Kisah Kita Belum Usai

Kisah Kita Belum Usai
BAB 18


__ADS_3

"Sha, kamu sudah punya anak?" tanya Kara dengan lemah.


Bibir Asha terasa sangat kelu untuk menjawab pertanyaan Kara. Bahkan suara tangisan Asha mulai terdengar. "Ra ... Bunga ... " isak Bunga dalam tangisnya.


"Bunga ... Bunga kenapa, Sha?" Kara tidak paham dengan maksud Asha.


Dengan rasa sesenggukan, Asha mencoba untuk menatap Kara yang kini sedang berjongkok di depannya. "Bunga butuh donor darah kamu, Ra. Tolongin Bunga, Ra."


"Maksud kamu Bunga anak kamu? Kenapa harus aku? Bukankah dia punya ayah?"


"Iya, Bunga memang punya ayah. Dan ayahnya itu kamu, Kara." Tangis Asha kian menjadi saat dia baru saja mengungkapkan kebenarannya pada Kara.


Tubuh Kara masih membeku. Bahkan pikiran masih loading saat mendengar ucapan Asha yang mengatakan jika dia adalah ayah dari Bunga, yang artinya Bunga adalah anaknya.


"Tunggu ... jika aku adalah ayahnya Bunga berarti Bunga adalah anakku. Itu artinya kamu mengandung anakku. Asha ... kenapa kamu sembunyikan kebenaran ini dariku? Kamu benar-benar sangat keterlaluan, Asha!" Kara pun langsung bangkit, dan segera masuk kedalam ruang dimana Bunga sedang mendapat perawatan dari tim medis.

__ADS_1


Betapa terkejutnya Kara saat melihat gadis kecil yang sangat dia kenali tengah terbaring di ranjang rumah sakit dengan alat bantu pernapasan. Gadis cilik yang selama ini telah dekat dengan dirinya ternyata adalah anak kandungnya sendiri.


"Bunga," lirihnya dengan pelan.


"Maaf, Anda siapa? Mengapa Anda masuk. Tolong keluar!"usir salah satu perawat yang sedang menangani Bunga.


"Aku ayahnya. Aku yang akan mendonorkan darahku untuk anakku," ujar Kara dengan rasa sesak di dalam dadanya. Bagaimana bisa dia tidak bisa untuk mengenali putrinya sendiri, padahal selama ini mereka sudah sangat dekat.


"Bunga ... bertahanlah, Nak. Ini ayah, Sayang."


Karena Kara datang tepat pada waktunya tim medis segera melakukan transfusi darah pada Bunga. Karena Kara adalah ayahnya, tentu saja golongan darahnya cocok dengan Bunga.


Sekalipun selama ini dia yang telah berjuang hidup dan mati untuk Bunga, tetapi semua terasa sia-sia saat dirinya tidak bisa menyelamatkan hidup Bunga. Dan pada akhirnya ayah kandungnya-lah yang berjasa dalam hidup Bunga.


Hening tanpa kata. Asha duduk merenung di ruang tunggu dengan rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata lagi, karena saat ini keadaan Bunga sudah mulai membaik. Entah apa jadinya jika dia tidak bertemu dengan Kara. Mungkin Asha akan memendam penyesalan seumur hidupnya jika sampai terjadi sesuatu pada Bunga.

__ADS_1


Sejak tadi pria yang tak lain adalah ayah kandung Bunga terus memperhatikan Asha tanpa kata. Rasa kecewa yang sangat mendalam. Bisa-bisa Asha menyembunyikan kenyataan yang sebesar ini darinya. Bahkan Asha sama sekali tak mencari dirinya untuk meminta pertanggungjawaban.


"Apa lagi yang kamu tangisi? Bunga sudah baik-baik saja," kata Kara dengan nada datar.


Asha memilih acuh. Rasanya sangat malu untuk mengucapkan kata terima kasih pada Kara yang telah menyelamatkan Bunga.


"Asha, mengapa kamu sembunyikan semua ini dariku? Mengapa kamu berbohong dan mengatakan jika kamu sudah mempunyai keluarga? Sementara Bunga sudah menceritakan keluh kesahnya padaku jika dia tidak memiliki ayah. Apakah Asha pernah berkeluh kasih kepadamu tentang apa yang dialami selama ini? Tenang orang-orang yang telah membully karena dia tidak memiliki ayah? Bagaimana anak sekecil Bunga sudah harus menguatkan mentalnya. Kamu sungguh sangat keterlaluan, Asha!" Kara mengeluarkan unek-unek dalam hatinya karena merasa kecewa dengan Asha yang dianggap egois.


Namun, Asha tetap diam. Wanita itu memilih untuk memejamkan matanya saat mendengar ucapan Kara. Asha menyadari kesalahannya karena terlalu egois dan tidak memikirkan bagaimana mental Bunga saat anaknya harus menghadapi berbagai cemoohan dari orang-orang yang tidak menyukainya.


Bahkan di usianya masih kecil, Bunga sudah mandiri sebelum waktunya. Seharusnya Asha tidak egois. Bagaimanapun Bunga juga membutuhkan peran seorang ayah dalam hidupnya.


"Sha, aku tahu kamu adalah wanita yang kuat. Kamu bisa melewati semua ini seorang diri. Tapi pernahkah kamu berpikir pada Bunga? Di usianya yang masih menginjak 6 tahun dia sudah bisa berpikir dewasa sebelum waktunya. Bagaimana Bunga melewati hari-harinya? Seharusnya waktu Bunga hanya untuk bermain bersama teman-temannya tetapi dia harus membantu Bundanya, karena dia merasa kasian dan tidak ingin melihat Bundanya kelelahan. Bahkan Bunga tidak menginginkan bundanya bersedih. Sebisa mungkin dia menyembunyikan sesuatu yang dianggap memberatkan Bundanya. Tapi apa yang dia dapatkan dari Bundanya?"


Panjang lebar Kara masih mengeluarkan unek-unek yang bersarang dalam dadanya.

__ADS_1


Asha semakin terbungkam dengan ucapan Kara karena apa yang diucapkan oleh Kara memang benar adanya. Asha pun semakin terisak.


"Asha, asal kamu tahu, prioritas utama Bunga adalah Bundanya. Apapun akan dilakukan demi Bundanya. Meskipun aku baru mengenal Bunga, tetapi aku sudah bisa memahami perasaannya. Bunga itu anak yang masih membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Asha, jangan kubur masa kecil Bunga yang tak akan bisa terulang kembali. Jika kamu menyayangi Bunga pulanglah! Pintu rumah sangat terbuka lebar untuk kepulanganmu!" ujar Kara sambil membuang napas kasarnya.


__ADS_2