
Karena hari sudah sore, Bunga memutuskan untuk pulang karena dia tidak ingin Bundanya repot sendiri untuk mengangkati pakaiannya.
"Sin, aku pulang, ya!" ujar Bunga setelah selesai mengemas mainan milik Sinta.
"Iya. Kamu hati-hati di jalan ya! Jangan sampai keserempet mobil lagi," pesan Sinta.
"Iya." Bunga pun langsung meninggalkan rumah Sinta dan berjalan pelan. Karena sudah pernah terserempet mobil, dirinya sedikit takut saat melihat mobil yang melintas. Padahal mobil yang melintas melaju dengan sangat pelan, karena tahu jika sedang melewati pemukiman warga.
Tinn ... Tinn ... Tinn
Suara klakson membuat Bunga terkejut dan langsung meminggir ke pinggir jalan, karena saking takutnya akan terserempet lagi. Namun, saat mobil sudah sejajar dengan langkah Bunga, mobil itu berhenti dan kaca mobil pun langsung di buka.
Bunga yang terus mengamati merasa tak asing saat melihat siapa yang berada di dalam mobil itu. "Om Kara," gumamnya.
Tanpa kata, tangan Askara melambai pada Bunga. Bahkann Askara langsung membuka pintu mobil dan memberikan isyarat agar Bunga mendekat.
Dengan pelan Bunga pun mendekat ke pintu mobil yang telah dibuka oleh Askara.
"Kamu darimana?" tanya Askara saat Bunga telah mendekat.
"Dari rumah temen, Om."
"Om antrian pulang ya?" tawar Askara.
__ADS_1
"Kan Om Kara udah tahu kalau mobil enggak bisa masuk ke jalan kompleks, Om!" Bunga mengingatkan Askara jika jalan gang untuk masuk ke rumahnya tidak bisa dilewati dengan mobil.
"Oh iya, Om lupa. Ya udah Om antrian pakai motor ya? Tapi Om ambil dulu motornya. Rumah Om di belakang kompleks ini. Naik dulu sini!"
Bunga masih belum bergerak karena dia masih bintang apakah dia akan ikut dengan Askara atau tidak. Padahal jarak rumahnya dengan rumah sinta tidaklah jauh, hanya beda gang saja.
"Udah gak usah kebanyakan mikir. Om bukan orang jahat kok. Ayo naik!" tegas Aksara untuk meyakinkan Bunga.
Dengan helaan nafas berat, Bunga pun memutuskan untuk naik kedalam mobil Askara. "Tapi jangan lama-lama, ya Om! Ini udah sore. Udah waktunya bunda angkat jemuran," ujar Bunga.
"Kamu suka bantuin Bunda kamu ya?" Aksara semakin tertarik dengan Bunga yang selalu memikirkan Bundanya.
"Iya, Om. Kasihan Bunda nggak ada yang bantuin," jawab Bunga apa adanya.
"Memangnya ayah kamu kemana?"
"Tapi apa?" Askara semakin merasa penasaran dengan cerita Bunga. Andaikan saja dia dan Asha masih bersama dan dikaruniai anak, mungkin saja anak itu akan seusia dengan Bunga, terlebih saat melihat wajah Bunga rasanya Askara seperti sedang melihat Asha. Itu sebabnya mengapa askara tertarik saat bertemu dengan Bunga.
"Tapi banyak orang yang mengatakan kalau Bunga itu tidak memiliki ayah. Katanya Bunga anak haram."
Mendengar pengakuan Bunga, hati Askara terenyuh. Dalam usia yang masih kecil Bunga sudah harus menghadapi bully-an dari orang-orang disekitarnya. Pasti tidak mudah untuk menghadapi bully-an itu. Sejenak, Askara pun terdiam. Entah apa yang akan terjadi jika ternyata Asha melahirkan anak tanpa dirinya. Akankah nasibnya sama seperti Bunga?
"Kamu enggak usah pikirin apa yang dikatakan sama orang-orang. Cukuplah kamu dengarkan kata-kata Bunda kamu. Di dunia ini tidak ada anak haram. Semua anak itu sama-sama suci. Jadi jika ada yang mengatakan Bunga anak haram, berarti mereka bodoh dan tidak pernah bersekolah," hibur Askara.
__ADS_1
Tak berapa lama, mobil Askara telah masuk ke salah satu rumah yang cukup luas. Bahkan saat pintu gerbang dibuka, Bunga merasa takjub dengan apa yang dilihatnya.
"Wah ... serius ini rumah Om Kara?" Mata Bunga begitu berbinar saat melihat kemegahan rumah Askara.
"Iya. Ini rumah Om. Ayo kita turun dulu!"
Bunga pun mengikuti ajakan Askara untuk turun. Baru saja ingin masuk kedalam rumah, mata Bunga melihat mamanya Sinta sedang menyapu. "Itukan mamanya Sinta," ujar Bunga.
Mata Askara pun mengekor untuk melihat salah wanita yang sedang menyapu halamannya. "Kamu kenal dia?"
"Iya.Tante Santi itu mamanya teman Bunga, Om. Bunga juga baru pulang dari rumahnya Sinta."
Askara pun hanya mengangguk pelan dan langsung mengajak Bunga untuk masuk ke dalam rumah. "Wah ... ternyata yang dikatakan oleh cinta itu benar. Om Kara itu kaya dan rumahnya juga kayak istrinya di negeri dongeng," ujar Bunga dengan polos.
Askara hanya tertawa saat mendengar celotehan Bunga. Mungkin anak-anak seusia Bunga akan mengatakan hal yang sama jika rumahnya hampir menyerupai seperti istana negeri dongeng.
"Bi Sumi!"
Tak Berapa lama wanita yang dipanggil Bi Sumi langsung berlari kearah Askara. "Ya, Tuan. Ada apa?"
Namun saat melihat sosok Bunga di samping Askara, Bi Sumi sangat terkejut, karena wajah anak itu hampir menyerupai wajah Asha, istri dari majikannya.
"Ini siapa, Tuan? Kenapa mirip dengan—"
__ADS_1
"Bi, tolong temani Bunga sebentar, ya. Aku ingin ganti baju dulu!" Askara pun memberikan sebuah isyarat kepada Bu Sumi agar tidak bercerita apa-apa kepada Bunga.
"Baik, Tuan." Bi Sumi pun langsung membawa Bunga ke dapur, karena saat ini dia sedang memasak.