Kisah Kita Belum Usai

Kisah Kita Belum Usai
BAB 35


__ADS_3

Dan Empat tahun pun berlalu ...


Waktu berlalu begitu cepat. Perlahan Asha mulai berdamai dengan masa lalunya. Menerima kembali perasaan Kara dan mencoba untuk membuka lembaran baru lagi, berharap kali ini Kara dirinya dan juga Bunga. Masalah dalam rumah tangga itu adalah hal yang wajar sehingga butuh kesadaran dari dua belah pihak untuk mengatasinya. Terlebih saat ini sudah ada Bunga diantara mereka. Bahkan semakin hari Bunga semakin dewasa, karena dia telah bisa meminta adik dari ayah dan bundanya.


"Jadi kapan bunda akan memberikan adik untuk Bunga? Saat ini Bunga sudah hampir 10 tahun, tetapi Bunga belum juga mempunyai adik. Padahal semua teman-teman Bunga sudah mempunyai adik," celoteh Bunga pada Bundanya.


Asha yang mendapatkan pertanyaan keramat langsung menelan kasar salivanya. Tidak hanya dari orang-orang yang mengenalnya, tetapi kini dari anaknya sendiri. Kini Asha pun tidak tau akan memberikan jawaban apa, karena Asha takut salah berbicara sehingga langsung di protes oleh Bunga.


"Bunda kenapa diam aja?" Bunga mendesak, ketika Bundanya tak bisa memberikan jawabannya.


"Em .. Bunga yakin sudah mau punya adik? Kalau iya, berarti Bunga harus tidur sendiri karena adik Bunga tidak bisa dibuat kalau Bunga masih tidur bersama ayah dan bunda. Bunga maukan mulai nanti malam tidur sendiri?" Kini Kara memberikan jawaban sekaligus pencerahan kepada Bunga.


"Benarkah? Baiklah kalau begitu mulai nanti malam Bunga akan tidur sendiri, tetapi adiknya harus segera jadi!" tekan Bunga dengan penuh harapan.


"Bunga ... tidak bisa begitu, Sayang! Butuh waktu untuk menghadirkan seseorang adik, karena dia harus hidup di dalam perut Bunda selama hampir 9 bulan lamanya. Jadi Bunga harus bersabar terlebih dahulu, ya!" Asha dll menimpali.


"Kok lama sekali, Bunda. Tapi tidak apa-apa asalkan adik Bunga segera jadi."


Sedikit harapan terpancar dari wajah Kara. Mungkin memang benar Bunga adalah jembatan untuk mempersatukan kisah cintanya. Berkat Bunga dia bisa bersama kembali dengan Asha. Berkat Bunga juga akhirnya dia bisa log in lagi untuk mencetak adik Bunga. Dalam hati Kara terus bersyukur karena telah dihadirkan sosok Bunga sebagai pelengkap hidupnya.


Pipi Asha terasa panas dingin. Terlebih saat Kara terus menerus mencuri pandang kearahnya.

__ADS_1


"Ya sudah, sekarang Bunga habisin sarapannya dan kita akan segera berangkat ke sekolah. Jangan sampai kita terlambat!" perintah Asha.


Bunga pun langsung menuruti perintah bundanya. Dengan cepat dia menghabiskan sarapan yang telah disiapkan.


...***...


Saat ini Bunga telah menjadi seorang siswa di salah satu sekolah dasar. Banyak teman dari berbagai penjuru, karena ayahnya sengaja memasukkan Bunga ke sekolah elit internasional. Bunga adalah satu-satunya harapan Kara, sehingga dia menginginkan yang terbaik untuk anaknya.


Tidak hanya itu saja, Kara juga menyekolahkan Varo di tempat yang sama seperti Bunga. Semua keperluan Varo semuanya di tanggung oleh Kara sehingga dia tak lagi merepotkan orang tuanya. Varo juga tak perlu memikirkan biaya pendidikan sekolahnya, karena Kara telah menjamin hingga ke perguruan tinggi kelak.


Namun, meskipun mendapatkan kebaikan dari orang tua Bunga, bukan berarti Varo akan menerima Bunga dengan baik. Sikap Varo tidak berubah. Dia masih dingin dan ketus lada Bunga, meskipun Bunga mencoba untuk meluluhkan kerasnya hati Varo. Bunga tak merasa putus asa saat selalu diacuhkan oleh Varo. Bagi Bunga itu sudah menjadi makanan sehari-harinya.


Meskipun Varo mendengar tetapi dia memilih untuk mengabaikan panggilan Bunga. Namun, Bunga tak berkecil hati saat Varo mengacuhkan dirinya.


"Varo tunggu! Aaaaaaa ... "


Suara Bunga terdengar melengking dan saat Varo menoleh kebelakang dilihatnya Bunga telah terjatuh di lantai. Tak jauh dari tempat Bunga, ada sebuah bola basket yang masih menggelinding.


Sorot mata Varo langsung menyapu sekitarnya untuk menemukan pelaku yang telah membuat Bunga terjatuh. Dan pakaian olahraga, Varo sudah bisa menebak jika mereka adalah orang yang telah Bunga terjatuh.


Bukanya menolong Bunga, Varo malah melemparkan bola itu pada tiga orang yang berada di lapangan. Lemparan yang sangat tepat, karena mengenai kepala salah satu diantara ketiganya.

__ADS_1


"Hei, kenapa kamu melempar bola ini pada Denis?" tanya salah satu di antara mereka.


"Maaf, aku tidak sengaja. Aku hanya mengembalikan bola milik kalian yang tadi sempat mengenai anak itu!" Tangan Varo menunjuk kearah Bunga yang saat ini sedang berusaha untuk bangkit.


"Berarti kamu memang sengaja melemparkan bola ini ke Denis!"


Varo tetap tenang meskipun saat ini dia sedang menjadi pusat perhatian dari beberapa orang.


"Oh, berarti kalian juga sengaja melempar bolanya kepada anak itu? Iya kan?" tanya Varo dengan sinis.


Seketika tiga orang kakak kelasnya terdiam dengan tebakan yang diberikan oleh Varo. Ketiganya memang sengaja melempar Bunga dengan bola basket, karena mereka tidak menyukai Bunga yang selalu menjadi kebanggaan sekolah. Bunga yang pandai dan Bunga yang berprestasi sehingga membuat banyak guru-guru dan teman-teman yang sayang padanya sehingga menyingkirkan Denis yang dulunya adalah kebanggaan dari semua orang.


"Dasar beraninya hanya sama anak perempuan. Dasar cemen!" cibir Varo yang kemudian memilih untuk meninggalkan ketiganya.


Matanya mulai berkeliaran mencari Bunga sempat terjatuh. Dan saat matanya menangkap Bunga sedang di kerubungi teman-temannya, Varo pun mendekat.


"Kamu tidak apa-apa?" tanyanya pada Bunga yang masih menggosok pelipisnya.


"Tidak. Aku tidak apa-apa," balas Bunga dengan gelengan kepala.


...***...

__ADS_1


__ADS_2