan siapa? Biar aku antar!"
"Tidak usah! Aku bisa sendiri!"
"Asha! Kenapa kamu berubah dingin seperti ini, sih? Tujuh tahun kamu pergi begitu saja dan sekarang Tuhan mempertemukan kita lagi, apakah sedikitpun kamu mempunyai rasa rindu padaku? Asha... aku tahu aku salah. Tapi ku mohon, sudahilah hukuman ini. Aku benar-benar sudah tidak sanggup, Sha! Aku ingin menghabiskan masa tuaku bersama kamu dan anak-anak kita." Kara berbicara panjang lebar, tetapi Asha mencoba untuk acuh.
Saat Asha ingin melangkah untuk meninggalkan Kara, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dia pun langsung mengangkat panggilan telepon yang ternyata dari Miss Queen, guru pengajarnya Bunga.
"Iya halo, Miss. Ada apa?" tanya Asha setelah panggilan tersambung.
Seketika tubuh Asha langsung membeku saat mendengarkan apa yang sedang disampaikan oleh Miss Queen. Lidahnya mendadak terasa kelu bahkan tubuhnya terhuyung ke belakang. Beruntung saja Kara segera menangkap tubuh Asha sehingga wanita itu tidak terjatuh.
"Sha, ada apa?" tanya Kara dengan penasaran.
"Ra, ke rumah sakit kasih bunda!" ujar Asha tanpa ekspresi.
__ADS_1
"Iya, aku akan mengantarmu ke sana. Ayo!" Kara pun menuntun pelan tubuh Asha untuk masuk ke dalam mobilnya. Tak ada kata lagi yang keluar dari bibir Asha, tetapi air matanya terus mengalir membasahi pipi. Bahkan Kara sudan mencoba bertanya ada apa, tetap saja Asha bungkam dan malah kian terisak.
"Asha, sebenarnya kamu kenapa, sih? Jangan buat aku mati penasaran," ujar Kara dengan pelan, karena percuma saja bertanya pada Asha karena tidak akan mendapatkan jawabannya.
"Lebih cepat, Ra!" titah Asha dalam isaknya.
Kara pun mencoba untuk mempercepat laju mobilnya agar segera sampai di rumah sakit Kasih Bunda. Entah siapa yang sedang berada di rumah sakit itu sehingga Asha merasa penuh kekhawatiran.
Tak butuh waktu lama, mobil yang ditumpangi oleh Asha pun telah masuk kedalam area parkir rumah sakit. Dan setelah mesin mobil berhenti, Asha langsung bergegas keluar hingga membuat Kara tak bisa berkata-kata lagi.
"Asha, tunggu!" teriak Kara.
Asha tak menghiraukan lagi panggilan Kara. Dia terus berlari kecil sambil menahan rasa perih yang dirasakannya. Karena rasa sakit itu tidak ada artinya lagi dibandingkan dengan rasa sakit yang di rasakan oleh Bunga.
Ya, beberapa menit yang lalu, Miss Queen menghubungi Asha untuk memberitahu jika Bunga sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Miss Queen mengatakan jika Bunga jatuh di sekolahan dan kepalanya terbentur beton. Entah bagaimana keadaan Bunga saat ini, karena Miss Queen tidak mengatakan apa-apa tentang keadaan Bunga.
"Sus, pasien akan TK yang baru saja masuk ada dimana, ya?" tanya Asha langsung pada seorang suster yang sedang berjaga.
"Atas nama siapa, Buk?"
"Atas nama Bunga," jawab Asha dengan bibir yang bergemetar.
"Oh, pasien berada di ruang Melati. Ibu lurus aja, nanti belok kanan."
Setelah mendapatkan jawaban, Asha langsung berlari lagi agar bisa segera sampai di ruangan Melati. Kara yang tertinggal, berusaha untuk mengejar Asha yang kian menjauh.
__ADS_1
Dan ... saat Asha melihat sosok Miss Queen, dia pun langsung menghampiri gurunya Bunga.
"Miss, bagaimana keadaan Bunga?" tanya Asha dengan nafas tersenggal.
"Bunda .... syukurlah Bunda cepat datang. Bunga sedang dalam penanganan tim medis. Tapi .... " Miss Queen menjeda ucapannya.
"Tapi kenapa, Miss? Cepat katakan!" Asha tidak sabar untuk mendengar kata yang dipotong oleh Miss Queen.
"Bunga mengalami pendarahan dan membutuhkan transfusi darah, Bun. Tapi pihak rumah sakit tidak mempunyai stok golongan darah Bunga, karena golongan darah Bunga memang langkah. Tapi syukurlah bunda segera tiba sehingga Bunga bisa langsung mendapatkan transfusi darah," ucap Miss Queen dengan sedikit rasa lega.
Mendengar penjelasan Miss Queen, tubuh Asha langsung luruh ke lantai. Dadanya terasa sesak. Bahkan luka yang berdenyut sudah tak bisa dirasakan lagi.
"Tapi golongan darah saya tidak sama dengan golongan darah Bunga, Miss." Asha terisak dengan penuh ketidak berdayaannya.
"Astaga ... lalu bagaimana ini?" Miss Queen merasa sangat terkejut dengan pengakuan Asha.
"Ada apa ini? Asha, kamu kenapa?" tanya Kara yang melihat Asha terisak dalam tangisnya.
"Pak Aksara," ucap Miss Queen yang sangat mengenali Askara.
Mata Kara langsung menatap wanita yang baru saja mengucapkan namanya. "Miss Queen," balas Kara yang juga masih mengingat wajah Miss Queen. "Miss sebenarnya ini ada apa? Mengapa Asha menangis seperti ini?"
"Jadi begini, Pak. Anaknya Bunda Asha terjatuh di sekolahan dan mengalami pendarahan. Saat ini anak itu sedang membutuhkan transfusi darah, tetapi pihak rumah sakit sedang tidak memiliki golongan darah tersebut karena memang langka. Dan golongan darah Bunda Asha juga tidak sama dengan golongan anaknya," jelas Miss Queen dengan gamblang.
Kara tersentak dengan rasa keterkejutannya. Dia tidak menyangka ternyata Asha telah memiliki seorang anak.
__ADS_1
"Sha, kamu sudah punya anak?" tanya Kara dengan lemah.
~Dah segini dulu. Othor mau masak buat sahur. Sambung nanti siang. Kencengin like dan komen, biar up nya juga kenceng ðŸ¤~