
Acara perpisahan akhirnya berjalan dengan lancar, meskipun ada sedikit kendala karena harus menunggu Varo. Beruntung, bocah itu masih bisa dibujuk dan bisa mengikuti acara perpisahan.
Dengan didampingi Asha, Varo maju ke depan untuk memberikan sebuah piagam kepada Asha. Seharusnya piagam itu diberikan kepada ibunya, tetap apa daya karena sebuah keadaan Varo terpaksa memberikannya pada Asha selaku orang yang menjadi wali untuknya.
Dan pada sesi terakhir adalah sesi pemotretan. Dimana semua murid melakukan foto bersama dengan keluarganya.
Wajah bahagia pun terpancar saat Bunga bisa melakukan foto bersama dengan ayah dan ibunya. Namun, satu sisi lain dia merasa bersedih saat melihat Varo memilih untuk menjauh pergi.
"Ayah, Bunda ... bagaimana kalau kita mengajak Varo untuk ikut berfoto juga? Kasihan tidak ada yang mengajaknya berfoto," celetuk Bunga secara tiba-tiba.
Tanpa pikir panjang Asha segara turun dan menghampiri Varo. Bocah yang seharusnya masih mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya malah diabaikan begitu saja. Asha sangat tahu bagaimana perasaan Varo saat ini.
"Varo ... kenapa kamu pergi? Kita kan belum mengabadikan foto kita. Ayo kita foto dulu!" ajak Asha saat mendekati Varo.
Mata bulat nan hitam itu langsung menatap Asha. "Untuk apa diabadikan? Tante kan tahu jika keluargaku tidak ada yang datang."
"Meskipun keluarga kamu tidak datang tetapi setidaknya tante adalah wali yang mendampingi kamu saat acara tadi. Jadi anggap saja Tante ini adalah keluarga kamu, bukan begitu?"
__ADS_1
"Tapi aku bukan keluarga tante!" proses Varo dengan datar.
Asha masih berusaha untuk Varo. Sebagai seorang ibu dia tahu bagaimana saat harus menghadapi anak seperti Varo.
"Tidak apa-apa. Meskipun kamu bukan anak tante, tapi tante akan menganggap kamu seperti anak tante, karena kamu adalah teman Bung." Asha berusaha untuk tersenyum, meskipun rasanya ingin menyerah.
"Tapi aku bukan teman Bunga, karena aku selalu menjahati Bunga setiap hari."
"Kata siapa kamu bukan temannya Bunga? Buktinya saja Bunga yang meminta tante untuk mendampingi kamu di acara perpisahan ini. Itu artinya kamu adalah teman Bunga. Ayo kita foto!"
"Tidak mau Tante! Aku takut sama ayahnya Bunga!"
"Kamu tenang saja, ayah Bunga tidak makan orang kok. Dia baik, asalkan kamu tidak menjahati Bunga lagi."
Akhirnya dengan berbagai pertimbangan Varo pun akhirnya luluh akan bujukan Asha, karena mengingat ucapan Miss Queen beberapa jam lalu jika dia harus membuktikan pada dunia jika dia adalah anak hebat. "Baiklah, Varo mau."
Dua garis simpul mengembang luas. Dengan napas lega, Asha menuntut Varo untuk naik keatas panggung yang telah disediakan. Bunga yang melihat langkah Varo mendekat merasa sangat bahagia, karena akhirnya temannya itu tidak merasa sendirian.
__ADS_1
Merasa jika saat ibu Bunga terus saja memperhatikan, Varo langsung menatap Bunga dengan tatapan tajam. "Kamu kenapa melihatku seperti itu? Apakah kamu ingin menertawakanku? Tertawalah, aku tidak apa-apa!" sentak Varo dengan sinis.
"Varo, bisakah untuk satu hari ini saja kamu tidak marah-marah kepadaku? Aku melihatmu seperti ini karena aku merasa sangat bahagia bisa berfoto denganmu dalam satu bingkai, mengingat kamu yang selalu membullyku. Kelak foto ini akan mengingatkan kita saat kita dewasa nanti. Ku harap saat dewasa nanti kamu akan mengingat jika aku adalah satu-satunya orang yang kamu benci disekolah ini. Pasti kamu akan tertawa jika mengingatnya." Bunga berbicara panjang lebar. Sedangkan Varo memilih diam.
Dalam hati Varo berdoa jika setelah perpisahan ini dia tidak lagi bisa bertemu dengan Bunga untuk selamanya.
"Kamu tidak usah kepedean, Bunga! Karena kamu adalah satu-satunya orang yang akan segera aku lupakan setelah ini. Mending kamu belajar yang bener dan jangan suka ikut campur pada urusan orang lain!"
Kara dan Bunga semakin merasa bangga dengan pemikiran putrinya. Bahkan setelah ini Kara memutuskan untuk memasukan Bunga ke sekolah internasional agar bisa mengembangkan kecerdasan dengan lebih baik lagi.
"Varo, sebelum pulang bagaimana kalau kita mampir terlebih dahulu untuk makan siang dan bermain sebentar saja? Ya, itung-itung juga sebagai perpisahan antara kalian berdua, bagaimana?" yang Asha dengan penuh harap.
"Iya, kamu ikut aja, Varo! Bukankah di rumah kamu juga tidak punya kegiatan?" timpal Kara.
"Sudah ikut saja. Ayah dan Bundaku sangat menginginkan kamu untuk ikut. Varo ... untuk kali ini saja!" Bunga mengiba pada Varo.
Varo yang membenarkan apa yang dikatakan oleh ayah Bunga pun langsung mengiyakan saja. Toh di rumah dia hanya akan menjadi kambing hitam akan kesalahan yang dibuat oleh kakak tirinya.
__ADS_1
"Baiklah, aku ikut."
...****...